
Triiiing
Sebuah pesan singkat masuk, Kuncoro membuka ponselnya dan tersenyum lebar
"Papa, maafkan mama, maafkan istrimu yang tak berbakti ini, mama janji akan menjadi istri dan mama yang baik sesuai keinginan papa, terima kasih sudah bersabar selama ini
lope u suamiku tercinta
Kuncoro memasukkan kembali ponselnya dalam sakunya, senyumnya mengembang, ia menghembus nafas lega
"Alhamdulillah ya Allah engkau bukakan mata hati istri hamba yang selama ini tertutup, semoga semua bisa terselesaikan, amin" Kuncoro menatap keluar jendelan mobilnya, memandang jalanan yang mereka lewati, hingga mobil mereka berhenti di sebuah restoran keluarga, alamat yang di kirimkan oleh Andre beberapa waktu lalu
"Nampak seorang pria muda mendatanginya begitu melihat Kuncoro keluar dari kendaraannya
"Assalamu'alaikum om, bagaimana kabarnya" tanya Andre samvil mencium punggung tangan Andre
"Wa'alaikun salam, baik nak Andre.
kenapa nak Andre bukan menunggu di dalam saja? om jadi gak enak membuat kamu menunggu lama"
"Baru kok om, lagi pula Andre lebih senang menunggu disini, mari om" ajak Andre
Merek lalu masuk ke dalam restoran, memesan beberapa menu makanan
"Nak Andre, om pribadi mau mengucapkan terima kasih karena nak Andre tidak memberitahukan aib kami pada keluarga Prakoso, walaupun nak Andre sudah tahu, om merasa malu"
"Om kuncoro, Andre sudah menganggap om orangtua sendiri, bagaimana Andre bisa berbuat hal yang bisa memalukan om, lagi pula gak ada untungnya buat Andre"
"Om sungguh bangga padamu nak, andai saja anak om sepertimu, pasti om sangat amat bersyukut" ucap Kuncoro kembali muram
"Om bisa anggap Andre anak om kok, kalau ok perlu apa-apa tinggal katakan saja ya om, gak perlu sungkan" Andre menggenggam tangan Kuncoro
"Prakoso sungguh beruntung mendapat mantu seperti mu nak, om akan pastikan ia merestuimu" ucap Kuncoro menepuk punggung tangan Andre
"Makasih om" Andre tersenyum lega mendengar perkataan Kuncoro
"Om harus memikirkan cara bagaimana menyampaikannya pada Prakoso, om malu pada nya" Kuncoro kembalu menghela nafas, ia harus mengutarakan alasannya agar perjanjian pertunangan antara Prakoso dan dirinya bisa putus tanpa menghancurkan persahabatan mereka
"Om, Andre punya usul, bagaimana jika om katakan saja bahwa Anggara ternyata sudah memiliki pacar, mereka sudah menjalin hubungan lama, tanpa menjelaskan kondisi calon istri Angga, dan katakan juga om tak mau memisahkan dua insan yang saling mencinta hanya karena keegoisan orangtua.
__ADS_1
Persahabatan antara om dan om Kuncoro akan tetap tak berubah meski tanpa adanya ikatan pernikahan, bagaimana om??
Om tidak mengatakan sebenarnya walau tak seluruhnya, dan om tak berbohong pada om Prakoso, nama baik om di depan om Prakoso akan tetap sama, mungkin om Prakoso akan maran pada om beberapa saat, namun Andre yakin persahabatan lebih kuat dari ikatan apapun" ucap Andre menjelaskan
Kuncoro mendengarkan sambil sesekali mengangguk, setuju dengan usulan Andre dan ia pun tersenyum lebar.
Kuncoro sampai bangkit dari duduknya membuat Andre langsung berdiri, tiba-tiba Kuncoro memeluk Andre erat
"Terima kasih nak Andre, om tak tahu harus bagaimana berterima kasih padamu, kamu sudah menolong om berkali-kali" ucap Kuncoro menghapus air mata bahagianya
"Kan sudab Andre bilang, Andre anggap om sebagai orangtua Andre sendiri"
"Naga tua mendidikmu dengan baik nak, tak salah ia menilaimu, sampaikan salam hormat om pada kedua orangtuamu, mereka mendidikmu dengan sangat baik" ucap Kuncoro menepuk punggung Andre
"Akan Andre sampaikan om, sekarang sebaiknya om makan dulu, Andre yakin om juga belum makan kan? om bisa tenang sekarang semua masalah om sudah ada jalan keluarnya" Andre menyendokkan nasi dan lauk lalu menyerahkan pada Kuncoro, Kuncoro memakan makananya sambil sesekali menghapus air matanya
"Om bisakah meminta bantuanmu sekaki lagi nak? " tanya Kuncoro penuh harap
"Tolong kau pekerjakan anak om Angga, kau boleh tempatkan dia dimanapun asal dia belajar bagaimana perihnya perjuangan hidup meniti karir, om harap kau mengajarinya dengan keras, om akan mendukung semua keputusanmu, segera setelah ia menikah, om akan kirim ia belajar padamu, maaf om menyusahkan mu lagi, tapi om yakin di bawah pengawasanmu anak itu akan lebih dewasa dan mandiri" Kuncoro menatap Andre sambil mengatupkan kedua tangannya memohon
Andre menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia saja masih pusing dengan anak om Edi yang akan dititipka padanya, kini bertambah Anggara, putra Kuncoro
"Baiklah jika om berfikir Andre mampu, Andre akan melakukan yang terbaik, semoga om gak kecewa"
"Om percaya denganmu nak" ucao Kuncoro tersenyum lebar, membuat Andre tak enak menolak permintaan Kuncoro walau kedepannya tugas dan tanggung jawabnya akan lebih berat
Mereka melanjutkan makan malam diselingi obrolan ringan
Keesokan harinya
Kuncoro dan keluarganya bertandang kerumah Prakoso yang di sambut hangat oleh Prakoso
Setelah berbasa-basi, akhirnya kuncoro menyampaikan maksud kedatangannya yang mendadak kali ini, ia sudab mengatakan pada istri dan anaknya serta Melissa akan mengatakan sebenarnya tanpa membuka aib mereka dan semuanya setuju
"Maafkan aku Prakoso, aku terlalu egois jika memaksakan anakku menikahi anakmu sedang ia mencintai wanita lain, itu tak adil untuk anakmu menikah tanpa cinta.
Untuk urusan menikah, harusnya kita serahkan pada anak-anak kita, karena merekalah yang akan menjalaninya, kita terlalu egois tanpa menanyakan keinginan mereka.
Aku mengaku bersalah, dan aku terima jika kau marah padaku sahabat.
__ADS_1
Tapi yakinlah, persahabatan kita akan tetap terjalin tanpa harus memaksakan anak kita menikah, karena kebahagiaan mereka, mereka yang tahu" ucap Kuncoro pelan menatap sahabatnya yang terlihat sedikit kesal
Ratih menepuk punggung tangan suaminya lalu ia tersenyum lembut
"Bukankah kita menikah karena saling mencintai? apakah kamu tega membuat anak kita menikah tanpa cinta, lalu bagaimana nanti rumah tangganya? apa kamu bisa menjamin ia bahagia? kebahagiaan terbesar orangtua adalah melihat anak mereka bahagia" ucap Ratih berusaha memberi pengertian pada suaminya
"Baiklah, aku memaafkanmu Kuncoro, namun kau hutang penjelasab padaku" ucap Prakoso menatap tajam Kuncoro
"Baiklah, ayo Sofie ajak Melissa ke taman belakang, biar para lelaki berbicara bebas, ayo jeung Andini" ajak Ratih pada istri Kuncoro
"Mas Angga pinjam dulu ya calon istrinya" ucap Sofie tersenyum lebar" lalu mereka meninggalkan ruangan itu
Kuncoro lalu menjelaskan semuanya, nampak alis Prakoso menaut, tanda ia berfikir keras
"Jika nak Andre mau, ia bisa saja menghancurkan perusahaanku, namun justru ia menolongku, orang yang akan menjadi besanmu, apa kau tak bisa membuka hatimu untuk pemuda itu? dari yang aku tahu dia sangat mencintai anakmu, dia pemuda yang baik dan bertanggung jawab, pengusaha muda yang berjiwa besar dan memiliki pandangan luas, dia anak angkat naga tua" ucap Kuncoro tersenyum
"Maksudmu Edi?? " tanya Prakoso langsung tegak dari duduknya
"Siapa lagi? Edi, si naga tua yang bijak, mengapa wajahmu terlihat muram? " tanya Kuncoro bingung
"Huh pantas dia berkata akan menjodohkan anaknya padaku, yang kutahu semua anaknya sudah menikah dan tinggal si bungsu dan dia wanita, ternyata..."
"Prakoso, sebagai sahabatmu aku cuma mau bilang satu hal
buang egomu sedikit saja kali ini, restui mereka dan lihat, jika Andre menurutmu tak layak makan usir dia dari hidup putrimu, jangan membuat kesalahan yang akan membuatmu menyesal, dimasa tua kita hal yang paling berharga adalah melihat anak-anak kita bahagia dan melihat mereka melahirkan penerus kita, menimang cuxu sambil menghabiskan masa tua kita"
"Baiklah, aku akan merestui mereka" Prakoso. akhirnya merestui hubungan putrinya, walau dalam hatinya ia masih belum ikhlas sepenuhnya, namun perkataan Kuncoro membuka hatinya, menyentil ego terdalamnya
Setelah kepergian Kuncoro dan keluarganya, Prakoso memanggil Sofie du ruang kerjanya, Ratih yang menanti di luar nampak cemas, ia berjalan mondar mandir karena panik
"Apa yang anda lalukan disini nyonya" sapa Hendra yang membuat Ratih terkejut hingga mengelus dadanya sendiri
"Pak Hendra, ngagetin aja, itu suami saya di dalam dengan anak saya, saya takut... "
"Nyonya tenang saja, pak Prakoso sepertinya sudah memberi restu Sofie dengan pak Andre, ia meminta saya memberikan informasi akurat tentang pak Andre, dan informasi ini akan tambah membuat ia lunak pada pak Andre" Hendra tersenyum lebar berusaha menenangkan Ratih
"Pak Hendra makasih" ucao Ratih lalu berjalan kedapur sambil tersenyum lega, ia membuatkan minuman untuk suami tercintanya dan putri kesayangannya, tak lupa juga buah potong untuk mereka
"Akhirnya kebahagiaanmu akan datang nak, mama akan pastikan kamu menikah dengan pria pilihanmu dan hidup bahagia selamanya" gumam Ratih
__ADS_1