
Mobil yang di kendarai Andre meninggalkan kediaman orangtua Sofie, sepanjang jalan Sofie terlihat lebih pendiam, ia tak banyak berbicara dan lebih memilih membuang pandangannya kearah luar jendela kaca mobil Andre
"Sayang, dari tadi mas perhatikan kamu diam saja? apa mas ada salah sama kamu? " tanya Andre memecah lamunan Sofie
Sofie memandang lelaki tampan di sampingnya itu, suaranya lembut dan penuh perhatian, entah mengapa ia merasa tak tega mengatakan apa sebenarnya yang sedang ia pikirkan
"Sayang? apa kamu tidak enak badan? kita berhenti ya di depan" ucapnya lagi sambil memegang tangan Sofie
Andre menghentikan kendaraannya di tepi jalan, ia membalikkan badannya menghadap Sofie
"Apa kita perlu ke dokter? " tanya lagi dengan mimik muka kwatir menyentuh kening Sofie
"Mas, aku baik-baik saja, aku gak sakit" ucap Sofie merasa jengah
"Trus kenapa kamu terlihat lemas dan tak bersemangat? " masih dengan suara lembutnya, Andre membenarkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Sofie
"Mas, Sebenarnya ada yang mengganggu pikiran Sofie, ini mengenai hubungab kita" ucap Sofie menatal lekat Andre, nampah wajah Andre langsung berubah tegang
"Apa kamu mau memutuskan hubungan kita? apa papa atau bapakmu yang memintnya? " cecar Andre
"Maaasss, bukan itu, mas maun tuduh aja dosa tau" sungut Sofie
"Trus apa dong sayang, jangab buat mas mati penasaran" timpal andre
"waktu itu setelah mas pulang, papa dan mama datang.
Mereka menyampaikan keinginan untuk mengenalkan salah satu anak sahabat papa padaku, seperti yang pernah ku katakan padamu.
Awalnya aku kira papa tak serius karena aku pikir papa sudah tahu hubungan kita dan memilih menyerah, namun papa masih ingin melanjutkannya, bedanya adalah aku tidak harus memilih lelaki itu, namun memberi nya kesempatan yang sama seperti padamu" Sofie menghentikan ucapannya, ia menatap wajah Andre, namun raut Andre tak berubah, seakan ia sudah bisa menebak akan hal ini
"Terus? " ucap Andre penasaran
"Aku tak bisa menolak permintaan papa, bukan bearti juga aku setuju dengan perjodohan itu, maaf mas" Sofie menunduk merasa tak enak hati
"Mas tidak akan menyalahkanmu" ucap Andre tenang
"Tapi mas??? " Andre meletakkan jarinya di depan bibir Sofie
"Mas tidak akan menyerah, mas akan terus memperjuangkanmu, karena mas benar-benar cinta kamu" ucap Andre menangkup wajah Sofie, terasa hembusan nafas Andre terasa hangat menyapu wajah Sofie membuat hati Sofie berdesir
Sofie mencari kebenaran di kedua mata Andre, tak ada keraguan di sana, kini ia bisa sedikit bernafas lega atas jawaban Andre
Bukan berarti ia sudah menjatuhkan pilihannya pada pria ini, namun entah mengapa ia merasa kwatir yang tak beralasan.
__ADS_1
Sofie merasa rendah diri jika harus bersanding dengan pria ini, sosok yang di idam-idamkan kaum hawa.
"Sofie hanya merasa tak enak sama mas.
Mas sudah banyak berkorban untuk Sofie, dan kini harus bersabar lagi" Sofie kembali menundukkan wajahnya
memainkan jari jemarinya sendiri.
"Sayang, anggap saja ini cobaan buat kita, mas pernah menunggumu beberapa tahun, apa salahnya harus sedikit bersabar untuk bersamamu selamanya" Ucapan Andre terdengar ringan tanpa beban
"Tapi mas? " Andre kembali meletakkan jari telunjukknya ke depan bibir Sofie, senyum tersungging di bibir nya.
Tangan Andre satunya mengelus rambut hitam Sofie dengan lembut, seolah ia takut rambut itu akan kusut karenanya
"Apa kamu takut mas marah dan kecewa sama kamu? mas hanya takut kamu memilih pria itu dibanding mas.
Tapi mas juga harus realistis, karena itulah mas harus menunjukan keseriusan mas agar kamu tidak berpaling pada mas" ucap Andre memeluk Sofie erat, Sofie merasakan kenyamanan yang ia pernah rasakan dulu ketika bersama almarhum tunangannya, Sofie memejamkan matanya sejenak, tanpa sadar tangannya ikut memeluk tubuh Andre.
Setelah beberapa saat, mereka melepaskan pelukannya,
Andre memandang wajah Sofie penuh cinta, hingga matanya tertuju pada bibir sexy milik Sofie yang sedikit tebal namun merah alami, lalu ia mendorong tengkuk Sofie mendekat ke wajahnya, perlahan ia ******* bibir Sofie
Awalnya Sofie merasa terkejut, namun lama kelamaan ia merasakan sensasi tersendiri, perasaan cinta yang selama ini ia coba tepis.
Ia mencintai Andre.
"Sayang, I love you" ucap Andre di akhiri dengan kecupan lembut di kening Sofie
"Aku juga sayang kamu mas, aku harap kamu tak menarik kata-kata yang sudah kamu ucapkan" ucap Sofie memandang penuh harap pada Andre
"Aku tak akan pernah mengingkarinya, yang ku takut kamu akan tergoda pada pria itu" ucap Andre merajuk
"Hmm jika pria itu lebih baik mungkin" goda Sofie ingin melihat ekspresi wajah Andre yang langsung terlihat muram
"Hahaha aku becanda, mungkin pria itu lebih baik, tapi kamu berkali-kali lebih baik dari pria itu" ucap Sofie tiba-tiba mencium pipi Andre lalu memalingkan wajahnya menahan malu
"Owh jadi sudab beranj curi-curi cium ya" ucap Andre menggelitik tubuh Sofie yang menjerit-jerit tertawa keluar dari mobil menghindar gelitikan Andre
Mereka tak memperdulikan kendaraan yang lewat dan melihat kelakuan mereka yang seperti anak kecil
Seperti kata orangtua, jika jatuh cinta dunia seakan milik berdua, yang lain ngontrak
( Ah author juga dong hehehhe)
__ADS_1
Siang menjelang malam Sofie sampai di kediaman Prakoso, sedang Andre langsung pamit pulang.
Diruang keluarga nampak Ratih sedang duduk menonton sebuah film
"Assalamu'alaikum ma" ucap Sofie menghampiri Ratih, mengecup punggung tangannya dan pipi kanan kiri Ratih
"Wa'alaikun salam sayang, alhamdulillah kamu sudah sampai, sana kamu mandi dan ganti baju, lalu istirahat. Nanti malam papa ngajak kita makan di luar, sekalian berkenalan dengan anak temannya itu"
"Malam ini ma? kok Sofie gak tahu? " tanya Sofie sedikit kecewa
"Maaf sayang, mama tak bisa melarang papa mu, saat ia tahu kamu pulang, ia langsung menghubungi sahabatnya itu, tapi kalau kamu belum siap biar mama yang sampaikan ke papamu" Ratih berucap karena melihat putrinya sedikit kecewa, dan Ratih memahami itu
"Ya udah ma, gak apa-apa, lagi pula Sofie sudah janji kan? sekarang Sofie istirahat dulu ya" Sofie mengecup pipi Ratih lalu melangkH menuju kamarnya
"Ah, aku harus siap, sebaiknya aku bersih-bersih dulu, tubuhku rasanya lengket dan lelah sekali"gumamnya, melempar tas nya kekasur lalu langsung menuju bathtube, berendam
Tiga puluh menit kemudian , terdengar nada dering dari ponsel Sofie yang tergeletak di nakas
Ratih yang sedari tadi mengetuk pintu tak terdengar jawaban, akhirnya masuk kedalam kamar Sofie, terdengar suara shower berbunyi.
Ratih meletakkan segelas juice dan buah potong di meja, ia duduk di bangku beranda kamar Sofie yang terletak di lantai dua
Berkali-kali ponsel Sofie berbunyi membuat Ratih penasaran lalu mendekatinya
My Handsome calling.....
Ratih tersenyum melihat siapa yang menelpon ponsel Sofie
"Hmm, sepertinya Sofie sudah mulai dekat dengan Andre, persis seperti yang besan katakan jika hubungan mereka lebih dari teman. Akhirnya nak Andre bisa menaklukan hati Sofie, sayangnya ia harus sabar menunggu lagi" gumam Ratih tersenyum lebar
Sejak pertama melihat Andre, Ratih langsung menyukainya, selain sopan ada daya tarik tersendiri yang membuat Ratih yakin Andrw cocok dengan putrinya, oleh sebab itj saat Andre meminta izin padanya, ia tanpa pikir panjang langsung memberi izin
Ponsel berdering lagi, dan di kamar mandi masih terdengar suara hair dryer berbunyi
Ratih mengangkat panggilan Andre
"Assalamu'alaikum, ya ampun sayang, lama banget kamu lagi apa sih? aku udah sampe nih di apartemen, aku masih kangen kamu" ucap Andre manja layaknya seorang pria dengan kekasihnya
"Wa'alaikum salam, eheeemmm" ucap Ratih menahan tawa, ia bisa membayangkan wajah terkejut dan malu Andre karena salah mengira jika ia adalah Sofie
"Ta.. tante?? maaf tan, hehe.
Andre kira Sofie" ucap Andre kikuk
__ADS_1
"Hahaha santai aja, jadii sudah ada kemajuan dong? semangat ya, tante mendukungmu. Tante harap kamu bisa bersabar sedikitttt lagi, ok? " Ratih sengaja berkata demikian, ia sangat berharap Andre bisa menjadi mantunya
"Siapa ma? " tanya Sofie tiba-tiba sudab berda di dekat Ratih dengan Handuk diatas kepalanya