Aku Yang Tersakiti

Aku Yang Tersakiti
Anakku yang malang


__ADS_3

Kendaraan yang di kemudikan Andy memasuki lobby rumah sakit, dengan kasar Risya menarik paksa Ido yang babak belur


"Saat ini loe masih beruntung karena gue gak bun*h loe, sebab papa juga sedang dirawat karena jantungnya anfal mendengar berita ini. tapi jika terjadi sesuatu sama papa atau kak Sofie, entah apa yang bisa gue lakukan sama loe" ucap Risya lirih dengan tatapan membunuh


Sepanjang koridor rumah sakit, Ido hanya bisa menunduk, karena tatapan aneh orang-orang padanya, ia hanya mengenakan celana pendek dan kaos dengan wajah yang penuh luka lebam.


Di depan kamar rawat Sofie, terlihat Prakoso, istrinya, Herman kakak Sofie sedang duduk dengan wajah sedih.


Sontak mereka menoleh setelah melihat kedatangan Risya dan Ido


"Assalamu 'alaikum" ucap Risya dan Ido


"Wa 'alaikum salam" ucap mereka serentak.


Herman bangkit dari duduk nya, tanpa basa-basi langsung melepaskan bogem mentah pada Ido, ketika hendak melepaskan pukulan lagi, Prakoso mencegah dan menggelengkan kepala


"Papa mau bicara denganmu" ucap Prakoso lalu berjalan menjauh. Ido dengan ragu mengikuti Prakoso


Hingga mereka sampai di sebuah taman yang berada di depan kamar rawat tersebut


"Dari mana saja kamu? apa yang kamu lakukan sampai-sampai tidak tahu kondisi istri sendiri"


"Maaf pa, Ido ada urusan di luar"


"Apa urusanmu lebih penting dari istri dan calon anakmu? " tanya Prakoso dingin


"Bu.. bukan gitu pa, Ido.. Ido"


"Mengapa urusan penting itu kamu datang hanya dengan pakaian seperti itu? apakah juga perlu matikan ponsel? urusan apa yang seperti itu? " tanya Prakoso lagi, kali ini ia menatap Ido penuh marah hingga matanya merah

__ADS_1


"Maaf pa"


"Apa kamu tahu apa yang menimpa istrimu dan anakmu di sana? gara-gara dia melihatmu berjalan mesra dengan seorang wanita, dia mengejarmu sampai dia pendarahan.


Papa menyesal pernah percaya sama kamu ya Ido, papa menyesal memberikan anak papa sama kamu jika cuma kamu sakiti.


Mulai detik ini, papa tidak izinkan kamu menemui Sofie, papa akan urus perceraian kalian" ucap Prakoso kesal lalu meninggalkan Ido yang terbengong sendiri, beberapa saat kemudia Ido lalu mengejar Prakoso untuk meminta maaf dan memberikan kesempatan kedua.


Ido mendekati bu Prakoso untuk meminta bantuan, namun dengan murka bu Prakoso menamparnya


"Dasar mantu tak tahu diri, kamu sudah membuat putriku terluka dan kehilangan anaknya" ucap bu Prakoso lalu masuk ke dalam kamar rawat Sofie


Sementara di dalam kamar, Sofie baru siuman selepas operasi, tubuhnya terasa lemah dan nyeri karena pengaruh bius sudah mulai hilang


"Ibu, bapak, mama, papa, Sofie dimana? apa yang terjadi pada Sofie? "


Bu Sri hanya bisa menangis dalam pelukan suaminya. dengan lembut bu Prakoso membelai rambut putrinya


"Anak Sofie ma, gimana anak Sofie? "


tanya Sofie memegang perutnya yang rata


"Maa, paaa, ibuu, bapak kemana anak Sofie?? gak mungkin Sofie melahirkan, ini baru jalan enam" ucap Sofie mengedarkan pandangan berharap melihat sosok bayi mungil disana


"Maaf sayang" ucap bu Prakoso


"Maa jelasin sama. Sofie, kenapa mama minta maaf? apa.. apa?? " Sofie seakan menyadari keganjilan itu


"Anakmu tidak bisa di selamatkan, ada kista yang pecah dan pendarahan hebat. dokter sudah berupaya semaksimal mungkin, tapi Allah lebih sayang anakmu, sabar ya sayang" ucap bu Prakoso memeluk Sofie yang menangis pilu

__ADS_1


"Maaa, anak Sofie mama, ya Allah mengapa kamu ambil anak ku... huhuhu"


"Istighfar sayang, semua sudah kehendak Nya" ucap Sri yang melihat anaknya histeris


"Astaghfirullah, innalillahi wa inna illahi rojiun.


Ibu, anak Sofie bu" ucap Sofie memeluk ibu kandungnya dan mama nya


Susana berubah menyesak kan dada, kesedihan yang memenuhi ruangan


"Anak, anak Sofie, Sofie mau lihat anak Sofie mama, please.


Izinin Sofie melihat anak Sofie untuk terakhir kali" ucap Sofie berusaha bangkit, namun bu Prakoso menenangkannya


"Tenangkan dirimu dulu, jika kamu siap, kami akan antar kamu melihat nya"


"Insha Allah Sofie kuat, please papa, Sofie mohon dengan sangat" ucap Sofie menangkup tangan di depan wajahnya memohon.


Sofie mendengar suara Ido yang memanggil-manggil namanya di luar kamarnya.


"Papa, usir orang itu, Sofie enggak mau lihat dia pa.


Bapak tolong usir orang itu" ucap Sofie kembali menangis tersedu-sedu


Jika bukan karena Sofie yang tertekan dan mendapati kenyataan bahwa suami nya selingkuh, mungkin kini ia masih mengandung buah hatinya.


sebenarnya ia sudah mengetahui jika Ido ada main dengan wanita lain. Aofie mendapati keanehan tingkah laku Ido, Ido yang berubah dingin, sering lama jika di toilet dengan membawa ponsel dan Sofie menemukan pesan singkat Ido dengan seseorang, namun Sofie tidak lantas mempercayainya,


Namun pagi itu ia melihat dengan mata kepalanya sendiri kelakuan Ido dibelakangnya

__ADS_1


"Aku mempercayaimu, menerima mu kembali berharap Allah akan membuka hatimu, namun kini aku membencimu, sangat membencimu. Kamu telah membunuh cintaku dan anak dalam kandunganku.


Kini antara kamu dan aku tidak ada hubungan apa-apa lagi mas"gumam Sofie mengepalkan tangannya hingga kuku jarinya menancap pada telapak tangannya, perih dan sakit namun lebih sakit apa yang kini ia rasakan


__ADS_2