
"Risya membawa kabur Sofie pa, itu lah mengapa Ido marah sama Risya dan jadi seperti ini" ucap Ido menunduk
"Hah.., Risyaa...
papa anakmu itu, didikkanmu itu, mengapa Risya membawa kabur istri kakaknya" Marah Tania memuncak dan langsung menghubungi ponsel Risya, sementara Ido tersenyum penuh arti
"Pasti ada alasan di balik itu semua, papa yakin Risya bukan orang yang gegabah" ucap Haryo tenanh yang mendapat pelototan tajam dari istrinya
"Terus, terus saja bela anak kesayanganmu itu, sudah salah papa bela terus" ucap Tania tajam
"Apa mama yakin Ido tak bersalah juga hingga mama terus membelanya tanpa mendengar dari Risya? " tanya Haryo yang membuat Ido terdiam
"Ido, papa tidak akan membela kamh ataupun adikmu.
papa mau kamu ceritakam kejadian sebenarnya.
mengapa Risya membawa istrimu pergi.
papa yakin Risya punya alasan untuk melakukan hal tersebut.
Apa kamu terciduk melakukan perbuatan yang tidak sepantasnya? papa harap kamu jangan berbohong, karena papa sudab tahu semua kelakuanmu sih selama ini" ucap Haryo dengan lembut namun ada nada mengancam disana
"Apa maksud papa? Ido berbuat apa? mama gak ngerti maksud papa" Tania masih bingung maksud perkataan suaminya dan meminta penjelasan
"Ido? bisa kamu jelaskan ke mamamu? " ucap Haryo mendesak
"se.. sebeeeenarnya, Risya memukul Ido karena marah, melihat Sofie menangis" ucap Ido menundukan mata takut
"Apa yang kamu lakukan sampai mantu papa menangis hah? dasar b*jingan kecil" hardik Haryo naik pitam
__ADS_1
"Sabar pa, ingat kesehatan papa" Tania berusaha menenangkan suaminya
"Ido di ruangan berasama Amara, tapi Ido berani sumpah pa, Ido gak ngapa-ngapain Amara, wanita itu yang menggoda Ido"
Plaaaaakkkk
Sebuah tamparan mendarat di pipi Ido.
Ido maupun mamanya terkejut dengan tindakan Haryo
"Papa benar-benar kecewa sama kamu do, sekarang kamu cari Sofie dan minta maaf, atau papa akan menendang kamu dari kartu keluarga dan hak waris" ucap Haryo murka lalu menarik istrinya keluar dari rumah Ido
Di dalam kendaraan Haryo berusaha menghubungi Risya. Setelah beberapa kali pangilan akhirnya Risya mengangkatnya
"Assalamu alaikum pa"
"Wa alaikum salam nak, kamu dimana? apa kakak iparmu sama. kamu? "
"Iya pa, maafkan Risya ya pa sudah memukul kak Ido, Risya sangat kecewa sama kak Ido.
Sehingga Risya tersulut emosi karena kak Ido tak mendengar peringatan yang Risya berikan.
Risya hanya mau kak Ido sadar dan bisa mencintai kak Sofie tulus, apa lagi mereka akan mempunyai anak"
"Apaaaaaa?? papa gak salah denger? anak?
Apa? " Haryo terkejut sekaligus bahagia, sebentar lagi ia akan memiliki cucu
"Iya pa, anak. Sofie sedang mengandung.
__ADS_1
Kak Sofie ke kantor kak Ido untuk memberitahu berita bahagia itu, tapi malah melihat kak Ido..... ahh
rasa nya Risya masih emosi kalau ingat"
"baiklab nak kamu jaga Sofie baik-baik, berikan alamatmu, kami akan meluncur kesana" ucap Haryo lalu mematikan panggilannya setelah Risya memberikan alamat villa tempat Risya berada.
Sementara di Villa
Setelah mengakhiri panggilannya, Risya beberapa kali menghela nafas berat.
Ia memikirkan reaksi kedua orang tuanya.
Risya menyadari satu hal bahwa Ido tidak akan jujur bercerita semuanya, ia akan mencari pembenaran diri agar papa tidak murka,
namun apapun itu tetap membuat orangtuanya kecewa, tak terkecuali mama yang biasanya membelanya.
karena Risya tahu jika mamanya sangat membenci pria yang tak setia tanpa terkecuali.
Risya menatap langit senja di villanya
Ia sedang memikirkan masa depan keluarga kecil kakaknya.
"Apa yang harus aku lakukan Tuhan? aku ingin melihat kak Sofie bahagia dengan kak Ido, membesarkan anak mereka bersama, namun akankah kak Ido bisa berubah? "
Hilda yang melihat kekasihnya termenung di teras rumah menghampirinya, lalu memeluknya dari belakang
"Sayang, istighfar dan pasrahkan diri dengan sang pencipta. semua kejadian di dunia ini ada hikmahnya, semoga semua masalah dalam keluargamu dapat segera selesai dan pak Ido bisa memperbaiki diri demi anak dalam kandungan kak Sofie"
"Aku juga berharap demikian, aku tak tahu apa yang ada dalam pikiran kak Sofie, aku tak bisa membujuk kak Sofie untuk terus bersama kak Ido, aku cuma mampu mengeluarkan otot, tapi lemah dalam hal berbicara" ucap Risya lemah
__ADS_1
"Itulah mengapa ada aku, serahkan semuanya pada wanitamu ini" ucap Hilda sambil mencubit hidung mancung Risya
"Owh, makasih wanitaku, calon ibu anak-anakku" ucap Risya mengecup puncak kepala Hilda