
Sofie mendekap kupingnya sambil menangis, ia tak ingin mendengar suara Ido, wajah Ido segala tentang Ido, Sofie membenci Ido.
Tak lama kemudian Prakoso masuk dan memaksakan senyum untuk menenangkan hati putrinya
"Papa usir orang itu pa, jangan biarkan dia menampakkan batang hidungnya lagi depan Sofie"
"Iya sayang, papa sudah usir dan taruh beberapa bodyguard agar dia gak bisa mendekati kamar ini"
"Makasih pa" ucap Sofie memeluk Prakoso.
dalam pelukan anaknya, Prakoso menitikan air mata, hatinya terasa tercabik-cabik melihat putrinya hancur.
Prakoso berusaha tegar demi Sofie walau rasanya dada ini sesak.
Prakoso buru-buru menghapus air matanya
"Papa Janji, papa akan membalaskan apa yang kamu alami, papa akan buat manusia hina itu merasakan pedihnya, sakitnya dan rasa kehilangan" gumam Prakoso dalam hati
"Pa, Sofie boleh lihat anak Sofie ga pa? "
"Apa kamu yakin sudah siap? " tanya Prakoso yang di balas anggukan mantab Sofie
"Ikhlaskan semua yang sudah terjadi, Allah tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan umatnya, papa tahu Sofie kuat ya nak.
Ada papa dan mama serta kedua orangtua kandungmu, kami selalu ada buat kamu"
"Makasih, maaf Sofie belum bisa bahagiakan kalian.
Sofie ikhlas pa, Insha Allah ikhlas walau berat.
Sofie akan belajar mengikhlaskan nya"
Prakoso menelpon kedua orangtua kandung Sofie yang menjemput jenazah cucu mereka.
__ADS_1
Tak lama kemudian mereka sampai di kamar Sofie
"Besan? " tanya Bimo ragu.
Prakoso mengangguk dan Bimo perlahan mendekati putrinya
Tangan bu Prakoso menggenggam tangan Sofie,menguatkan.
dan Sri memegang bahu putrinya memberi kekuatan.
"Yang tabah dan ikhlas ya ndok" ucap Sri yang di balas anggukan Sofie
Bimo duduk di sisi tempat tidur lalu membuka kain penutup wajah cucu nya
Seorang gadis kecil cantik berhidung mancung dan kulit putih bersih terlihat tersenyum
"Anakku yang malang maafkan mama mu ini" gumam Sofie mengecup pipi dan kening jenazah anaknya
"Mama Ikhlaskan kamu sayang, dan maafkan mama"ucap Sofie lirih di sisi kanan telinga putrinya lalu menutupnya kembali.
"Istighfar sayang, kamu harus kuat. masih ada kami yang mencintaimu" ucap Sri memeluk erat putrinya
Sementara di ruang perawatan Haryo
Ido sedang bersimpuh di depan kamar rawat Haryo, mama nya tidak mengizinkan ia mendekati ataupun menampakan wajahnya pada Haryo
Tania sangat murka, dan berduka.
Ia kehilangan cucu dalam kandungan Sofie sekaligus menerima kenyataan semua karena ulah Ido, ditambah jantung suami nya yang kumat.
Tania merutuki dirinya yang gagal sebagai seorang ibu.
Ia terlalu memanjakan Ido, membenarkan setiap kelakuan Ido dan menutup mata untuk semua kesalahan Ido
__ADS_1
kini apa yang ia tanam itu lah yang ia tuai.
Tania menangis sesegukan di sisi tempat tidur Haryo, sejak terkena serangan jantung Haryo belum sadarkan diri
"maafkan mama pa, mama selama ini salah, mama bukan istri sekaligus mama yang baik.
mama gagal sebagai seorang ibu, tidak. bisa mendidik Ido dengan benar, please bangun pa, mama. butuh papa" ucap Tania menggenggam tangan suaminya.
Hanya bunyi alat medis yang terdengar di sela-sela tangis Tania.
Tania sudah mengunjungi Sofie, namun Sofie menolak untuk menemui nya, Sofie hanya mengirimkan pesan jika ia memaafkan dirinya, namun Sofie belum mau ditemui.
Tania sadar jika sikap Sofie seperti itu sebab Tania lah yang salah, ia mertua yang tidak baik dan membenci Sofie waktu dulu, sehingga kini Tania menerima semua nya.
Risya yang datang membawakan makan siang mama nya, melihat Ido di depan pintu kamar rawat papa nya langsung emosi. ia menarik Ido dengan kasar
"Gue udah pernah ngingetin loe, jangan pernah datang kesini atau menampakkan wajah loe lagi disini, atau gue bikin mamp*s loe" ucap Risya
"Please Risy gue mau lihat keadaan papa"
"Pria di dalam sana sakit karena punya anak macam loe.
Pria di dalam sana bukan papa loe. loe bikin dia sakit seperti itu. apa loe masih gak malu ngaku anak? apa bakti yang udah loe kasih buat dia??? Pergi loe sebelum gue panggil security" teriak Risya marah
Tania yang mendengar keributan di luar, lalu membuka pintu dan mendapati anaknya sedang bertengkar
"Mama tidak mau melihat kamu lagi Ido, Mama malu dan kecewa punga anak seperti kamu, tolong pergi dari kami.
mama sudah anggap kamu tidak ada" ucap Tania pilu lalu berlari masuk ke dalam kamar rawat, Risya yang terkejut mendengar perkataan mama nya terkejut lalu menyusul mama nya masuk ke dalam kamar rawat Haryo
"Ma, mengapa mama lakukan itu? mama jangan seperti itu, Risya tahu mama tersiksa mengucapkan Itu, kita bisa meminta kak Ido jangan mendekat, itu sudah cukup"
"Risya, mulai saat ini mama hanya punya anak satu yaitu kamu" ucap Tania memeluk Risya dan menangis tersedu-sedu
__ADS_1
"Mama... " ucap Risya tercekat, ia tak mampu berkata apa-apa. hatinya sakit melihat wanita yang melahirkannya menangis dan terluka