
Sofie merintih kesakitan, akibat kelelahan dan tertekan jiwanya ia mengalami pendarahan hebat.
dokter mengumpulkan keluarga Sofie untuk merundingkan tindakan lanjut untuk menyelamatkan nyawa Sofie
"Jadi dok, bagaimana kondisi anak saya? tanya Prakoso ketika kedua orang tua Sofie dan dirinya serta istrinya sudah berada di ruangan dokter
"Jadi begini pak, putri bapak banyak kehilangan darah, kami sudah berusaha menghentikan pendarahan, namun sepertinya pendarahan yang di alami bu Sofie bukan hanya pendaraan biasa, kami perlu persetujuan pihak keluarga, terutama saya perlu berbicara dengan suami pasien"
"Apa tidak bisa di wakilkan oleh kami sebagai orangtua pasien"
"bisa saja pak, tapi dengan surat pernyataan, kondisi bu Sofie perlu tindakan secepatnya. dan Saya mohon maaf dan turut berduka, kita hanya bisa memilih salah satu yang akan di selamatkan, pasien atau anak nya,
Jika kita selamatkan pasien maka anaknya tidak bisa kita selamatkan melihat kondisi bu Sofie yang lemah dan banyak mengeluarkan darah, serta adanya komplikasi lain.
jika kita menyelamatkan pasien, kemungkinan pasien akan bisa melewati masa kritis, pendarahan yang di alami bu Sofie juga di akibatkan adanya kista yang pecah dan harus segera di operasi, jika tidak nyawa pasien dalam bahaya"
kedua orang tua Sofie menangis menerima kenyataan pahit yang menimpa putri mereka, tak terkecuali Prakoso dan istrinya.
"Lakukan yang terbaik dok, saya mohon selamatkan putri kami, berapapun akan saya bayar"
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, silahkan bapak menyelesaikan administrasi dan surat peryataan, kami akan segera mengoprasi pasian setelah semua dukumen nya lengkap"
"Terima kasih dok" ucap Prakoso, lalu mereka semua berpamitan keluar ruang dokter.
"Jeung, sabar ya, kita sama-sama doakan yang terbaik untuk anak kita" ucap bu Prakoso memeluk besannya.
Sri, ibu kandung Sofie menangis dalam pelukan besannya, mereka menangis sambil berpelukan.
__ADS_1
Prakoso lalu mendekati Bimo yang terpukul dengan keadaan putri semata wayang nya.
"Putri kita pasti bisa lewatin semua " ucap Prakoso yang dibalas anggukan lemah Bimo
Sementara di tempat lain
Andy kedatangan tamu yang tak lain adalah Risya, walau Andy terkejut dan bingung akan kedatangan Risya, namun Andy berusaha biasa saja
"Maaf kak, Risya mengganggu kak Andy.
Risya kesini nyari kak Ido, apa kak Ido ada di sini? "
"Ido sudah lama gak kesini Risy, tumben sampai di cari gitu ada urusan penting apa?
"Kak Sofie masuk rumah sakit" ucap Risya tanpa menutupi rasa cemasnya
"A.. apa kamu sudah menghubungi ponselnya? "
"Sudah kak, tapi enggak aktif, makanya Risya berfikir kalau kak Ido disini"
Risya memceritakan semua kejadian yang dialami oleh Sofie sampai harus operasi dan kehilangan anak dal kandungannya.
"Ido baj*ngan, kemana loe pakai matiin ponsel, apa... " gumam Andy dalam hati
"Ayo ikut gue sekarang" ucap Andy langsung berjalan meraih jaketnya yang berada di Sofa
"Kita naik motor saja biar cepat kak" usul Risya yang diangguki oleh Andy, mereka lalu melesat menuju apartemen Veronica dengan arahan Andy.
__ADS_1
Hanya memakan waktu lima belas menit karena Risya mengendarai motornya sepertj orang kesetanan, dan kini mereka sudah berada di depan pintu apartemen Veronica.
Andy menekan bell dan tak lama keluar lah Ido hanya menggunakan handuk kimono
"Dasar binatang loe, udah gue peringatin berapa kali tapi manusia gak punya otak loe" cerocoa Risya yang melihat keadaan Ido
Sementara Andy dengan geram langsung menghadiahkan bogem mentah ke arah Ido, membuat Ido yang tidak menduga akan di hajar Andy, jatuh terjengkang dengan sudut bibir mengeluarkan darah
"Apa-apaan kalian" teriak Ido marah
sementara Veronica menjerit kaget melihat kekasihnya di hajar oleh sahabat dan adiknya sendiri
"Hentikan please, tolong hentikan atau Ido akan mati" teriak Vero histeris
"Dia hidup pun gak berguna, manusia sampah" teriak Risya
"Tolong jelaskan sama gue, jangan main hakim sendiri" ucap Veronica menghalangi tubuh Ido
"Gue sungguh kecewa sama loe Vero, gue pikir loe wanita baik-baik, tapi kelakuan loe udah nyakitin kaum loe sendiri.
loe buat seorang wanita lain yang sah secara hukum dan agama harus kehilangan anaknya" teriak Andy sudah tidak bisa mengontrol emosi nya
Veronica jatuh terduduk, ia lalu menangis
Andy berjalan menuju meja tamu, lalu meraih kunci mobil Ido, sementara Risya langsung menyeret Ido yang sudah tak berdaya.
Veronica hanya bisa memandang tak berdaya, ia menatap Andy, namun Andy membuang muka karena merasa jijik dengan nya.
__ADS_1