
Prakoso merasa penasaran tentang siapa tamu yang mencari Sofie, ia melihat istrinya terlihat bahagia sekembalinya dari ruang tamu.
Prakoso ingin bertanya, namun Ratih sedang sibuk berbincang dengan istri sahabat nya tersebut.
Dan ia tak bisa meninggalkan sahabatnya hanya demi melihat tamu yang mengunjungi putrinya.
Prakoso memasang pendengarannya tajam-tajam, namun ia tak mendengar percakapan apapun dari arah ruang tamu.
Ia tak mendengar apa yang sahabt nya katakan, konsentrasi nya hanya pada tamu Sofie.
"Prakoso apa kamu dengar? " tanya Suryo yang melihat Prakoso hanya diam saja.
"Ah maaf Sur, aku perlu kekamar kecil sebentar, perutku kurang enak nih" ucap Prakoso beralibi.
Ia hanya akan mengecek putra sahabat nya di teras belakang yang sudah lama disana karena Sofie menerima tamu di ruang tamu.
Prakoso dibuat bingung pasalnya ia mendengar suara tawa dan perbincangan beberapa orang, tepat nya dua pria dan putri nya.
Prakoso menghampiri mereka dan terkejut dengan keberadaan seorang pemuda yang di kenal olehnya
"Andre? sejak kapan kamu disini? "
"Om Prakoso, apa kabar? " ucap Andre bangkit dan mencium punggung tangan Prakoso
"Kalian mengapa bisa di belakang, jadi tamu yang tadi itu nak Andre? "
"Iya pa, mas Andre, Sofie ajak bergabung sama Ronald di belakang biar enak ngobrolnya"
"Nak Andre nanti ikut aja malam malam di sini bareng-bareng ya"
"Makasih om"
"Om tinggal dulu, kalian teruskan ngobrolnya" ucap Prakoso meninggalkan ketiga anak muda tersebut.
"Sejak kapan putriku dekat dengab Andre? apa mereka memiliki hubungan special?
Tapi Sofie tidak pernah mengatakan apapun pada Ratih ataupun aku?
Ternyata kamu masih menyimpan rahasia sama papa mu ini Sofie. " gumam Prakoso kecewa.
Ia sudah berusaha menjodohkan Sofie dengan anak sahabatnya karena Sofie belum terlihat dekat lagi dengan laki-laki lain setelah bercerai dengan almarhum Ido.
Prakoso membasuh wajahnya di wastafel, ia memandang bayangan wajahnya di cermin dan menghela nafas berat.
__ADS_1
"Usiaku sudah tak muda lagi, aku hanya berharap di usia senjaku, aku bisa tenang melihat Sofie menikah dan bahagia.
Aku ingin sekali menimang cucu, walau iti bukan dari darah dagingku sendiri"
Prakoso mengeringkan wajahnya lalu kembali ke ruang keluarga.
Mbok Iyah mengabarkan jika makan malam sudah siap, lalu mereka menuju ruang makan, Prakoso meminta mbok Iyah memanggil putrinya, Andre dan Ronald yang masih berbincang-bincang di teras belakang.
Jeung Nina nampak terkejut dengan keberadaan Andre, ia memang mengenal Andre karena pernah berkunjung ke rumah nya
"Loh nak Andre kok bisa disini? " tanya jeung Nina bingung
"Tante apa kabar" ucap Andre menyalami kedua orangtua Ronald
"Andre itu teman Sofie mam, dia lagi main kesini" ucap Ronald
"Tapi ini sangat aneh, teman pria kerumah seorang wanita, pasti hubungan mereka tak sesederhana kelihatannya.
Apa mereka berpacaran? tapi mengapa Prakoso ingin menjodohkan putri nya, padahal ia sudah punya pasangan?
Gak bener ini, Prakoso sudah mempermainkan keluarga kami" gumam Nina yang terlihat tidak suka.
Ia memandang tajam ke arah Andre dan Sofie secara bergantian.
"Jadi nak Andre, om dengar kamu mengurus bisnis papamu yang di luar. Jadi bagaimana disana? "
"Iya om, hampir empat tahun lebih Andre handle bisnis papa disana, Alhamdulillah sudah berkembang dan bisa ditinggal, jadi Andre kembali ke tanah air baru satu minggu yang lalu"
"Ternyata aku sudah salah menganggap putri ku tidak jujur, tapi mengapa Andre bisa datang ke kediamanku"
"Alhamdulillah, om bangga sama kamu. masih muda tapi sudah bisa diandalkan papa mu. Kapan bertemu Sofie, kenapa om tidak di beritahu kalau kamu main kerumah? "
"Maaf om, habis dadakan karena Andre ada ketemu klien di dekat sini jadi sekalian mampir aja.
"Andre ketemu Sofie gak sengaja di mall. Sasha sempat hilang dan Andre yang menemukan Sasha pa, terus Andre bantu Sofie bawa barang belanjaan karena Sofie ke mall bawa Sasha dan Dian bermain dan belanja beberapa pakaian dan mainan buat mereka
Prakoso langsung melunak, ia sangat menyukai anak Erna dan kedua putri Erna memanggil Prakoso opa.
"Sykurlah ada nak Andre yang menemukan Sasha, lain kali kamu jangan sendiri bawa mereka jalan-jalan, ajak mang ujang
"Iya pa, Sofie minta maaf" ucap Sofie merasa bersalah
"ya udah lanjut makannya, silahkan-silahkan" ucap Prakoso senang
__ADS_1
Ia melirik istri sahabat nya yang kini sudah tersenyum. ia sangat tahu wajah dari istri sahabat nya tersebut, sementara Suryo sendiri tipikal orang yang lurus tanpa prasangka, ia orang yang sangat amat bijak, itulah mengapa ia ingin menjalin kekeluargaan dengan sahabat nya tersebut.
Namun Prakoso tidak mengetahui jika putra sahabat nya bukan calon yang baik untuk putrinya. Setelah makan malam, mereka lanjut berbincang-bincang.
"Jadi Sur, kamu sudah lihat putriku, apa kamu berkenan menjalin persaudaraan kita yang lebih lagi? "
"Prakoso,tanpa ada pernikahan antara anak-anak kita, kamu dan aku tetap saudara.
Biarkan anak kita memilih pasangan nya sendiri.
Aku tak mau memaksakan sesuatu yang bukan hak ku pada anak ku. masa depan mereka, mereka yang tentukan.
Kita sebagai orangtua hanya bisa membimbing dan mengarahkan. "
"Jadi kamu menolak berbesan dengan ku Sur? apa karena dia bukan darah dagingku? "
Suryo bangkit lalu duduk di dekat sahabatnya tersebut. ia menepuk lembut bahu Prakoso
"Aku tak pernah beranggapan begitu, percayalah. anak itu lahir dari hatimu, ikatan bukan hanya berdasarkan darah tapi ini, hati.
dan aku percaya anak itu juga mencintai mu sebagai orangtua nya"
"Jadi kau menolak perjodohan ini?"
"Aku tidak punya hak mengatur masa depan putra ku dalam hal pernikahan. terlebih putraku terlalu di manja oleh Nina, ia belum menemukan jati diri nya sendiri, belum bisaemimpin diri nya sendiri, jadi bagaimana dia bisa memimpin anakmu?
Jangan kamu hanya memandang aku sebagai orangtua nya" ucap Suryo tersenyum
"Sahabatku, kita tetap saudara tanpa pernikahan putra putri kita, kita tetap saudara. Biarkan putrimu menemukan bahagia nya sendiri"
"Aku takut putriku salah lagi memilih pendamping, hatiku hancur melihat putriku di sakiti dan menangis di depan mataku"
"Aku paham kekawatiranmu, tapi bukankah hidup seperti itu? kita di tempa kesusahan, kesedihan, kebahagiaan, penderitaan agar kita menjadi pribadi yang kuat dan selalu bersyukur. Biarkan putrimu bertumbuh, dewasa karena cobaan, tugas kita mendoa kan, mendukung, mengarahkan dan membimbingnya agar tidak salah arah"
"Aku masih belum sepenuhnya bisa Sur, sejak kepergian almarhum Agus, hanya dia yang kami miliki. Anak itu memberi kami cinta dan sayang tak kurang dari putra kami sendiri bahkan lebih. Kami hanya tak ingin kehilangan anak yang lain nya lagi"
"Prakoso sahabatku, segala sesuatu di dunia ini hanya titipan, kita hanya di beri peran, pergunakan peran kita sebaik-baiknya dan jangan pernah berburuk sangka dengan Allah, karena Allah sebaik-baiknya pengatur"
"Astaghfirullah, apa yang kamu katakan benar, terima kasih sudah mengingatkanku"
"Sama-sama, itulah guna nya teman. Ah ya, aku hendak menitipkan anak ku padamu untuk kau didik. Aku sudah lelah membuat dia sadar karena istriku terus ikut campur.
Biarkan dia bekerja dari bawah agar ia belajar kerasnya hidup, bahwa kesuksesan itu bukan sesuatu yang instan"
__ADS_1
"Aku sudah menyerahkan semua urusan perusahaan pada putriku, jadi aku harus bertanya pada putriku dulu.