
Risya menghampiri Tania yang sedang menyiram tanaman, ia memberanikan diri untuk mengatakan kondisi Ido, walau bagaimana pun ia tak bisa terus menyembunyikan hal tersebut dari mama nya.
Risya menarik nafas, menghimpun semua keberaniannya, lalu berjalab menuju mama nya
"Pagi mamaku yang cantik"
"Pagi sayang, pasti ada mau nya nih anak mama, pagi-pagi sudah muji mama nya"
"Hehehe mama beneran cantik kok, kalau g cantik mana mungkin punya anak setampan Risya" ucap Risya memegang dagu nya sendiri
"Iya iya mama percaya" ucap Tania mengacak-acak rambut putra bungsu nya.
"Ma, mama sibuk gak?, Risya mau ngoming sesuatu"
"Kalau kamu minta uang, mama saat ini belum ada uang sayang"
"Uh mama, Risya bukan minta uang ma.
Risya kan sudab kerja, harusnya Risya yang nyukupin mama" ucap Risya bergelayut manja pada mama nya
"Makasih ya sayang, kamu memang anak mama yang paling berbakti, kalau saja kakak mu seperti kamu, betapa bahagia nya mama"
"Maa, kak Ido pasti akan berubah kok ma, kita banyak berdoa untuk kak ido, agar Allah kasih petunjuk sama kak Ido"
"Iya sayang. mama selalu berdoa.
Mama berharap di sisa umur mama bisa melihat anam-anak mama jadi orang sukses dan soleh. "
"Amiiinnn"
"Ma... Risya mau ngomong sama mama, tapi sebelum nya mama jangan kaget ya"
__ADS_1
"Kenapa? Hilda hamil? atau kamu kenapa? " tanya Tania panik memnbuat Risya menghela nafas.
Ia tak tahu apakah nanti kabar yang disampaikan nya bisa membuat mama nya shock atau tidak.
"Maaa, denger dulu dong ma, mama sudab menduga-duga aja sebelum Risya selesai bicara" ucap Risya kesal lalu bersedekap tangan membuat Tania diam lalu tertawa
"Iya, iya maafin mama ya.
semenjak papa gak ada, mama bawaan nya kawatir terus"
"Risya tahu mama kuat, kita sama-sama saling menguatkan" Tania mengangguk lemah.
Tania acap kali masih sering panik dan sedih.
ia merasa bersyukur karena memiliki anak yang berbakti dan selalu menenangkan dirinya.
"Ma, Risya mau ngoming tentang Kak Ido"
"Gak ma, kak Ido, kak Ido... "
"Ido kenapa? cepet ngomong sama mama"
"Sebaiknya sekarang mama ikut Risya" ucap Risya tak mampu menyelesaikan kalimatnya.
Ia bingung harus berkata apa.
Tania mau menanyakan dengan jels, namun melihat putra nya meminta ia ikut dengannya pasti nya telah terjadi sesuatu pada anak sulungnya.
Walau beberapa waktu lalu ia sudah mengucapkan kata-kata kasar pada Ido, namun jauh di lubuk hatinya, ia merasa menyesal.
Tania hanya ingin Ido sadar dan bertaubat.
__ADS_1
Tak beberapa lama kemudian, Risya dan Tania sudah berada di kendaraan nya, mereka menuju runah sakit, tempat Ido dirawat.
"Risy, apa kakakmu baik-baik saja? mama, mama takut Risya"
Suara Tania bergetar, mata nya berkaca-kaca.
Risya mengerti ketakutan yang dirasakan mama nya, masih terekam di kepalanya beberpaa bulan lalu ia baru saja kehilangan papa nya.
"Ma ayo turun" ucap Risya lembut, membuka pintu mobil mama nya
Tania hanya diam, ia menatap nanar rumah sakit di depannya.
Tania mengandeng mama nya, ia berusaha memberikan kenyamanan pada mama nya.
Perlahan mereka memasuki rumah sakit dan langsung menuju kamar rawat Ido.
Sesampai nya di sana, Ido baru saja selesai cuci darah, dengan telaten Hilda menyuapi Ido yang terlihat pucat dan berkeringat dingin.
Tania menutup mulutnya, ia terkejut melihat kondisi putra nya yang sangat memprihatinkan.
Putra yang aman di sayangi nya kini tak ubahnya seorang pesakitan, lemah tak berdaya dengan tubuh kurus
Tania berlari ke arah Ido, Hilda yang melihat kedatangan calon suami nya dan mama nya lalu bangkit dari duduk nya
Tania membelai wajah Ido yang terpejam dengan ujung alis yang bertaut, tanda ia sedang menahan rasa sakit.
"Huhuhu, Ido mengapa kamu jadi begini nak?, apa yang terjadi pada kamu?" ucap Tania langsung berurai air mata
Ido yang terpejam sontak membuka mata nya, ia terkejut mendapati mama nya sedang memeluknya sambil menangis
"Mama" ucap Ido lirih
__ADS_1