Aku Yang Tersakiti

Aku Yang Tersakiti
Ngidam Parah IV


__ADS_3

"Apa tuan juga lagi diet ya? kok minta minuman yang sama dengan non Sofie.


brrrr asem bener, air liur mbok ngeces ngebayangin asemnya itu minuman, masih kebayang tadi rasanya itu minuman pas lagi cobain, dasar orang mau kurus nyiksa gitu, mending mbok gak usah diet , semox gini mang ujang aja masih nempel kaya prangko, eh kok jadi ngelantur sih" ucap mbok Iyah bergumam dalam sambil menggelengkan


kepalanya


Mbok Iya lalu membuatkan minuman yang diminta, sesekali ia menengok kearah keluarga kecil di depannya.


Prakoso dan istrinya sedang berbincang-bincang dengan Sofie, sesekali terdengar tawa hangat mereka, berkali-kali mbok iyah melemparkan pandangan kearah mereka dan tersenyum


"Alhamdulillah ya Allah, Allah kirimkan anak yang lain setelah kau ambil anak mereka. Engkau berikan mereka seorang putri yang berbakti dan sayang mereka, menjadi pelipur lara di usia senja tuan dan nyonya, semoga kebahagiaan ini selamanya ya Allah" Doa mbok Iyah dalam hati


Mbok iya datang dan langsung menyuguhkan minuman yang sudah dibuatkan ke meja makan


"Mbok tolong panggilkan nak Ido ya, kita makan dulu"


"Baik tuan" ucap mbok iya melangkah ke halaman belakang


Sofie dengan sigap menyeruput minuman di depannya, caranya minum memang membuat siapapun mengira jika ia sedang meminum sesuatu yang enak dan menyegarkan karena dalam sekejapan mata sudah habis diminum oleh Sofie


"Pa ayo diminum, enak banget pa, segeeerr" ucap Sofie


Prakoso lalu mengambil gelasnya dan langsung meminumnya namun kemudiam ia menyemprotkannya kembali semua keluar, wajahnya memerah dan matanya mengejap-ngerjap lucu membuat Wida tertawa melihatnya, alih-alih menolong suaminya yang bergidik keaseman

__ADS_1


"Papa, papa, lagi latah aja sih, main niru-niru apa yang di minum anaknya, tanpa tanya minuman apa? pake gaya-gayanya bilang kompak, emang enak ? tuh rasain kompaknya" ucap Wida memegangi perutnya yang sakit karena tertawa melihat ekspresi lucu suaminya


"puffttt pufffttt minuman apa itu sih nak? asemnya masya Allah, ampun papa gak kuat. ini juga mama bukan kasih tahu, udah suaminya keaseman bukan bantuin ambil apa kek buat ngilangin asem malah ketawa senang" gerutu Prakoso meminum air putih di depannya sambil sesekali menyeka lidahnya dengan tisu sambil meringis menahan asam yang masih tersisa di lidahnya"


"maaf pa, mama lucu aja liat muka papa gitu, minumannya sih memang enak, tapi bagi Sofie aja, gak bagi kita pa.


namanya juga bawaan orok"


"Habis papa lihat Sofie kayanya nikmatin banget, jadi papa pengen, eh mama bilang tadi apa? bawaan orok? apa... "


"Iya kita akan punya cucu" ucap Wida yang melihat Prakoso masih mencerna kalimatnya


"Apaa? Alhamdulillah ya Robb, Engkau mendengar doa Hamba.


Makasih sayang, papa seneng banget denger berita bahagia ini" ucap Prakoso memeluk putrinya


"Iya sayang, makasih ya sudah ngingatin papa"


"memang papamu harus sering dapat nasihat kamu nih, langsung nurut kalau putri kesayangannya yang ngomong"ucap Wida tertawa senang


"Iya-iya papa ngaku salah" ucap Prakoso tak berkutik


"siang pa, ma" ucap Ido mencium punggung tangan Prakoso dan istrinya

__ADS_1


"Siang nak, ayo duduk kita makan siang dulu" ajak Wida


"Kamu dikebun lagi apa Do? " tanya Prakoso yang melihat wajah kusut mantunya


"Anu pa, metik mangga, Sofie minta mangga muda, Ido cari mang Ujang gak ada jadi tadi Ido coba petik sendiri


"Trus mana mangganya yank? " tanya Sofie antusias


" Ada tapi.. "


"Kok pake tapi, aku nanya mangga, dapat gak? "


"Dapat, tapi gak ada gagangnya semua, maaf sayang" ucap Ido menunduk merasa bersalah


"Ih kok gak ada gagangnya kan aku minta ada gagangnya mas, mas gimana sih" ucap Sofie kesal


Prakoso dan istrinya saling memandang bertanya-tanya tak mengerti maksud ucapan Sofie


"Sayang, kan suamimu sudah dapat mangganya, terus kurang apa lagi? kamu kan makan mangganya, apa hubungannya sama gagangnya? tanya Wida menenangkan Sofie


"Tapi Sofie mau mangganya itu masih ada gagang dan daunnya ma, bukan buntung gitu" dengus Sofie kesal sambil cemberut


"Apa... " Prakoso belum meneruskan ucapannya, Wida sudah memberi tanda agar tidak meneruskan ucapannya

__ADS_1


"Ya udah, nanti mama minta pak Jali yang ambil ya, mangga lengkap sama gagang dan daun-daunnya, sekarang kamu makan dulu, kasian bayi dalam kandunganmu pasti sudah kelaperan"


Sofie menuruti semua perkataan Wida,walau dalam hatinya kesal


__ADS_2