
Erna langsung dilarikan ke rumah sakit, ia lalu menjalani operasi, ternyata penyakit nya sudah menyebar dan menyebabkan pendarahan hebat.
Sofie tidak menyangka jika penyakitnya akan separah ini, hingga akhirnya Erna tumbang dan mendapati kenyataan ini.
Beberapa jam kemudia Erna sudah di bawa keruang perawatan untuk memulihkan kondisi nya.
Tak lama kemudia ia siuman.
"Sofie, kenapa gue disini? " tanya Erna lirih
"Loe pingsan, kenapa loe gak bilang sama gue kalo penyakit loe separah ini"
"Apa yang loe harapin, gue curhat tentang penyakit laknat ini? ini penyakit memalukan. come on Sof, ini aib gue
Penyakit kelamin yang di tulari karena bergonta ganti pasangan.
Gue sudah terlalu banyak nyusahin loe, apa gue masih punya muka minta tolong loe lagi?? "
"Tapi ini bahaya Erna, bisa merenggut nyawa loe" ucap Sofie naik saru oktaf karena emosi
"Gue anggap ini karma gue"
"Apa loe pikir anak loe bisa hidup tanpa loe? gimana nasib mereka tanpa ibu nya?
bukankah loe mau lepas dari Ricky dan hidup baru sama Jack dan anak-anak loe? "
"Gue mau, mau banget Sofie"
"Lain kali jangan sembunyikan apapun dari gue" ucap Sofie melunak melihat Erna menangis
__ADS_1
"Sofie kenapa loe gak benci gue aja? kenapa??
gue makin kesiksa dengan rasa bersalah" ucap Erna makin kencang menangis
Sofie memeluk Erna menenangkan, Erna memang bukan sahabatnya, teman pun hanya sekedar sekilas karena sekelas.
Namun demi rasa kemanusiaan dan perasaan sesama wanita, ia merasa harus membantu Erna walau Erna pernah menyakitinya di masa lalu, toh ia sudah cukup menderita.
"Kalau loe merasa bersalah, berjuanglah hidup baik, perbaiki diri loe dan rawat anak-anak loe dengan baik" ucap sofie menghapus air mata Erna, Erna hanya mengangguk dan memeluk Sofie kembali
Sementara seorang pria di balik pintu menitikan air mata bahagia.
"Gue berjanji akan memperbaiki hidup gue dan akan setia sama dia, Dia penyelamat hidup gue dan Erna serta anak-anak gue" ucap pria tersebut yang tak lain adalah Jack.
Sofie kembali ke kediaman orangtua kandungnya. Bapak dan Ibu yang terus menanyakan kabarnya karena kawatir hingga menangis memeluk putri semata wayang mereka
Kamu bagaimana kabarnya nak? gimana liburan kamu? " tanya Ibu sambil menyuguhkan teh manis
"Sofie baik bu, liburannya penuh makna hehehe.
Ibu sama bapak sehat kan? Sofie kangen kalian" ucap Sofie kembali memeluk ibu dan bapaknya
"Wooo, manja" ucap Herman yang melintas di ruang keluarga
"ngiri wek, bilang aja mau di peluk" ucap Sofie sambil memeletkan lidah nya
"Eit emang eke laki-laki apaan bo" ucap Herman dengan lagak bencong, membuat seluruh keluarga tertawa
"Gitu tuh bu kalau kelamaan sendiri, cepet cariin kak Herman gandengan bu, biar ga ngenes" goda Sofie
__ADS_1
"Emang kak Herman truck gandeng apa? Tenang aja kak Herman nanti kenalin kamu sama kakak ipar hehehe"
"Bu denger tuh kode keras minta di lamarin"
"Bener man? bapak sama ibu sudah siap nih"
"Doain aja bu"
"Amiiinnnn" ucap mereka serentak.
Herman lalu duduk di samping Sofie
"Jadi adik kecil, apa kamu sudah baik-baik saja? kakak kawatir" ucap Herman mengacak-acak rambut Sofie
"Please deh kak, Sofie bukan kucing di elus-elus, mending kakak cepet. cari cewe jadi bisa elus kepala cewe nya" ucap Sofie kesal karena rambut nya berantakan
"Orang kak Herman nanya, gimana? kamu sudah bisa damai dengan hatimu belum? "
"Aman kak" ucap Sofie mengacungi jari jempolnya.
Setelah berbincang dan bercanda melepas kangen, Sofie pamit istirahat karena lelah, ia memasuki kamar sewaktu ia gadis dulu, masih tetap sama, tak ada yang berubah tertanda kamar ini selalu di rawat dan di bersihkan ibu nya.
Sofie merebahkan tubuh nya di kasur, memeriksa ponselnya dan ada beberapa pesan singkat dari Risya yang mengabarkan jika mama nya sudah berangsur-angsur membaik.
walau masih tertekan, Tania sudab tidak melukai dirinya sendiri.
Sofie menghela nafas lega, satu persatu beban di pikirannya berkurang.
"Aku yakin semua akan indah pada waktunya, aku hanya harus berusaha berdamai dengan diri sendiri, dengan berdamai semua jadi mudah" ucap Sofie menatap langit-langit kamarnya dan akhirnya tertidur.
__ADS_1