
Sofie terlihat sumringah, senyum tak lekang dari bibirnya.
Mereka lalu berkeliling dari ruangan satu keruangan lainnya hingga ke kamar utama,.
Disana sudah terpasang foto pernikahan Sofie dan Ido yang menghias dinding kamarnya.
Sebuah tempat tidur bernuansa etnic jawa terbuat dari kayu dengan tiang2 di setiap sudutnya, dengan hiasan kain di tengah dan menunjuntai di sisi-sisi tiang.
"bagaimana kamu suka sayang? tanya bu Prakoso
"Suka, suka banget ma, makasih banyak mama papa, selalu tahu kesukaan Sofie.. " ucap Sofie antusias berlari menuju tempat tidurnya lalu berguling-guling diatasnya, layaknya anak kecil
Ido hanya bisa menggelengkan kepalanya dan tak henti-hentinya tersenyum melihat tingkah laku istrinya, sementara Prakoso dan Istrinya tersenyum penuh kebahagiaan
"Apa kamu mau tidur? ayo kita lihat tempat selanjutnya" ajak Ido ketika mendekati istrinya
Sofie langsung beranjak dan menggandeng bu Prakoso , tanpa memperdulikan Ido yang tersungut-sungut di belakangnya
Mereka berhenti di belakang rumah. Sofie memandang takjub pemandangan di depannya. ia langsung berlari dari sudut satunya kesudut lainnya
"Ah mama sama papa is the best pokoknya, tau aja Sofie pengen banget rumah yang banyak pohon buah-buahannya trus ada lahan buat berkebun...
Ditambah lagi ini ahhh, ada gajebo di tengah kolam ikan, lalu di dalam gajebo konsep tatami ala-ala jepang
__ADS_1
papa sama mama kok bisa tau persis sih? perasaan Sofie gak pernah ngomong mau rumah seperti apa, tapi papa sama mama bisa wujudin semua impian Sofie"
Sofie mulai menangis terseduh, ia merasa terharu , bahagia dan bersyukur sekali di cintai sebesar ini oleh kedua orang tua almarhum mas Agus.
Perasaannya campur aduk.
"Kok kamu malah nangis sayang? apa kamu gak suka sama kejutan kami? tanya pak Prakoso panik melihat anaknya menangis di pelukan istrinya
"nggak papa, justru Sofie menangis karena sangat bahagia, terima kasih mama, papa, kalian begitu baik sama Sofie,. Sofie sayang kalian"
mereka berpelukan
Ido bisa melihat kedua orang tua angkat Sofie menyayangi Sofie layaknya anak sendiri.
terlihat cinta dan sayang pada mata kedua orang tua tersebut
"Sama-sama nak Ido, papa dan mama berharap kalian bisa bahagia dan saling mencintai hingga menua bersama, dan satu lagi, buatkan kami cucu yang banyak, ya kan ma" tanya Pak Prakoso pada istrinya yang di balas senyum
"Pasti pa, Ido akan buat sebelas cucu buat papa dan mama, ya kan sayang" tanya Ido menaik turunkan alisnya
"enak aja, kami pikir aku peternakan anak apa, lahirin sendiri sana" ucap Sofie memanyunkan bibirnya membuat semua orang tertawa
"oh jadi kamu maunya dua belas ya yank" goda Ido lagi
__ADS_1
"Kamu kawin aja sama kebo sana" dengus Sofie.
Sofie menatap tajam ke arah Ido dan berjalan menjauh menuju Gajebo.
Sofie masih bisa mendengar gelak tawa mama dan papanya serta Ido
"Dasar laki-laki sinting, seenaknya aja ngucap.
Apa di kira aku mesin percetakan anak kali" gerutu Sofie sambil berjalan mendekati Gajebo.
Sofie melambai-lambaikan tangan, meminta semua orang menyusulnya ikut duduk dalam Gajebo
"Uhm nak Ido, papa bisa bicara sebentar?
"Iya pa, Silahkan"
"Papa hanya mau meminta kamu menjaga Sofie, sayangi dia dan lindungi dia.
Kami walau bukan orang tua kandung Sofie, namun kami sangat menyayangi putri kami tersebut.
Sofie sudah banyak menderita, papa harap dengan adanya kamu, hidupnya akan lebih bahagia dan terlindungi. Papa percayakan putri papa pada kamu" Prakoso menepuk pundak Ido
"Ido janji pa, Ido akan menyayangi dan mencintai serta melindungi Sofie dengan jiwa raga Ido. Papa bisa pegang ucapan Ido"
__ADS_1
" Papa percaya padamu nak, ayo kita susul Istrimu dan mamamu " ajak Prakoso
Mereka berjalan menuju Gajebo