
Andre sudah bangun dan berjalan-jalan di sekitar halaman rumah orangtua Sofie
ia sedang menikmati sejuknya udara pagi di pedesaan, saat suara seseorang menegurnya
"Nak Andre, sudah jalan-jalan pagi, Sofie nya pasti masih tidur tuh, habis sholat biasanya dia tidur lagi"
"Eh iya bu, mungkin dia kecapean bu"
"Iya, dia gila kerja nak, ibu sampai kawatir sama anak itu" ucap Sri menarik nafas panjang memikirkan putri satu-satu nya itu
"ibu gak usah kawatir, saya akan menjaga Sofie dan akan mengingatkan nya agar lebih memperhatikan kesehatannya"
"Makasih nak Andre, ibu bisa sedikit lega mendengar nya, ibu percaya kamu bisa menjaga putri ibu.
Anak itu sejak kecil tidak begitu dekat dengan ibu, karena ibu dulu tidak memperlakukan dia dengan baik, mungkin sekarang ia membenci ibu" ucap Sri menghapus air mata nya yang merembas keluar dari sudut mata nya yang sudah mulai keriput
Sri kini menyesali sikapnya di masa lalu, ia karena memiliki kebencian dengan Bim, sehingga melampiaskan nya dengan Sofie.
Sri sudah menyadari kesalahan nya, ia juga
rajin teraphy untuk menghilangkan trauma nya.
Andre tertegun, ia tak menyangka jika masa kecil Sofie begitu keras, ia juga bisa melihat jika ibunda Sofie menyesali kesalahannya di masa lalu
"Bu, Sofie bukan orang yang pendendam, walau saya baru mengenal putri ibu beberapa tahun, tapi saya sangat yakin jika ia orang yang penuh kasih dan pemaaf"
"Nak Andre tidak mengerti kekawatiran ibu" ucap Sri mulai sesegukan
Andre membantu Sri duduk di kursi panjang yang kebetulan berada di sana
"Bu, saya gak tahu bagaimana permasalahan nya, namun dapat saya yakinkan bahwa putri ibu, sangat mencintai ibu dan sangat sayang dengan ibu, saya bisa menjamin itu"
ucapan Andre membuat Sri sedikit tertegun, ia juga ingin sekali percaya, namun terkadang keraguannya datang menyiksa nya dalam rasa bersalah
"Apa ibu tidak bisa melihat jika Sofie sangat menyayangi kalian keluarga nya?, ibu hilangkan ke kawatiran ibu itu"
"Makasih nak Andre, ibu minta maaf karena sudab bercerita yang tidak-tidak, ibu hanya merasa kamu juga akan tahu masa lalu Sofie cepat atau lambat nanti nya setelah jadi bagian keluarga kami"
__ADS_1
Andre tersenyum lebar, rasanya ia ingin sekali melompat kegirangan karena ibunda ke kasihnya memberi nya lampu hijau.
Kini ia hanya perlu mendapatkan restu dari bapak dan orangtua angkat Sofie
"ibu sedang memetik apa? biar Andre bantu" ucap Andre menawarkan bantuan pada Sri
"ini sawi sendok orang menyebut nya, tapi ada juga yang menyebut nya pakcoy.
ibu mau tumis ini sama tahu"
"Wah kedengarannya enak tuh bu, Andre bantu ya? " tawar Andre langsung memetik beberapa pakcoy yang sudah berukuran besar, sedang Sri memetik cabai dan bawang merah yang mereka tanam sendiri secara hidroponik
"Rupa nya kamu di sini mas? " suara merdu seseorang membuat Andre dan Sri menengok kesumber suara tersebut
"Nak Andre bantu ibu petik sayur buat sarapan pagi ini" ucap Sri tersenyum senang
"Masih ada yang perlu di bantu gak bu, biar Sofie aja, ibu pasti lelah, biar Sofie yang masak sarapan pagi nya" ucap Sofie menuntun ibunda tercinta nya kembali duduk dikursi panjang
Sri melemparkan pandangannya pada Andre, sementara Andre tersenyun lebar dan mengangguk
"Gak usah nak, kamu kan tamu, biar ibu yang masak" sanggaj Sri
"Ih ibu nih ada-ada aja, sejak kapan pulang kerumab orangtua tercinta di nilai jadi tamu? justru kalau Sofie pulanv kerumah itu, waktunya Sofie memanjakan bapak sama ibu. Sofie juga harus menunjukkan bakti Sofie pada ibu dan bapak" ucap Sofie memeluk ibu nya erat
"makasih nak" ucap Sri lirih
"Ibu-ibu, gak usab terima kasih lagi, itu sudah kewajiban Sofie.
Justru Sofie yang minta maaf sama kalian karena belum bisa jadi anak yang berbakti"
"Alhamdulillah, kamu memang putri ibu yang baik, ibu takut kamu membenci ibu karena sikap ibu di masa lampau" Sri menitikkan air mata lagi, ia merasa sangat bersalah dan malu pada Sofie"
"Ibu...., Sofie sayang ibu, bapak, kak Herman dan adek Dani. Sofie sangat sayang kalian.
Sofie gak akan bisa membenci ibu,justru Sofie ingin berterima kasih karena Sofie terlahir dari rahim seorang ibu yang kuat seperti ibu, makasih bu, Sofie sayang ibu"
Kedua wanita beda genderasin itu saling berpelukan, kali ini Sri menangis bukan karena bersedih.
__ADS_1
Ia menangis karena sangat senang dan bersyukur Allah telah memberikan nya seorang putri yang amat berbakti
"Ibu merestui kalian, ibu harap kalian bisa menikah sesegera mungkin, ibu ingin memiliki banyak cucu"
"Ibu apa sih" ucap Sofie malu-malu
"Siap bu, saya akan buatkan cucu yang banyak buat ibu" ucap Andre tersenyum jail
"Maaaass" Sofie mendengus, mata nya melotot menatap Andre yang kini sedang tertawa senang karena ibu dengan terang-terangan mendukungnya.
******
Setelah sarapan pagi, Andre berpamitan pada seluruh keluarga Sofie, karena besok ia harus kerja, sebenar nya Andre berat meninggalkan Sofie, namun ia harus membiarkan Sofie menikmati waktu bersama keluarga nya.
Kedua orangtua Sofie hanya mengantar Andre sampai pintu, lalu mereka menarik Dani masuk ke dalam rumah, sementara Herman langsung pergi karena ada kencan dengan kekasih nya.
Tinggalah kini Sofie berdiri di samping kendaraan Andre, menanti Andre naik
"Mas hati-hati di jalan, jangan ngebut, ingat kalau sudah sampai kasih kabar" cerocos Sofie
"iya calon istriku" goda Andre yang terus tersenyun mendengar cerocosan Sofie, bagi nya itu terasa merdu di telinga nya, ia pasti akan merindukan wanita ini beberapa hari kedepan
"Mas jalan dulu ya, kamu makam yang teratur dan mas mohon lebih perhatikan kedua orangtuamu terutama ibh, beliau sangat mengkawatirkan mu"
"Iya sayang"
"Apa coba ulangi" goda Andre
"Iya sayang aku" ucap Sofie malu-malu
"Mas jalan dulu ya, lope u" sebuah kecupan mendarat di kening Sofie
Andre mengendarai kendaraan nya meninggalkan kediaman orangtua Sofie
Sofie masih terdiam memandang kepergian Andre hingga kendaraan nya menghilang di balik pertigaan jalan
Sofie melangkahkan kaki nya masjk ke dalam rumah, baru saja ia hendak membuka handle pintu rumah, sebuah kendaraan yang tak asing bagi Sofie memasuki halaman parkir orangtua nya
__ADS_1