
"Ya Ampun gue lupa kasih tau loe Do, Sofie gak bisa datang, dia Sabtu masuk gawe"
"Ah percuma dong gue ke villa nya si Ricky kalau gak ada Sofie"
"Kenapa gak loe aja yang ketempat gawean nya?
"Tumben loe pinter"
"Sue loe" ucap Andi melempar serbet di sampingnya kearah Ido
"Udah cepetan loe makan terus kita ketempat gawean Sofie" ucap Ido gak sabar
"Loe mau ke villanya Ricky apa mau ke tempat gawean Sofie sih sebenarnya?"
"Zzzz lebih baik loe makan deh tuh sarapan loe, biar gizi loe sampe ke kepala"
"Gue tiap hari makan makanan bergizi tau! " protes Andi
"Iye, tapi kaga sampe ke kepala" ucap Ido dalam hati karena dongkol sohibnya satu ini lodingnya lama
Setelah mereka selesai sarapan, lalu menuju tempat kerja Sofie, padahal waktu masih menunjukan pukul sepuluh pagi.
"Bukan nanti-nanti aja, masa kita jadi security sih disini. Sofie Sabtu gini paling pulang setengah harj sekitar jam satu siang, terus kita ngapain dong? "
__ADS_1
"Nunggu sekalian cari jodoh buat loe" ucap Ido tertawa
"kalau mau cari cewe ke mall atau ketempat hiburan malih, bukan ke kantor gini" dengus Andi kesal namun tidak bisa melakukan apa-apa, ia lalu sibuk dengan ponselnya menghilangkan suntuk karena menunggu
Hampir dua jam mereka berada di parkiran, belum nampak batang hidung Sofie sama sekali dan Andi mulai bosan
"Mau sampai kapan kita disini? serasa jadi mata-mata gini"
"Cerewet, nanti loe gue traktir makan, apa aja yang loe suka"
"Beneran Do? ok lah kalau begitu" Andi langsung membungkam mulutnya dan kembali sibuk dengan ponselnya.
Tak berapa lama kemudian senyum Ido mengembang, ia melihat sesosok gadis berjalan keluar kantornya di ikuti oleh teman-temannya, Sosok tersebut tak lain adalah wanita yang sangat di cintai oleh Ido, Sofie.
Sofie terlihat tertawa lepas dan bahagia, membuat Ido ikut tersenyum, lalu membuka pintu mobilnya, namun swnyumnya langsung lenyap melihat seorang laki-laki yang mendekati Sofie, lalu membukakan pintu untu Sofie di sebelah kemudi.
Ido juga melihat jelas bagaiman cara si pria tersebut memperlakukan Sofie, hingga memasangkan sabuk pengaman pada Sofie, sebelum mereka melajukan kendaraannya.
Ido terpaku diam dan membisu, tangannya mengepal karena menahan cemburu.
Ido bisa meraskan jika laki-laki itu menyukai Sofie.
Setelah Kendaraan yang di tumpangi Sofie dan kawan-kawannya jalan, Ido bergegas masuk lagi ke dalam mobilnya dan mulai mengikuti mobil tersebut hingga mereka berhenti di sebuah restoran keluarga.
__ADS_1
Ido kembali melihat pemandangan yang membuatnya makin emosi karena dibakar rasa cemburu.
Dengan Sigap si pria membukakan pintu mobil dan membantu Sofie keluar dari kendaraan, lalu mereka masuk kedalam restoran tersebut.
"Jadi kita akan makan disini Do? " Tanya Andi riang, namun Ido tak mengindahkan ucapan? Andi, ia langsung berjalan masuk meninggalkan Andi yang setengah berlari mengikuti Ido masuk kedalam restoran, mereka lalu memilih tempat yang agak tertutup, namun masih bisa melihat dan mendengar percakapan Sofie dan kawan-kawannya
"Do, itu bukannya bokin loe si Sofie? kenapa kita gak nyamperin aja sih? malah duduk disini? " Tanya Andi bingung, Ido tetap diam tak menggubris ucapan Andi, membuat Andi kesal dan bersikap masa bodo, yang penting ia makan gratis sampai kenyang
Ido hanya memesan juice alpukat dan fokus melihat dan mendengar ketempat dimana Sofie duduk.
Tangan Ido mencengkram erat gelas juice nya tak kala si pria yang bersama Sofie memprokramirkan dirk sebagai kekasih baru Sofie.
Ido meradang, ia merasa di khianati, kecewa dan sakit hati.
Ido setia menanti Sofie kembali padanya, memberi Sofie waktu menenangkan diri, namun setelah setahun lebih berlalu malah Sofie tidak menunjukan itikad kembali, dan kini Ido mendapati Sofie malah membuka hatinya untuk lelaki lain, sementara Ido setia hanya menunggu cinta Sofie.
Ido membanting gelasnya, lalu bangkit menuju kasir menyerahkan beberapa lembar uang, lalu ia pergi menuju parkiran.
Andi yang terkejut langsung mengikuti arah pandangan Ido, dan melihat Sofie sedang di genggam tangannya oleh seorang pria.
Andi ikut kesal, sebagai sahabat ia ikut merasakan apa yang dirasakan Ido, lalu ia bergegas bangkit mengikuti Ido, nafsu makannya menguap entah kemana.
"Sofie, loe tega sama sahabat gue" gumam Andi dalam hati yang segera menyusul Ido menuju parkiran
__ADS_1
Andi mendapati tangan Ido terluka, tanpa bertanya Andi membawa Ido kesebuah klinik untuk memeriksa kondisi tangan Ido, walau awalnya Ido menolak namun Andi memaksa.
Sepanjang perjalanan tak ada seorangpun yang berbicara, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing