
Risya nampak sibuk, beberapa berkas menumpuk di meja nya.
dan banyak kertas berserakan di lantai
"Arrrrggghhh, aku memang gak suka bekerja di kantor, gara-gara kak Ido di hukum papa, aku jadi terperangkap disini" gerutu Risya mengacak-acak rambutnya yang panjang terkuncir rapih kini berantakan
Tak lama Hilda masuk dengan membawa secangkir kopi, ia menggelengkan kepala melihat ruangan Risya yang berantakan dan muka kekasihnya yang kusut.
"Sayang minunlah kopi ini dulu" ucap Hilda sambil memijit punggung Risya yang tegang
"Terima kasih sayang, kamu mood boster aku"
"Mengapa sudah tiga bulan kamu masih belum bisa menyesuaikan rutinitas kantor sayang? belajarlah cintai pekerjaanmu, maka semua akan mudah karena gak ada beban"
"Aku lebih mencintai kamu" ucap Risya menarik tangan Hilda hingga kekasihnya itu jatuh dalam pangkuannya
"Hush dasar pria mesum, kita belim mukhrim. Nanti di cekal izin nikah sama papa baru rasa kamu" ancam Hilda yang menahan senyum karena berhasil menggoda kekasihnya
"Iya-iya tunggu halal kan? tapi kalo cium sayang boleh kan? " tanya Risya langsung menyosor bibir mungil Hilda sebelum yang empunya bibir menjawab
Mereka berciuman sebentar dan Hilda langsung bangun dari pangkuan Risya
"Posisi bahaya, nanti ada yang terbangun" ucap Hilda lalu beranjak pergi
"Sayang mau kemana? " tanya Risya frustasi melihat kekasihnya hendak keluar dari ruangan
"Jangan lama-lama berdua di ruangan tertutup, nanti ngundang setan"
__ADS_1
"Setan nya udah aku tangkal sayang, aku bete liat berkas-berkas ini, lebih enak lihat kamu"
"Tapi kalau aku lama disini yang ada kerjaan kamu gak selesai-selesai, gambate. love u" ucap Hilda mengirim kiss jauh"
"Love you too" ucao Risya lemah
Hilda lalu menutup pintu ruangan Risya sambil tersenyum dan kepalanya terbentur sesuatu
"Aduh, loh pak Ido? eh kak Ido? maaf gak sengaja"
Ternyata Risya menabrak tubuh Ido yang entah sejak kapan sudah berada di deoan ruangan Risya, sontak wajah Hilda memerah karena malu, ia takut Ido melihat mereka berciuman tadi
"Gak apa-apa Hil, Risya ada gak? tanya Ido
"Aa ada, masuk aja kak" ucap Hilda kikuk
"Baru juga sebentar keluar, apa kamu sudah se rindu itu padaku sayang? " tanya Risya tanpa menoleh ke arah pintu, ia tak menyadari jika orang itu bukan Risya, melainkan Ido kakaknya
"Eheeemmm"
Suara deheman Ido sontak membuat Risya mendongakkan kepalanya
Risya langsung malu karena salah mengira itu Hilda
"Eh kak Ido, sejak kapan kakak di situ?
"Sejak kamu mengira kalau aku adalah kekasihmu itu, si sekretaris.
__ADS_1
Kerja apa pacaran?" sindiri Ido langsung menghempaskan pantatnya di sofa
"Ya kerja lah kak tapi sambil pacaran, asik kan? sambil menyelam minum air"
"Kebanyakan minum air nanti kembung"
"Minumnya sedikit-sedikit, jadi aman" ngeles Risya
"Awas jangan macem-macem di kantor kakak"
"satu macam aja udah pusing, apalagi banyak macem, eneg kak, takut muntah"
"Apa sih kamu? enggak jelas"
"Hahaha, ya dijelasin lah kak, biar jelas. ngomong-ngomong tumben kakak kesini? ada keperluan apa nih? jangan bilang hukuman kakak dari papa sudah di cabut? "
"Mana ada? kakak bete di rumah, tepatnya kesel"
"Kesel kenapa coba? jangan bilang kakak ada masalah sama kak Sofie? awas ya kak jangan macam-macam, atau kakak mau ngerasain bogem mentah aku lagi"
"Kaya jawara kamu main bogem-bogem aja, gini-gini kakak kamu Ris"
"Siapa bilang adek"
"Aih pilihan kakak kesini salah, malah tambah pusing liat kamu, kakak cabut dulu" ucap ido ngeloyor pergi karena dongkol di goda Risya terus menerus
"Kak woiii, mau kemana? kita makan siang dulu yoo"
__ADS_1