Aku Yang Tersakiti

Aku Yang Tersakiti
Aib Ido II


__ADS_3

" Uhuk emm, mama panggil papa dulu ya sayang, kamu tunggu di sini aja. mang Ujang sudah mama suruh metik mangga permintaan kamu" Wida lalu meninggalkan Sofie dan Ido, ia sengaja menyusul suaminya ke ruang baca karena melihat Ido yang malu dan serba salah karena mendengar percakapannya dengan Sofie


Tok Tok Tok


" Pa, masih banyak kah kerjaan papa? kenapa lama sekali? " tanya Wida begitu muncul di depan pintu ruang kerja Prakoso


"Sedikit lagi ma, gimana Sofie sudah selesai makan? "


"Sudah pa, mereka menunggu kita di teras belakang"


"Sebentar papa masih periksa laporan keuangan, oh ya ma apa Sofie masih marah sama Ido?


"Aman sudah hahaha"


"loh kenapa mama kayaknya seneng gitu?"


"Tahu gak pa, mantu kita gak bisa manjat pohon, dan mangga yang dia dapat hasil dia melempar mangga dengan sepatunya"


"Astaga untung itu sepatu gak nyangkut diatas pohon" Prakoso menggeleng dan tertawa kecil


"Lagi Sofie juga, bukan hargai suaminya sudah cape-cape, lagi apa bedanya ada gagang atau gak, toh sama-sama dimakan juga nantinya"

__ADS_1


"Ih papa, kaya enggak ingat dulu waktu mama hamil, mama juga minta jambu yang baru dipetik di pohon kan? sama minta tauge yang papa buat sendiri"


"Ah papa gak akan lupa, waktu mama hamil nyiksa papa, mintanya aneh-aneh, sampai pake minta pegang kumis pak Is tetangga di ujung komplek.


Ampun orang hamil, ngeri-ngeri sedap"


"Oh jadi papa gak ikhlas ceritanya? itu bawaan bayi nya tau"


"Bawaan bayi, sih bawaan bayi, tapi gak segitunya juga pake kumis orang mama mau pegang" ucap Prakoso mengingat tiga puluh empat tahun silam sewaktu Wida hamil Almarhum Agus


"Sebaiknya kita menyusul Sofie di teras pa, kerjaan tunda dulu, masa papa sibuk kerja aja, sementara anak lagi pulang kerumah, jarang- jarang loh pa, kita ngumpul gini"


"Baiklah istriku yang paling cantik"


Ketika tiba di teras, mereka tidak mendapati keberadaan Sofie maupun Ido.


Nampak di kejauhan Wida melihat Ido sedang berdiri di bawah pohon seperti orang bingung menengok kekanan dan kekiri


"Pa itu Ido di bawah pohon, Sofie kemana ya pa? "


"kita kesana aja ma" ajak Prakoso

__ADS_1


Mereka lalu menghampiri Ido sambil mencari keberadaan Sofie


"Nak Ido Sofie kemana? " tanya Prakoso mengagetkan Ido


"Anu pa, Sofie... " Ido tidak meneruskan ucapannya melainkan pandangannya melirik ke arah pohon


Prakoso dan Wida saling berpandangan dan mereka seakan bisa menduga, lalu menengok ke atas pohon, dan betapa terkejutnya kedua orang tua tersebut, mendapati tebakan mereka benar, bahwa putri mereka sedang asik bertengger diatas pohon


"Sofieeeee, ya Allah, kamu lagi hamil nak" teriak Prakoso dan Wida serentak dan beralih memandang Ido dengan tajam


"Apa kamu gak bisa ngatur istrimu? apa kamu gak tahu bahayanya wanita hamil naik-naik pohon? kalau terjadi apa-apa pada cucu papa gimana? " tanya Prakoso memberondong


"Papa kecewa ya sama kamu Ido, walaupun itu maunya Sofie, sebaiknya kan kamu bisa larang, biar saja dia marah, segala yang berbahaya kamu larang. ingat itu, sekarang panggil Ujang kemari dan bawa tangga, papa gak mau terjadi sesuatu yang buruk pada anak papa" ucap Prakoso tegas


Sementara Sofie yang awalnya melotot marah pada Ido karena membocorkan keberadaannya, menjadi kasian pada Ido karena ulahnya lah Ido kena semprot.


"Maafin Sofie pa, ma, ini bukan salah mas Ido, Sofie yang minta, Sofie yang salah"


"Papa sama mama belum buat perhitungan sama kamu, jadi siap-siap papa hukum kamu"


Mang Ujang tergopoh-gopoh datang membawa tangga dengan Ido, ia melihat Majikannya sedang marah besar

__ADS_1


Setelah Sofie turun, Prakoso langsung berjalan menuju teras rumah dan Wida membantu Sofie berjalan mengekor Prakoso di ikuti semua orang, termasuk Ido dan Mang Ujang dibelakangnya


Sofie memandang Wida meminta pertolongan nanmun Wida hanya menghela nafas dan menggeleng


__ADS_2