Aku Yang Tersakiti

Aku Yang Tersakiti
Malam perjodohan


__ADS_3

Sofie dan kedua orangtua angkatnya sudah sampai di sebuah restoran mewah yang sudah di booking oleh Prakoso


Malam ini Sofie mengenakan dress berwarna salem dipadu dengan highheel warna senada dan tas hitam, rambutnya sengaja di gerai dan wajahnya hanya dioles tipis make up


Ia terlihat cantik alami dan Anggun


Andre menelponnya beberapa saat sebelum ia pergi, Andre juga menanyakan dimana mereka akan mengadakan pertemuan keluarga.


Sesampainya di restoran, seorang pelayan mengantar mereka ke meja reservasi. Nampak dari kejauhan teman papa nya sudah datang dengan anak mereka.


Sofie mengerucupkan matanya, ia merasa pernah melihat pemuda yang duduk di samping kedua orangtua itu


"Hmmm, sepertinya pemuda itu tak asing wajahnya, aku pernah lihat dimana ya? " gumam Sofie dalam hati mencoba mengingat-ingat


"Astaga" pekik Sofie pelan, membuat Prakoso dan istrinya menghentikan langkah mereka dan menoleh kebelakang


"Kenapa sayang? tanya Ratih bingung


"Ah gak ma, Sofie hanya mau terpeleset tadi" ucapnya beralasan


"Hati-hati dong sayang, ayo sama mama sini" ucap Ratih menggenggam tangan putrinya, mereka melanjutkan langkahnya menuju meja dimana sahabat Prakoso telah menunggu


"Malam, maaf lama menunggu" sapa Prakoso begitu mendekat


"Ah Prakoso sahabatku, aku belum lama datang, ayo silahkan duduk" ucap Kuncoro sahabat Prakoso semasa kuliah, mereka berpelukan erat melepas kangen karena trlah lama tak berjumpa


"Jeung Andin apa kabarnya?" Sapa Ratih pada istri sahabat suaminya tersebut


"Baik jeung, jeung juga apa kabar, lama kita gak berjumpa ya? " ucap Andin cipika cipiki dengan Ratih


Sementara mata Sofie membulat sempurna, melihat sosok yang berada diantara kedua orangtuanya


"Anggara? ucap Sofie seolah tak percaya


"Hai Sofie, jumpa lagi kita" ucap Angga tersenyum lebar sambil menjabat tangan Sofie, nampak Prakosk tersenyum melihat mereka sudah kenal


"Oh iya Kun, ini anakku Sofie.


Sekarang aku sudah pensiun, ku serahkan pekerjaan kantor pada putriku ini" ucap Prakoso bangga mengenalkan Sofie pada sahabatnya


"Sofie om" ucap Sofie sopan mencium punggung tangan Kuncoro dan istrinya

__ADS_1


"Anakmu cantik sekali, persis jeung Ratih, anggun" ucap Andini memuji Sofie


Sofie yang di puji hanya bisa tersenyum canggung


"ayo, ayo duduk, senyaman mungkin, lain kali kalian harus mau bertandang ke rumah kami" ucap Prakoso gembira


Mereka makan malam di selingi dengan obrolan ringan


Sofie mendengar ponselnya berbunyi, ia mengabaikannya, hingga beberapa kali terdengar suara ponselnya, pesan singkat masuk.


Prokoso melirik kearah Sofie, ia terlihat kurang senang


Sofie buru-buru pamit menuju kamar mandi untuk mengganti settingan ponselnya menjadi silent


"Siapa sih kirim pesan gak pake jeda, ampun deh" gerutu Sofie merogo ponselnya dari dalam tas, ia mengeryitkan kedua alisnya, ternyata banyak pensan singkat dari Andre, senang dan kesal jadi satu


Andre : Sayang mengapa kamu harus berdandan secantik itu? aku tidak suka orang lain melihatmu


"Ada-ada aja mas Andre" ucap Sofie menggelekan kepala, Sofie membaca kembali pesan Andre


"Sayang, jangan lama-lama jabat tangannya, atau aku patahkan tangan pria itu,dia menatapmu seakan kamu mangsa yang akan ia santap, aku gak suka.


Sofie terbelalak, bagaimana mungkin Andre tahu jika Anggara melihatnya dengan pandangan yang membuat Sofie tak nyaman, apakah jangan-jangan??....


Sofie keluar dari toileylt dan ponselnya bergetar, pesan masuk


Andre : Sayang beri aku senyum, aku bosan disini sendirian, apa aku harus gabung denganmu di sana???


Sofie kembali terkejut, ia mengedarkan pandangannya dan melihat Andre sedang melambai padanya, beruntung tempat itu sedikit tertutup, namun posisi Andre leluasa melihat ke table dimana Sofie duduk dengan orangtuanya


Sofie tergesa-gesa menghampiri Andre yang tersenyum lebar tampa rasa bersalah, ia lamgsung merangkul pinggang Sofie hingga ia jatuh dipangkuan Andre


Sofie melihat sekeliling, beruntung restoran itu sedang tidak banyak pengunjung, dan di sana hanya ada Andre


"Sayang, lepasin. Bagaimana kalau ada yang melihat ?malu" ucap sofie setengah berbisik karena pelayan terlihat sedang menggunjing mereka


"Aku bosan menunggumu disini" ucap Andre sebelum Sofie bertanya


"Mas ngapain disini? astaga apakah mas memata-matai ku?" tanya Sofie mendelik


"Mas gak memata-matai, tapi mas mengawasi rival mas" kilahnya tak mau kalah

__ADS_1


"Itu sama aja mas, apa mas gak percaya sama aku? "


"Mas bukan gak percaya, hanya mas sedang menjaga jodoh mas dari orang mesum itu" gerutu Andre memajukan bibirnya menunjuk pada Anggara yang terlihat gelisah karena Sofie belum juga kembali ke meja makan


"Massss, dia gak mesum, mas aja yang terlalu cemburu" gerutu Sofie


"Jelas, siapa yang gak akan cemburu jika memiliki wanita seanggun kamu, mas hanya menjaga wanita mas saja kok" bela Andre


"Ahhh mas, terserah mas deh, Sofie kembali dulu ya atau papa akan curiga" ucap Sofie bangkit, namun Andre menghentak dan menarik Sofie hingga ia kembali jatuh terduduk di pangkuan Andre


Cup


sebuah ciuman mendarat di pipi Sofie, membuat si empunya pipi tersipu malu, terlebih kini sudah ada beberapa tamu restoran yang duduk tak jauh dari mereka dan melihat kelakuan Andre


"Mas mesum, kesel" ucap Sofie berjalan meninggalkan Andre yang tersenyum penuh kemenangan


"Dia nuduh orang mesum, sendirinya main nyosor aja kaya bebek, dasar pria mesum gak tahu malu" gerutu Sofie dalam hati


Sofie kembali dudik di bangku nya yang menghadap ke arah Andre duduk, Angga terlihat berusaha menarik perhatian Sofie, ia juga berusaha akrab dengan menanyakan banyak hal seputar kegiatan sehari-hari Sofie


"Jadi Sof, kamu besok free gak pas jam makan siang? kita makan keluar yuk, sekalian kami aja aku ketempat restoran yang enak, aku belum hapal Jakarta" ucap Angga tiba-tiba


Prakoso melirik ke arah putrinya yang masih diam


"Sofie besok gak ngantor kok, nak Angga kerumah aja jemput Sofie, ya kan sayang? " tanya Prakoso seolah meminta pembenaran kata-kata nya


" Ah, iya, boleh" senyum terpaksa Sofie, sementara Ratih memandang suaminya tak senang karena memaksakan kehendaknya tanpa bertanya terlebih dahulu pada Sofie


"Bagus lah kalau begitu, Angga takut aja Sofie sibuk" ucap Angga tersenyum


"Iiya, gak sibuk kok" ucap Sofie canggung, padahal ia ada meeting penting, namun apa boleh buat, Prakoso sudab berkata, ia tak mau papa nya kehilangan muka karena tak menepati ucapannya


"Kalau begitu sudah malam, besok saya harus kembali ke kota S, sedangkan Angga dan mamanya masih tinggal" ucap Kuncoro bangkit, mereka lalu berpamitan, nampak kedua orangtua sengaja membiarkan putra dan putri mereka berjalan di belakang


"Sof, besok aku jemput jam berapa? " tanya Angga tak sejak tadi tak berkedip menatap Sofie membuat Sofie jengah


"Ah itu, bagaimana jika kita bertemu di luar, Aku akan kirim alamat tempatnya, maaf ya Angga, soalnya aku ada keperluan penting yang gak bisa dibatalkan"


"Its ok, aku ngerti kok, wanita karir sukses kaya kamu jam kerja padat, bisa jalan sama kamu aja aku sudah senang kok" senyum Angga


Entah mengapa, walau Angga tampan dan ramah, Sofie merasa tak nyaman dekat dengan pria ini, selain pria ini tak bosan-bosannya menatap Sofie sehingga membuatnya canggung, namun ada hal lain yang tersembunyi di balik senyum manisnya

__ADS_1


__ADS_2