Aku Yang Tersakiti

Aku Yang Tersakiti
Hukuman IV


__ADS_3

"Jadi loe Sof, mau sampai kapan ngumpet disini? " tanya Nia sambil memakan cemilan di tangannya


"Sampe mood gue balik"


"Trus klo kalau itu mood gak balik-balik sampai sebulan atau dua bulan gimana? "


"Ya gak apa-apa, biar dia di sana berkarat" ucap Sofie santai sambil memberi makan ikan di kolam


"Apanya yang karatan? " tanya Nia polos


"Onderdilnya"


"Hah, bawa kebengkel lah" ucap Nia yang di jawab tawa Sofie


"loe belum cukup umur hahahah"


"Ah sue, Sof woi Sofie, loe malah ninggalin gue, mau kemana loe? tanya Nia yang melihat Sofie berjalan menuju kebun mini keluarga Prakoso


"mending loe minta keranjang tau plastik kresek sama mbok Iyah deh" ucap Sofie yang sudah naik ke pohom mangga


"Astaga loe naik-naik, gue baru tau cewe kalem kaya loe bisa naik pohon" teriak Nia dibawah pohon


"Sttt udah bawel, nanti mbok Iyah ngadu sama mama bisa kena omel gue naik-naik begini" ucap Sofie setengah berbisik


"Ngomong-ngomong ini rumah lengkap baget belakangnya sampe ada kebun buah gini" ucap Nia mengedarkan pandangannya


"Papa buatin kebun buah ini buat gue karena gue suka rumah banyak pohon buah-buahan, semua buah yang ditanam kesukaan gue.


Nia nih tangkep, mangganya udah mateng, yang mentah jangan sampe tangkainya putus ya, atau loe gue suruh naik petikin yang bertangkai"


"Ah loe ribet Sof, nanti kalau loe makan nih mangga, tangkainya juga loe buang, apa mau loe makan juga itu tangkai mangga? " gerutu Nia sambil mengumpulkan buah yang di oper Sofie


"gue mau pajang, puas loe" ucap Sofie diatas pohon sambil senyam -senyum


"Sof, gue mau kesana dulu, ada jambu kristal gede-gede banget" ucap Nia meneteskan air liurnya


"Ambil aja yang udah gede semuanya, sisanya kita bikin manisan jambu" teriak Sofie dari atas pohon

__ADS_1


Lalu Nia berjalan menuju pohon jambu kristal, ia tak memperhatikan tiba-tiba si pemilik rumah datang dengan mbok Iyah


"loh nak Nia? Sofie kemana? kata mbok Iyah tadi di taman belakang sama kamu? " tanya bu Prakoso celingak-celinguk


"bener Nyah tadi non Sofie sama non Nia memang di taman belakang, tapi kemana ya? " ucap mbok Iyah menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Eh tante apa kabar" ucap Nia terkejut sambil mencium punggung tangan bu Prakoso


Nia bingung harus menjawab apa, ia melihat ke arah pohon yang di naiki Sofie, dan Sofie memberi kode untuk tutup mulut, ia dengan perlahan turun dari pohon


"Tante nanya Sofie kok malah bengong" ucap Bu Prakoso yang bingung


Sofie baru mendaratkan kakinya ke tanah, namun ia melompat terkejut karena dari belakangnya terdengar suara seseorang yang memanggilnya dengan nada tinggi


"Astaga Sofieeeee" teriak pak Prakoso yang ternyata sedang berjalan mendekati pohon yang Sofie naiki dan betapa terkejutnya ia melihat Sofie diam-diam turun dari pohon


Bu Prakoso, mbok Iya sontak menengok kearah suara pak Prakoso yang sedikit berteriak


Sementara Nia melotot melihat Sofie yang kepergok papanya


"Sofieeee, nih anak ya, ga tahu bahaya, kamu umur berapa masih naik-naik pohon?, nanti kalau jatuh bagaimana?, mau bikin mama jantungan ya".cerocos Mama menjewer kuping Sofie


Sementara Nia tertawa terpingkal-pingkal melihat Sofie yang dihukum mamanya


"Puas loe" ucap Sofie dongkol melihat sahabatnya yang puas menertawainya


"Mama lepasin, apa mama gak kangen sama anakmu yang cantik ini" ucap Sofie dengan wajah melas


"ingat kamu sudah punya suami, masa iya naik-naik pohon seperti itu, apa kata suamimu nanti" ucap pak Prakoso menggelengkan kepala


"Dengar kata papamu tuh" ucap mama sambil mencubit hidung bangir Sofie


"hehehe, mama kangeeennn" ucap Sofie sambil bergelayut manja pada bu Prakoso, ia coba mengalihkan pembicaraan mamanya dan membuatnya tak marah lagi.


"Mama juga kangen, makanya kami buru-buru kembali ke tanah air begitu mbok Iyah bilang kamu dirumah" ucap Bu Prakoso membelai rambut Sofie


"Yuk kita masuk, ayo Nia, biar nanti mbok Iyah sama mang Ujang yang bawa masuk buah-buahan yang kalian petik" ucap mama sambil merangkul Sofie

__ADS_1


mereka lalu duduk di teras taman belakang


"Jadi sayang, kemana suami mu? kenapa kamu kesini gak sama dia?" tanya Papa sambil meminum kopi nya


"Ido lagi gak bisa kesini pa, Sofie yang mau kesini, kangen rumah ini, kangen kalian" ucap Sofie kembali memeluk mama


"Sayang, sayang kamu itu sudah bersuami, jadi harus ikut suamimu kemanapun dia berada.


Apa kata Ido jika kamu seperti itu, nanti dikira kami tidak mendidik putri kami" ucap mama menasehati.


"Iya ma, pa, maaf"


"Kami tidak melarang kamu mau datang atau tinggal lama sekalipun dirumah ini, asal Ido ikut" ucap papa lagi


Bruuukkk


Sofie merasa kepalanya pusing, pandangannya kabur lalu ia jatuh tak sadarkan diri, tubuhnya merosot dari tempat duduk


"Sofieee, ya Allah kamu kenapa nak? papa sih anak dimarahin, jadi gini deh" ucap mama menyalahkan suaminya


papa langsung menelpon dokter Ridwan, kebetulan, ketika tiba di bandara, dokter Ridwan sudah di telpon papa untuk memeriksa kesehatan istrinya, sehingga hanya dalam itungan menit dokter Ridwan sudah berada di kediaman Prakoso


Mama nampak terkejut, panik dan matanya berkaca-kaca, begitu pula Nia yang menyalahkan dirinya sendiri karena ia tidak melarang Sofie yang naik ke pohon, ia berfikir jika Sofie kelelahan atau apalah.


Yang jelas mereka semua kwatir dengan keadaan Sofie


Teman-teman bisa nebak gak Sofie kenapa??


mengapa ia tiba-tiba tak sadarkan diri?


Bagaimana reaksi Prakoso saat tahu alasan mengapa Sofie berada di rumahnya tanpa Ido?


ayo yang jawab bener author akan upload dua chapter langsung di chapter selanjutnya...


Seperti biasa, jangan lupa like and coment ya


Dukungan Reader sangat berarti untuk Author

__ADS_1


terima kasih


pooh


__ADS_2