
Setelah seminggu Sofie menginap di kediaman Haryo, Hari ini Sofie pamit pulang, ia harus mempersiapkan diri untuk sidang cerainya.
Karena agenda pertama dalam proses perceraian adalah mediasi yang jadwalnya seharusnya minggu kemarin, karena ada musibah Meninggalnya orang tua tergugat yaitu Ido, sehingga jadwal mediasi diundur menjadi hari ini.
Sofie sudah kembali di kediaman Prakoso, ia sudah selesai sarapan pagi dan terlihat Prakoso dan istrinya sudah rapih juga untuk menemani anak mereka di persidangan.
Sofie dan kedua orangtua nya menuju pengadilan di bilangan jakarta selatan, mereka bertemu pak Hendra, asisten pribadi Prakoso dan seorang pengacara yang di pilih Hendra.
Setelah berjabat tangan, mereka di bawa kesebuah ruangan dan disana Sofie bertemu Ido untuk pertama kali setelah musibah yang menimpanya, Ido terlihat muram dan kusut. ia berusaha menghampiri Sofie yang terlihat tegang memegang tangan mama nya kencang.
Pak Hendra tanpa komando menghalangi langkah Ido.
"Minggir pak, saya mau bertemu istri saya, saya perlu bicara dengan Sofie"
"Tidak ada yang bisa di bicarakan lagi, mba Sofie sudah tidak mau bicara, sebaiknya kamu simpan kata-katamu di persidangan nanti" ucap Hendra dingin dengan sorot mata membunuh
__ADS_1
Ido kembali duduk dan mendengus, ia kesal, namun tak bisa berbuat apa-apa. dan pengacara nya meminta Ido tenang
Setelah beberapa saat seorang petugas pengadilan keluar dan memanggil Sofie serta Ido yang di dampingi oleh pengacara masing-masing.
Di dalam Ido bersikukuh tidak mau menceraikan Sofie, sedang Sofie tetap pada pendiriannya, hingga pihak pengadilan memberikan waktu kedua nya bicara dan meminta pengacara masing-masing keluar dari ruangan tersebut.
"Sayang maaf kan aku" ucap Ido menangis dan bersimpuh di kaki Sofie, namun Sofie bangkit dan menjauh, ia merasa jijik, tak ada rasa simpati atau apapun melihat apa yang di lakukan Ido
"Please berhenti membuang-buang waktu, kamu mau menangis sampai nangis darah aku tak peduli, asal kamu tahu, maaf ku sudah habis sejak saat kamu membuatku melihat dengan mata kepala ku sendiri kamu berselingkuh.
"Itu tidak seperti yang kamu pikirkan sayang" ucap Ido berkilah
"Aku,,, aku benar-benar mencintaimu, maafkan aku sekali ini saja" ucap Ido mengatupkan kedua tangannya memohon
"Tidak ada maaf bagimu, aku sungguh kecewa sama kamu.
__ADS_1
kamu tidak pernah berubah, dan kamu sudah membuat aku kehilangan anak kita, sejak saat itu perasaanku mati terkubur bersama jasad anak kita.
kamu dan aku sudah tak ada harapan lagi, jika kamu benar-benar mencintaiku, maka lepaskan aku. aku sudah tak ingin memiliki hubungan apapun denganmu walau hanya kenal.
kita jalani hidup kita masing-masing" ucap Sofie lalu beranjak dari ruangan tersebut dengan kepala terangkat, Sofie berusaha tegar, tak ingin terlihat lemah dan menangis di depan Ido.
Lalu Sofie menemui kedua orangtua angkatnya yang terlihat cemas. mereka merangkul anak mereka menuju kendaraan, sementara Ido hanya bisa menatap sedih kepergian Sofie.
Setelah mediasi pertama, Sofie masih harus menjalani mediasi keduanya seminggu kemudian. Namun ia sudah membulatkan tekad.
Awalnya ia takut jika akan goyah, namun setelah berbicara tadi ia sama sekali tidak merasakan apapun dan makin ingin segera lepas dari Ido.
Sesampainya di mobil, Sofie menangis dalam pelukan bu Prakoso, ia merasa lega sudah mengeluarkan segala uneg-uneg yang ada dalam hati nya. beban yang selama ini menghimpit dada Sofie seakan hilang.
Kedua orangtua angkatnya membiarkan Sofie menangis hingga puas, Karena esok tak ada tangis yang akan keluar.
__ADS_1
Terdengar Prakoso sedang Menerima pangilan telepon dari orangtua kandung kandung Sofie, Bimo dan Sri yang kwatir menghubungi Prakoso untuk mengetahui kabar terbaru dari anak nya dan proses perceraian Sofie.
Prakoso meyakinkan mereka agar tak perlu kwatir karena ia akan selalu mendampingi anak mereka untuk melewati semuanya.