Aku Yang Tersakiti

Aku Yang Tersakiti
Innalillahi Wa Inna Illahi Rojiun


__ADS_3

”Ssssttt, jangan meminta maaf lagi, sudah dua puluh lima tahun pernikahan kita, dan terakhir aku mendengar mu memanggilku mas ketika Ido masih kecil.


Tania,,, aku mencintaimu sangat mencintaimu sayang, dahulu, kini dan nanti aku akan selalu mencintaimu.”


Haryo batuk beberapa kali dan darah segar keluar dari mulutnya


Tania panik dan akan memanggil dokter namun Haryo menariknya dan melarangnya


”Tania tetaplah di sisiku, aku mohon.


Aku minta maaf jika belum bisa membahagiakanmu dan aku mohon maaf tidak bisa menepati janjiku padamu . uhuuukkk


Aku titip anak-anak, jaga mereka untukku. dan untuk Ido, bantu ia kembali kejalan yang benar, aku percaya kamu mampu. uhuuukkk" Haryo muntah lagi dan kali ini darah keluar juga dari hidungnya


"Peluk aku Tania, hantar aku, aku sudah tidak kuat”


ucap Haryo lirih hampir tak terdengar


Tania memeluk suaminya dan membisikkan kata


"Innalillahi Wa Inna Illahi Rojiun" Haryo mengikuti setiap kata Tania dengan terpatah-patah sampai akhir dan....


Tuuuuuuttttttttttttttt


Alat medis menunjukan garis lurus, suster memapah tubuh Tania yang penuh darah suaminya keluar dari ruang perawatan


beberapa perawat dan dokter melakukan tindakan medis, namun nyawa Haryo sudah tak terselamatkan.

__ADS_1


Dokter menggeleng dan menutup wajah Haryo yang tersenyum dalam damai. Suster mencatat waktu kematian Haryo


Kamis, pukul dua puluh nol nol waktu Indonesia bagian barat.


Tania yang tak kuasa menerima kenyataan ditinggal pergi untuk selamanya, terkulai tak sadarkan diri


”Innalillahi wa Inna Illahi Rojiun, papaaaaa” ucap Risya parau, air matanya kini menetes. ia tak peduli malu lagi, ia menangis memeluk jasad Haryo yang tak bernyawa


”Papa maafkan Risya belum bisa bahagiakan papa, Risya janji akan menjaga mama dengan nyawa Risya sendiri, menyayangi mama dan membuat kak Ido sadar akan kesalahannya dan bertaubat.


Risya ikhlas kan papa, papa sudah gak merasakan sakit lagi. Semoga Papa di tempatkan di surga, di lapangan kubur dan Allah ampuni segala dosa papa. selamat jalan papaku tercinta”ucap Risya lirih memeluk dan mencium pipi Haryo.


Risya meletakkan jasad Haryo perlahan, ia menghapus air matanya. Risya memandang papa nya yang seperti orang tertidur dengan senyum melekat di bibirnya.


Risya menuju ruangan perawatan yang berada di sebelahnya di mana mama nya di rawat.


Risya menggenggam tangan Tania. ia sedih melihat kondisi mama nya kini. Suster sengaja memberikan Tania obat tidur sehingga ia bisa beristirahat, karena sebelumnya ia menangis histeris.


Setelah menitipkan mama nya pada perawat, Risya bergegas mengurus kepulangan Jenazah papa nya dan menghubungi para kerabat.


Sementara di kediaman Prakoso


Prakoso terlihat tegang saat mereka sedang duduk menikmati kebersamaan setelah makan malam.


"Pa, kenapa wajah papa pucat begitu? siapa yang menelpon?” Tanya Bu Prakoso menyentuh punggung suami nya.


”Bukan siapa-siapa, ayo mama kita istirahat” ucap Prakoso yang bersikap aneh membuat istrinya mengerutkan dahi bingung

__ADS_1


”Mama akan menyusul papa mu, selamat malam sayang"ucap Bu Prakoso mencium kening Sofie


”malam ma” ucap Sofie merasa curiga jika papa nya menyembunyikan sesuatu.


Setelah mama nya pergi, diam-diam Sofie mengikuti mama nya yang ternyata bukan kembali ke kamarnya, melainkan menuju ruang kerja suaminya, Sofie melihat dari kejauhan Prakoso sudah menunggu istrinya.


pintu ruang kerja tertutup dan Sofie perlahan mendekati dan berusaha mencuri dengar percakapan di dalam


”Sebenarnya ada apa sih pa, mama jadi penasaran. Pakai acara bohong sama anak sendiri”


”Ma, besan kita meninggal, Haryo meninggal ma, tadi jam 8 malam. barusan orang yang papa kirim untuk mencari kabar Ido memberitahu”


"Innalillahi Wa Inna Illahi Rojiun, ya Allah musibah apa lagi ini?” ucap Bu Prakoso dengan wajah sedih.


kita harus melayat pa, walau bagaimanapun Haryo itu teman papa dan masih besan papa. yang bersalah anaknya."


Bruuuuuggh


”Suara apa tuh ma?Seperti dari depan pintu"ucap Bu Prakoso .


lalu Bu Prakoso membuka pintu ruang kerja dan betapa terkejutnya ia menemukan Sofie sudah tergeletak tak sadarkan diri


”Ya Allah Sofieeee, papaa Sofie paa” teriak Bu Prakoso


Prakoso sontak lari mendekati istrinya


”Mang Ujaaaang, mbok Iyaaaaahhh"teriak Prakoso panik

__ADS_1


__ADS_2