Aku Yang Tersakiti

Aku Yang Tersakiti
Pulang


__ADS_3

”Apa benar kamu tidak keberatan nak? bagaimana...?" Sri urung meneruskan ucapannya karena Bim menyenggol kaki Sri di balik meja


”Sofie sudah menjelaskan kok , jika mama ataupun ibu kwatir tentang mas Andre, Dia tak merasa keberatan juga, malah ia menyerahkan semua pada Sofie.


ia ingin bersaing sehat dengan siapapun yang ayah atau bapak mau kenalkan pada Sofie.


Lagi pula Sofie belum memutuskan dengan siapa Sofie akan menjatuhkan pilihan”


Bim mengangguk, ia tersenyum kecil mendengar penuturan putrinya, terlebih akan sikap Andre.


Kini Bim yakin jika ia tak salah menilai Andre, ia semakin suka dengan pemuda itu.


Namun demi menghormati besannya ia tak bisa menolak usulan Prakoso, toh semua demi anak mereka juga


Prakoso tersenyum senang, karena Sofie memegang ucapannya beberapa waktu lalu, ia aebenarnya tak pernah menyangsikan perkatakaan putrinya, namun entah mengapa kali ini, Prakoso seperti tak percaya diri.


"Terima kasih sayang" ucap Prakoso lega


"Papa tak perlu berterima kasih sama Sofie, Sofie tahu papa hanya ingin yang terbaik untuk Sofie, terima kasih pa" balas Sofie sambil tersenyum


"Baiklah, sekarang kita semua sudah sepakat ya, gak boleh ada pemaksaan.


Biarkan Sofie menjalani semua nya dan akhirnya memilih satu diantara mereja berdua, sekarang tinggal mempertemukan anak teman besan dengan anak kita" ucap Sri


"Nanti saya akan atur semua dengan baik besan" jawab Prakoso


" kalau begitu saya permisi dulu kedapur menyiapkan makan siang, kebetulan kemarin bapaknya anak-anak habis mancing ikan di kolam dan dapat banyak"


"Wah, enak itu, ayo besan kita kedapur, biarkan para bapak-bapak ngerumpi, kita bagian mengurus perut mereka, ayo sayang bantu kami" ajak Ratih pada Sofie, ketiga wanita berbeda genderasi itu menuju dapur, berkutat dengan panci dan wajan di depan merek, menunjukkan keahlian mereka di dapur.


Sofie tersenyum bahagia, ia sangat bersyukur bisa melihat pemandangan indah ini, orangtua dari almarhum pria yang sangat di cintainya hidup rukun dengan orangtua kandungnya, kedua nya sangat ia cintai.


"Mas lihatlah, kamu pasti ikut senang melihat ini kan mas? aku berjanji padamu mas, dengan siapapun nanti aku hidup, orangtua kita akan tetap seperti ini, saling mengasihi dan rukun. itu janjiku padamu" ucap Sofie dalam hati.


Sofie berharap jika kelak ia menikah lagi, dengan siapapun itu, ia berharap mertuanya juga bisa menjadi bagian dari keluarga nya yang unik ini.


"Sayang, apa kamu hanya akan melihat kami memasak? sini bantu mama, biar kamu pandai masak dan tambah di sayang suami" ucap Ratih melambaikan tangan pada Sofie yang malah tersenyum-senyum sendiri melihat kedua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya


"Siap boss, Sofie bantu apa nih ma, bu? "


#######

__ADS_1


Dua jam kemudian


beberapa lauk sudah tersaji di meja makan, Sofie, Ratih dan Sri tersenyum puas dengan hasil masakannya.


Mereka makan siang bersama di selingi candaan dan obrolan ringan di meja makan, dilanjutkan bincang-bincang santai di ruang keluarga.


Tak terasa hari sudab sore, Prakoso dan istrinya lalu pamit pulang


"besan hati-hati di jalan ya, ingat kabarin ya jeung kalau sudab sampai" ucap Sri cipika-cipiki dengan Ratih


"Baik jeung, pasti"


"Sayang, mama dan papa pulang dulu ya, ingat kalau pulang kabari kami, biar mang Ujang yang jemput" ucap Ratih memeluk putrinya


"Baik ma, mama sama papa hati-hati di jalan ya" ucap Sofie mencium punggung tangan kedua Orangtu angkat nya


Perlahan mobil yang di kendarai oleh Prakoso dan istrinya meninggalkan kediaman Bim


"Nak apa kamu yakin dengan pilihanmu, menjalani dengan dua pria?


Bapak yakin kamu mencintai nak Andre" ucao Bim ragu dengan keputusan putrinya


"Apa nak Andre bisa menunggu lagi, setelah ia setia menunggumu sampai beberapa tahun hanya mencintaimu? " Bim terlihat tak yakin


"Pak, jika mas Andre pernah menunggu Sofie selama itu, maka hal yang mudah baginya menunggu lagi sebentar, namun jika ia menyerah maka kami memang tak pernah di takdirkan bersama" Sofie berucap sambil tersenyum, walau di hatinya ada sedikit keraguan, apakah pria yang kini diam-diam mengisi hatinya itu akan tetap menantinya, Sofie menyerahkan semuanya pada sang pencipta, ia hanya berdoa dipersatukan dengan imam yang bisa membimbingnya dunia akhirat


"Ayo pak, sebaiknya kita masuk.


Bapak katanya mau ke kebun petik buah yang sudah masak, Sofie mau bantu"


ucap Sofie menggandeng tangan Bim seperti anak kecil


"Ah putri bapak gak pernah berubah, selalu menjadi putri kecil bapak" Bim mengelus puncak kepala Sofie lalu mengacak-acaknya gemas


"Bapak..., Sofie sudah besar, bapak kaya ngacak-ngacak si manis kucing kesayangannya bocah bandel itu" protes Sofie memanyunkan bibirnya


"Hahaha iya, iya sudah besar, tapi masih manja.


Untung nak Andre sudah pulang, kalau dia lihat calon istrinya seperti ini, dia pasti kabur" goda Bim membuat wajah Sofie memerah


"Bapak ih, kalau mas Andre kabur ya cari yang lain, lagi bapak apa sudah setuju dengan hubungan kami? " tanya Sofie menyelidik, meneliti wajah bapaknya mencari jawaban Pertanyaanny sendiri

__ADS_1


"Rahasia hahahhaa" bapak meninggalkan Sofie masuk ke dalam rumah sambil tertawa


"Bapak iiihhhh, tunggu Sofie, bapak belum jawab" teriaj Sofie menyusul Bim yang sudah meninggalkannya sendirian di halaman


########


Seminggu kemudian


Sofie terlihat sedang berkemas, pagi ini ia akan kembali ke kota, sebenarnya ia enggan menyusahkan Andre untuk menjemputnya, namun Andre memaksanya


Semalam Andre sudah sampai di kota kecil itu, namun ia sengaja mencari penginapan agar keesokan harinya ia bisa menjemput Sofie dengan tubuh bugar


Ia juga meminta Sofie agar tidak memberitahu keluarganya jika Andre menginap di penginapan yang letaknya 3kilometer dari kediaman orangtuanya, karena tak ingin merepotkan Orangtu kekasihnya itu


Drtttttttt, Drttttttt, Drtttrtr


Ponsel Sofie bergetar


Andre Calling......


"Assalamu'alaikum, pagi sayang, apa sudah siap? " tanya Andre di ujung telepon


"Wa'alaikum salam, pagi juga mas, sudah mas, mas dimana kok seperti di jalan? " tanya Sofie yang mendengar suara bising di telepon


"Mas sudah mau sampai nih, sepuluh menit lagi sampai"


"Mas, sekarang baru jam enam, mas bilang jemput jam delapan or jam sembilan? " tanya Sofie bingung


"Loh, mas kan sekalian bertemu sapa dengan calon mertua, biar izin lancar"


"Oh ceritanya lagi cari perhatian ya sama camer? " goda Sofie terkikik


"Harus itu, biar putri cantiknya bisa mas pinang sesegera mungkin"


Wajah Sofie bersemu merah, beruntung mereka berbicara lewat telepon, sehingga Andre tak bisa melihat perubahan pada wajah Sofie


Hati Sofie berbunga-bunga, ia sangat bahagia hanya dengan perkataan sesederhana itu dari Andre, Pria ini sudah membuat hati Sofie tak karuan di buatnya


"Sayaaang, kok diem sih? pasti wajah kamu bersemu merah ya, mas paling suka lihat kamu seperti itu, kecaantiknmu double double" goda Andre merayu


"udah ah, Assalamu'alaikum" Sofie mematikan panggilan teleponnya, ia tak menyangka kini Andre memiliki sifat jail swpertu sekarang ini, walaupun begitu ia menyukai nya

__ADS_1


__ADS_2