
Haryo menuju kamar mantunya, ia berdiri mematunh menatap Sofie yang tertidur lelap, menghela nafas panjang lalu menutup kembali pintu kamar Sofie.
Haryo melangkah lagi ke ruang tamu di ikuti Risya yang membuntutinya dari belakang, lalu mereka duduk.
Nampak wajah ketegangan terlihat dari ayah dan anak itu.
"Risya, bagaimana kondisi Sofie sekarang? "
"Kak Sofie sudah lumayan baikan pa, namun masih terlihat sedih. Tadi Risya meminta Hilda untuk menemaninya sekaligus mencari tahu apa yang akan di lakukan oleh kak Sofie.
Risya juga meminta Hilda membantu kak Sofie bercerita, sesama wanita saling Sharing setidaknya bisa membantu meringankan beban pikiran kak Sofie walaupun sedikit.
Menurut Hilda, kak Sofie masih sulit memaafkan kak Idp, tapi berita baik nya adalah, kak Sofie akan mempertahankan anak dalam kandungannya walau apapun yang terjadi dalam rumah tangganya nanti.
"Itu sudah cukup buat papa lega Rish, tapi kita usahakan mereka bisa baikan. papa mengharapkan itu" ucap Haryo pesimis
"Semua kembali ke kak Ido dan kak Sofie.
kita hanya orang luar. Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya. karena keputusan mutlah ada di tangan mereka berdua.
Sebagai keluarga kita hanya bisa mendorong, mengarahkan yang terbaik.
Sikap Ido penentu semuanya pa.
Kak Sofie sudah tak percaya dengan kak Ido. dan Risya memakluminya.
Kak Sofie takut jika suatu saat kak Ido akan melakukan hal yang sama"
"Papa mengerti kekawatiran Sofie, itu sangat wajar. Kita harus berunding lagi ketika Ido tiba.
Kakakmu sedang on the way kesini. papa mau rebahan sebentar rasanya kepala papa mau pecah memikirkan kakakmu itu.
__ADS_1
Jika masih berulan papa akan coret dari daftar waris dan kartu keluarga" Ucap Haryo geram
"Sabar pa, kak Ido pasti akan memperbaiki diri suatu saat nanti"
"Papa hanya berharap saat dia sadar kesalahannya dan insyaf masih ada waktu baginya, sebelum sesal itu datang"
"Semoga pa, kita doakan yang terbaik untuk kak Ido" ucap Risya lirih
Haryo menepuk bahu anaknya lalu berjalan menuju kamar.
"Semoga kesempatan itu masih ada buat loe kak, gue harap loe gak sia-siakan perngorbanan kami, orang-orang yang sayang sama loe" ucap Risya gamang.
Ia berjalan menuju teras rumah, menyulut rokoknya lalu menghembuskannya dengan kasar
Terpaksa ia begadang malam ini menunggu kedatangan Ido.
Hilda datang menghampiri Risya sambil membawakan kopi susu serta cemilan sebagai teman mereka berbincang
"Sayang istirahatlah, kamu sudah lelah seharian" ucap Risya membetulkan rambut kekasihnya yang tertiup angin malam
Hilda mengerjapkan matanya beberapa kali menahan kantuk yang menyerangnya. Ia tak tega membiarkan Risya terjaga sepanjang malam sendirian
mereka berbincang-bincang tentang rencana masa depan mereka. Kepala Hilda berada di pangkuan Risya, tak lama kemudia tak terdengar celotehan riang Hilda.
Nafasnya teratur. Hilda tertidur dalam pangkuan kekasihnya.
Risya tersenyum menatap wajah cantik Hilda, wanita mandiri yang periang serta supel.
Wanita sederhana yang membuat hati Risya bergetar ketika pertama kali bertemu dengan Hilda.
Perlahan Risya meletakan kepala Hilda di sofa teras, lalu ia bangkit dan mengangkat tubuh mungil hilda ke kamarnya. Hilda nampak menggeliat karena terganggu kenyamanannya namun tidak terbangun, hingga Risya meletakkan Hilda di kasurnya. lalu menyelimuti tubuh Hilda, merapihkan rambut panjang Hilda yang hitam dan lurus, lalu mengecup keningnya
__ADS_1
"Terima kasih kamu datang di kehidupanku.
wanita terbaikku" ucap Risya tersenyum menatap wajah damai Hilda yang tertidur.
Risya lalu bangkit berjalan membuka pintu kamar Hilda lalu menutupnya kembali perlahan.
Risua kembali ke teras rumab menanti kedatangan Ido.
Tubuhnya lelah dan sangat mengantuk, namun ia harus tetap terjaga sebelum Ido sampai.
Hingga suara laju kendaraan memasuki halaman villa, Risya langsung bangkit dan melihat kendaraan Ido datang
Dengan tergesa-gesa Ido turun dari mobilnya namun ia terlihat ragu-ragu masuk, melihat Risya berdiri di depan pintu rumah
"Ahh kenapa di pagi buta ini harus ketemu dia sih, apa dia menungguku?
Seperti bodyguard saja" dengus Ido memegang wajahnya yang masih membiru akibat bogem mentah Risya.
Ido bergidik membayangkan jika ia akan kena hajar lagi oleh Risya
"Mama paap kemana lagi, si kingkong kalau ngamuk bahaya ini" umpat Ido menelan saliva nya
Duh duh duh, Ido pengecut banget
Apa yang terjadi dikemudian harinya nya ya?
keputusan apa yang diambil oleh Sofie?
tinggalkan coment kalian ya, kalau benar author upload dua chapter sekaligus
mohon dukungan kalian jangan lupa tinggalkan like di setiap chapternya.
__ADS_1
Terima kasih untuk yang sudah mendukung author. sehat selalu
Happy reading