
"Dengar sayang, Mama mendukungmu dengan Andre"
"Ma...?? " bola mata indah Sofie membulat sempurna, ia tak menyangka mama nya akan mendukungnya, terlebih setelah Sofie katakan suami nya memaksa Sofie menerima perjodohan yang di atur olehnya
Ratih mengangguk sambil tersenyum lebar, Sofie langsung memeluk mama nya
"Mama menentang perjodohan itu, mama mau kamu bahagia dengan pilihanmu sendiri"
"makasih ma" Sofie sangat bersyukur mama nya sangat mengerti dirinya
"Sebenar nya nak Andre sudah meminta restu mama, Beberapa waktu lalu setelah dia berkunjung ke rumah"
"Mengapa mama tidak memberitahu Sofie? "
"Maaf sayang, Andre meminta mama untuk tidak mengatakan padamu"
"Curang" gerutu Sofie memanyunkan mulut nya.Ratih membelai rambut panjang putrinya penuh kasih sayang
"Ya sudah kamu istirahat, besok kan harus ketempat orangtua mu"
"Baik ma, Sofie istirahat dulu ya ma"
"Iya sayang"
Keesokan Harinya
Seluruh keluarga sudah berkumpul di meja makan, nampak Prakoso beberapa kali melilik ke arah putrinya yang sudah terlihat rapih
"Kamu mau pergi kemana sayang? apa kamu weekend juga ngantor? " tanya Prakoso
"Sofie mau menjenguk ibu dan bapak pa, rencana nya mau menginap beberapa hari di sana, nanti Sofie jalan kerja dari sana"
"Salam buat kedua orangtuamu ya, sampaikan permintaan maaf papa belum bisa berkunjung"
"Iya pa, Nanti Sofie sampaikan"
"Kamu nanti di antar mang Ujang saja"
"Itu pa, Sofie.. " Sofie bingung harus berkata jujur atau tidak
"Sofie diantar nak Andre, mama yang meminta nak Andre mengantar Sofie kesana" potong Ratih yang melihat Sofie ragu-ragu
"Mama?? mengapa mama memutuskan tanpa bertanya pada papa?
Mengapa mama biarkan Sofie diantar sama dia, seperti kita tidak punya orang buat antar putri kita kemana dia mau"
"Apa salah nya? toh nak Andre tidak sibuk" ucap Ratih santai
"Tapi ma... "
"Please deh pa, apa sih salahnya memberi anak kita pilihan, bukan hanya kamu yang ngotot menjodohkan anak kita dengan anak sahabatmu" ucap Ratih mulai tersulut emosi
susana di meja makan menjadi mencekam, membuat Sofie menjadi makin serba salah
"pa, ma, please jangan bertengkar karena Sofie.
Sofie minta maaf sudah membuat kalian jadi seperti ini.
Sofie janji sama papa akan tetap menemui anak sahabat papa dan memberi kesempatan yang sama pada mas Andre juga.
Sofie akan menjalani keduanya.
__ADS_1
Biarkan mereka menunjukkan kesungguhan hati mereka sama Sofie.
Dan, Sofie akan memilih salah satu dari mereka yang bisa menjadi imam dunia akhirat"
"Ok papa setuju"
"Mama juga" ucap Ratih tak mau kalah
"Sekarang bisakah mama sama papa berbaikan? " tanya Sofie memandang kedua orangtua nya
Ratih dan Prakoso tersenyum terpaksa.
mereka sama-sama gengsi karena memiliki ego tinggi
"Papa tidak marah sayang sama mamamu, cuma tadi mama mu aja yg mulai duluan"
"Oh jadi papa nyalahin mama?? " ucap Ratih tak terima
Sofie menggelengkan kepala, memang benar jika sudah tua maka kelakuan akan kembali seperti anak kecil.
Sofie bangkit dan mendekati mama papa nya
ia menarik tangan Prakoso dan Ratih lalu menyatukan kedua nya.
setelah itu Sofie mengecup kedua kening kedua orangtua tersebut.
"Sofie sayang papa dan mama, bagi Sofie berbakti pada kalian adalah suatu keharusan.
Jadi apa kata mama dan papa, Sofie akan ikuti" ucap Sofie tersenyun
Mendengar itu Ratih dan Prakoso tersenyum, mereka bangkit memeluk putri angkat mereka dengan rasa bersyukur.
Ikatan mereka lebih kuat dari pada apapun.
Sofie menyeret travel bag menuju ruang tamu di ikuti oleh kedua orangtua nua
"Ma, pa Sofie pamit dulu ya"mencium punggung tangan Prakoso dan Ratih bergantian
"Om, tante, Andre pamit" ucap Andre mencium punggung tangan kedua nya
"Ingat bawa mobilnya pelan-pelan saja ya nak Andre" ucap Ratih senang
"Om titip anak om, awas kalau berani macam-macam" ucap Prakoso
"Papa?? " ucap Ratih menepuk tangan Suami nya
"Siap om, saya bisa menjamin Sofie sampai tanpa lecet sedikitpun" ucap Andre sedikit bercanda
"Pa, ma, kami jalan dulu. Assalamu'alaikum"
ucap Sofie buru-buru
"Iya sayang hati-hati di jalan"
Kendaraan mereka lalu meninggalkan kediaman Prakoso
mereka menempuh jarak yang lumayan jauh, hingga dua jam kemudian kendaraan mereka memasuki perkampungan yang masih asri dan sejuk.
Kedua orangtua Sofie memang memilih pindah dan menetap di luar kota karena mereka ingin menghabiskan masa tua mereka dengan berkebun dan menikmati indahnya pedesaan.
Sofie terlihat bersemangat sekali, ia sesekali memberi arahan jalan pada Andre.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, ia terus tersenyum sambil menatap keluar jendela, menikmati hamparan sawah membentang luas.
tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah desa kecil.
Hingga kendaraan mereka memasuki sebuh halaman rumah sederhana
Sofie lalu mengajak Andre turun
Mendengar suara kendaraan berhenti di halaman, membuat Bapak yang sedari tadi menunggu anak nya datang, bergegas keluar rumah
"Assalamu'alaikum pa"
"Wa'alaikum salam, anak bapak sudah sampai" ucap Bim senang.
Sofie mencium punggung tangan bapak nya
"Bu, ibu anak nya sudah sampai ini" teriak bapak senang
Ibu tergopoh-gopoh datang menemui putri semata wayang nya ini
"Assalamu'alaikum bu"
"Wa'alaikum salam, ibu kangen kamu" ucap ibu sesegukan. mereka berpelukan lama
"Oh ya pak, bu, ini teman Sofie"
"Andre"ucap Andre mencium tangan kedua orangtua Sofie
"Ayo masuk, masuk nak, begini lah keadaan di desa" ucap ibu mempersilahkan mereka masuk.
Sofie langsung bergegas menuju kamar nya, meletakkan travel bag dan langsung menuju dapur untuk membantu ibu nya menyiapkan minum
Sementara Andre dan Bapak sedang berbincang-bincang di ruang tamu
"Jadi nak Andre, sudah lama kenal anak saya?"
"Sudah om"
"Apa kamu menyukai anak saya? " tanya Bim tiba-tiba
"Iiya om"
"Apa kamu tahu status anak saya?" tanya Bim lagi dengan wajah sulit di ungkapkan
"Tahu om"
"Apa kamu tidak malu dengan status anak saya? tidam keberatan? "
"Saya menerima Sofie apa adanya om"
"Itu menerutmu, belum tentu kedua orangtuamu akan setuju, terutama dengan status anak saya" ucap Bim lagi dengan nada penuh penekanan
"Kamu harus tahu satu hal.
Saya tidak mau anak saya kembali terluka untuk kedua kali,
pernikahan pertama nya telah gagal, jadi saya sarankan kamu di awal untuk memikirkan masak-masak sebelum kamu berfikir untuk serius dengan anak saya"
"Saya sudah memutuskan om, akan serius dengan anak om"
"Saya belum bisa menerima kamu, tapi saya tidak akan melarang kamu dekat dengan anak saya.
__ADS_1
sebelum kamu berfikir serius dengan anak saya, sebaiknya kamu fikirkan bagaimana dapat restu dari kedua orangtuamu" ucap Bim tegas yang langsung terdiam ketika istrinya dan Sofie memasuki ruang tamu