
Tiga hari sejak mediasi sidang perceraian Sofie, Prakoso hanya dirumah menghabiskan waktu dengan anak dan istrinya.
Siang itu wajah Prakoso terlihat sedikit tegang, ketika seseorang menelponnya. Ia menghembuskan nafas beberapa kali, Sofie yang melihat dari kejauhan menjadi penasaran mengapa papa nya bersikap seperti itu, namun dengan lembut Bu Prakoso mengatakan jika itu urusan pekerjaan yang tak bisa di handle pak Hendra.
”Baik, kamu segera panggil adik Ido menemui saya, atur waktunya dan kita bertemu diluar saja karena saya tidak mau konsentrasi Sofie terpecah karena mengetahui hal ini”
”Baik pak, masih ada yang bapak perlukan?"
"Tidak, terima kasih Hendra dan terus hubungi saya untuk perkembangannya”
”Baik pak”
Panggilan berakhir, Prakoso menatap putrinya dari kejauhan, ia langsung tersenyum bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi.
Dikediaman Haryo, Tania berteriak histeris karena beberapa orang mengaku jika Ido memiliki utang yang nominalnya besar dan sudah jatuh tempo, ia mengancam Tania agar segera melunasi utang tersebut atau rumah beserta isinya akan disita oleh lintah darat tersebut.
Setelah kepergian mereka, kondisi Tania yang sudah membaik berubah menjadi buruk, ia terlihat shock dan menangis sejadi-jadi nya, Ido bukan saja sudah membuat suami nya meninggal, tapi juga membuat anak dalam kandungan Sofie meninggal, membuat Sofie bertekad akan menceraikan Ido.
Dan kini rumah yang menyimpan kenangan indah suaminya akan segera berpindah tangan.
karena Shock akhirnya Tania tak sadarkan diri.
__ADS_1
Risya yang saat itu berada di luar seketika langsung kembali kerumah setelah mendapat kabar dari pembantunya, batinnya berkecamuk antara murka dengan Ido dan kwatir dengan kondisi Tania.
Tania nampak sudah siuman, ia duduk di tempat tidurnya sambil menghapus air mata nya
”Mama,, mama enggak kenapa-napa kan?
”Risya , Ya Allah mama takut nak, tadi ada rentenir yang menagih utang kakakmu, mereka mengancam akan menyita rumah ini. mama gak mau, ini peninggalan papamu, banyak kenangan dirumah ini” ucap Tania menangis dalam pelukan anaknya
”Mama tenang ya, Risya akan cari cara buat lunasi semua”ucap Risya menenangkan mamanya, ia memberikan obat penenang yang dokter resep kan dan akhirnya Tania pun tertidur
Risya sedang duduk di ruang Tamu, ia sudah tahu kondisi keuangan perusahaan, tak mungkin ia mengambil uang perusahaan untuk melunasi hutang pada rentenir tersebut, sedang perusahaan mereka sudah kolaps karena penggelapan dana yang dilakukan Ido serta Ido tertipu investasi bodong sehingga perusahaan diambang bangkrut.
Tiba-tiba ponsel Risya berbunyi dan ekspresi nya berubah ketika menerima telepon tersebut. lalu ia pergi menemui pembantu nya untuk menitipkan Tania. Setelah itu Risya melajukan motornya menuju suatu tempat.
Tak lama seorang pemuda yang tak lain adalah Risya menghampiri mereka.
"Assalamu 'alaikum, maaf membuat om menunggu”ucap Risya mencium punggung tangan Prakoso dan Hendra
”Om juga baru sampai kok, ayo duduk.
Oh ya bagaimana kondisi mama mu?" tanya Prakoso setelah Risya duduk”
__ADS_1
Risya langsung terlihat sedih, ia menunduk
”Mama sudah baikan om, tapi ”
”Apa yang terjadi, katakanlah nak, om ini sahabat papamu, jadi anggap om orangtuamu juga ok?”
Risya terlihat ragu-ragu namun akhirnya ia menceritakan semuanya.
Prakoso mendengarkan penuturan Risya, sesekali terlihat menggeleng dan mengangguk
”Jadi begitu om, Risya gak tahu harus bagaimana lagi, di satu sisi Risya ingin melindungi rumah yang memiliki banyak kenangan papa, di lain sisi keuangan perusahaan sedang tidak baik."
”Maksud om memanggilmu kemari salah satunya membahas hal tersebut. tapi om tidak menyangka jika kakakmu itu memiliki utang di luaran juga”ucap Prakoso melirik Hendra
"Maaf pak, saya lalai"ucap Hendra menyadari kesalahannya.
"Cari informasi berapa banyak utang Ido di sana dan segera bereskan"perintah Prakoso. Hendra terlihat menelpon seseorang dan tak lama kemudian ia mengakhiri panggilannya.
ia mengangguk dan membisikkan sesuatu pada Prakoso.
Risya melihat betapa berkuasa nya Prakoso, hanya dalam itungan menit ia sudah mendapatkan informasi.
__ADS_1
Jika Prakoso ingin hanya dengan satu kata maka Ido akan hancur, namun entah apa yang direncanakan Prakoso mengundangnya ke tempat ini.