Aku Yang Tersakiti

Aku Yang Tersakiti
Meminta Doa Restu


__ADS_3

Hubungan Sofie dan Ido kian Hari kian erat, Ido pun sudah melamar Sofie, namun Sofie belum memberikan jawabannya.


Sofie ragu akan keputusannya, ia memilih memperkenalkan Ido terlebih dahulu kepada orang tua Almarhum Agus, walau. bagaimanapun mereka juga orang tua bagi Sofie.


Setelah sehari yang lalu, Sofie membawa Ido mengunjungi keluarganya, hari ini giliran Sofie membawa Ido menemui Prakoso dan Istrinya.


Sepanjang perjalanan Sofie merasa tegang memikirkan bagaimana reaksi dan tanggapan mama dan papanya.


Walaupun kabar kedatangannya sudah di sampaikan oleh Sofie, dan antusial mama dan papa nya luar biasa terdengar bahagia, namun Sofie tetap merasa ada yang mengganjal di hatinya, bagaimanapun mereka adalah orang tua Almarhum tunangannya, Sofie harus menjaga perasaan mereka, ia takut kedatangannya dengan Ido menyakiti hati mereka


Tibalah mereka di rumah megah kediaman Prakoso.


mama menyambut denga gembira di depan pintu rumah utama


"Assalamu alaikum"


"wa alaikum salam"


" ma, pa perkenalkan ini Ido teman Sofie"


"mereka saling berjabat tangan, Prakoso nampak sedikit tegang, matanya tak lepas memperhatikan Ido


"ayo-ayo kita masuk, jadi pada bengong" ajak mama


Ido mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan yang di lewatinya. bukan saja rumah ini megah dan mewah namun juga semua perabotan dan suasana dalam rumah ini terkesan clasic elegand.

__ADS_1


"Jadi nak Ido kamu sudah berapa lama kenal anak kami? " tanya Prakoso membuka pembicaraan ketika mereka sudah duduk di ruang tamu, sementara Sofie dan bu Prakoso sedang berada di dapur mempersiapkan makan malam


"Sofie teman Sekolah menengat Atas saya om"


"apa kamu serius dengan anak saya, seberapa serius kamu? tanya Prakoso lagi


" Om boleh percaya sama saya, saya serius om, saya meminta izin untuk serius dengan anak om, saya ingin menjadikan Sofie sebagai pemdamping hidup saya"


"Apa kamu pikir kamu layak dengan anak saya? apa kamu serius dengan ucapan kamu? kamu tahu siapa saya? jika kamu cidera janji dan menyakiti anak saya. kamu akan menerima akibatnya, saya pastikan itu" ucap Prakoso menatap tajam Ido


"saya akan berusaha memberikan Sofie yang terbaik yang saya bisa, saya janji akan membahagiakan anak om. Om bisa memegang ucapan saya"


"baik, saya pegang ucapan kamu.


"baik om"


"ngomongin apa sih pa, sampe anak orang tegang gitu" ucap Bu Prakoso sambil membawa nampam berisi cemilan, di ikuti dengan Sofie yang membawa minuman di nampamnya


"Siapa yang tegang, papa cuma sedang membahas masalah bisnis dengan nak Ido, iya kan nak?"


"iya kami sedang bahas masalah bisnis, dan saya harus banyak belajar sama om Prakoso" ucap Ido menimpali


"baiklah nak Ido, om tinggal dulu, kalian lanjutkan bicara , ayo ma" ajak Prakoso berjalan meninggalkan Ido dan Sofie


"aku yakin apa yang dibicarakan papa bukan masalah bisnis, soalnya aku lihat kamu tegang banget, maafin papa ya do, beliau bersikap begitu karena sayang banget sama aku"

__ADS_1


"kamu ga usah kwatir sayang, aku rela lakuin apa aja demi dapat restu dari mama dan papamu, ini sudah kewajibanku meyakinkan mereka, jika aku benar-benar mencintaimu dan akan membahagiakanmu"


Ido menggenggam erat tangan Sofie.


"makasih sayang"


"udah jangan banyak pikiran. kamu percaya sama aku ya, kita pasti bisa dapat restu mereka" Ido tersenyum mengecup punggung tangan Sofie


Sementara di ruang kerja


"papa jujur deh sama mama, pasti papa ngomong sesuatu yang membuat nak Ido tegang gitu"


papa gak ngomong apa-apa" sangkal Prakoso


"papa, mama kenal papa berpuluh tahun, jadi mama kenal karakter papa luar dalam. Jangan terlalu keras pada calon Sofie pa, mama takut nak Ido takut dan meninggalkan Sofie. Anak kita sudah berusaha membuka diri, kita sebagai orang tua harus mendukungnya"


"papa beneran gak ngomong apa-apa, hanya memberi sedikit wejangan, ya kalau Ido meninggalkan Sofie itu berarti ia gak cocok buat anak kita ma, mama percaya sama papa deh, papa gak buat macam-macam. Papa hanya melakukan sesuatu hal untuk melihat sejauh mana kesungguhan pria yang anak kita bawa, sekaligus melindungi anak kita"


"baiklah mama serahkan semua sama papa, mama hanya ingin melihat Sofie bahagia dan memiliki anak. Bukankah apap juga gak sabaran pengen menimang cucu"


"iya iya"


"oh ya pa, apakah kita sudah waktunya memberitahu Sofie tentang surat wasiat kita yang kedua?


"papa rasa belum saatnya, karena papa masih ragu dengan pria itu. jika mereka nanti menikah dan pernikahan mereka sudah menginjak empat tahun kita baru membuka wasiat kedua, papa gak mau jika kita beritahu sekarang maka laki-laki siapapun calonnya nanti akam memperalat Sofie, papa ingin semua sesuai dengan harapan papa. Sofie menikaj dan hidup bahagia dengan lelaki yang mencintainya dan menerimanya apa adanya

__ADS_1


__ADS_2