Aku Yang Tersakiti

Aku Yang Tersakiti
Tutup buku II


__ADS_3

Satu minggu kemudian


Kondisi Ido mulai berangsur membaik,


Hari ini Ido di jadwalkan akan melakukan operasi pemasangan alat cuci darah.


Sementara Risya sudah mendapat izin calon istrinya untuk mendonorkan ginjalnya, namun sayangnya, ginjalnya tidak cocok, sehingga Ido harus cuci darah.


Risya terus mendampingi Ido, memberi kan semangat, Hingga pagi ini akan menjalani operasi ke dua berupa pemasangan alat cuci darah, Risya tetap di samping Ido, menemani hingga pintu ruang operasi


"Kak, kakak harus kuat ya, harus sembuh.


mama sudah menunggu kak Ido dirumah, beliau sudah sehat dan beraktivitas.


mama kangen kak Ido"


"Kakak juga kangen mama, alhamdulillah kalau mama sudah sehat, kak Ido percaya kamu bisa jaga mama"


"kita sama-sama jaga mama kak, makannya kak Ido sehat dulu.


kak Sofie sudah mengurus penangguhan tahanan kakak, kak Ido akan jadi tahanan luar"


"Ya Tuhan, aku yang sudah banyak menyakitinya, mengapa ia masih mau membantuku. Aku sudah menyia-nyiakan wanita yang berhati malaikat, bodohnya aku.


Maafkan aku Tuhan, Ampuni segala dosa-dosaku" gumam Ido dalam hati


Ia menatap Sofie yang ikut mengantar nya keruang operasi, lalu berkata


"Terima kasih" tanpa suara yang dibalas anggukan Sofie.


Suster membawa Ido menuju ruang Operasi, kini tinggal Risya dan Sofie menunggu di kursi dalam ruangan tunggu.

__ADS_1


"Sebaik nya kita banyak berdoa untuk kelancaran dan kesembuhan Ido, kamu yang tabah.


Allah punya rencana dibalik semua ini"


"Iya kak, makasih banyak.


Kalau gak ada kak Sofie, gak tahu Risya harus bagaimana, makasih kak"


" Sama-sama Risya. Kamu sudah kakak anggap adik kak Sofie, jadi gak perlu sungkan" mereka berpegangan tangan tersenyum.


"Kak, maaf kalau pertanyaan Risya kurang pada tempat nya dan tidak sopan.


Tapi Risya harus menanyakan ini.


Kak Ido terkena penyakit spilis, kakak sudah periksa kondisi kak Sofie belum?


Risya takut kak Sofie tertular, karena menurut dokter kak Ido sudah lama terjangkit penyakit ini, hanya ia tak menyadari nya"


"Kak Sofie sudah periksa ke dokter dan hasilnya, alhamdulillab kakak negatif.


Ido juga tidak pernah meminta, mungkin saat itu ia sudab menyadari penyakitnya, namun ia tak pernah peduli"


"Alhamdulillab kak, Risya lega.


Maaf kalau Risya baru sempat menanyakan sekarang"


"Kak Sofie senang, ternyata adik kakak yang ganteng ini sungguh perhatian" ucap Sofie mencubit hidung bangir Risya


"Iya dong Risya hehhe" ucap nya berbangga diri


"Ngomong-ngomong kamu sudah coba memberitahu mama belum tentang kondisi kakakmu? "

__ADS_1


" Belum kak, Risya bingung bagaimana memyampaikan nya sama mama"


"Sampaikan pelan-pelan, lihat situasi. mood mama bagus, baru kamu kabarkan jika Ido di rawat"


"Iya kak, segera setelah kak Ido di operasi hari ini. Risya yakin, dalam hati mama pasti sangat rindu kak Ido. "


"Itu pasti Risya, suatu saat kamu juga akan mengerti bagaimana perasaan orangtua pada anaknya. tak ada orangtua yang benar-benar benci pada anaknya, mungkin saat itu mama hanya sedang emosi sesaat, kakak yakin mama menyesali perkataan nya.


Mama hanya ingin Ido sadar dan kembalu ke jalan Nya"


"Iya kak, Risya juga percaya itu"


Setelah satu jam setengah akhirnya operasi Ido berjalan lancar, Ido di bawa kembalu ke ruang perawatan, esok adalah perdana bagi nya untuk menjalani cuci darah.


Tak lama kemudia Ido tertidur karena efek obat, Sofie kembali kerumah Prakoso, sedang Risya digantikan Hilda berjaga.


Risya merasa bersyukur mempunyai calon istri yang pengertian, baik hati dan dewasa.


Hilda sengaja memgambil cuti untuk bergantian menjaga Ido.


Sofie memasuki rumah dan mendapati Prakoso dan istrinya yang sedang duduk di ruang keluarga


"Assalamu 'alaikum.


Mama, papa, tumben belum tidur" tanya Sofie sambil mencium punggung tangan kedua orangtua nya.


"Wa 'alaikum salam.


belum sayang, kami menunggu kamu.


Kamu udah makan belum? lihat itu wajah kamu pucat sekali, ayo mama temenin makan dulu, baru nanti kita bahas sesuatu"

__ADS_1


"Bahas apa sih mah? " tanya Sofie menyelidik


"Ayo makan dulu" ucap Prakoso, lalu mama mendorong Sofie menuju ruang makan.


__ADS_2