
Sofie memaksa pulang kerumah, ia memohon pada kedua orangtuanya dan Prakoso agar mengizinkannya menyaksikan putrinya di kebumikan.
Setelah berkonsultasi dengan dokter, akhirnya Sofie di Izinkan pulang dengan catatan tiga hari kemudian harus cek up, untuk melihat kondisi kesehatan Sofie.
Prakoso langsung menyiapkan kursi roda, ia meluluskan permintaan putrinya dengan catatan Sofie berjanji padanya untuk mengikhlaskan semua, memulai hidup yang baru.
Masalah rumah tangga Sofie dengan Ido, diam-diam pihak keluarga sepakat untuk memisahkan mereka. namun mereka belum menyampaikan nya pada Sofie.
mereka tidak mau Sofie di sakiti oleh Ido.
Selama ini Sofie tidak pernah menceritakan prahara dalam rumah tangganya, melalui Erna sahabat Sofie mereka baru tahu kebobrokan moral Ido.
mereka menyayangkan atas informasi yang datangnya telat, dan memuji kesabaran Sofie.
Sofie adalah sosok wanita tegar, mandiri dan tidak pernah mau menyusahkan orang sekelilingnya, jadi mereka memaklumi jika sikap Sofie seperti itu.
Harapan mereka kini satu, memisahkan Ido selamanya dan membuat perhitungan dengan Ido.
Mobil yang di kendarai Sofie dan keluarganya memasuki kompleks perumahan Prakoso.
Bendera kuning melambai di depan kompleks, mereka sepakat, rumah duka di tempatkan dikediaman keluarga Prakoso.
nampak tenda dan kursi yang tersusun rapih, beberapa karangan bunga duka cita berjejer di depan pagar, Prakoso memapah Sofie ke kursi rodanya, lalu mendorong Sofie yang duduk dengan wajah pucat dan datar, pandangan mata nya kosong , sesekali terlihat bukit air mata menetes di pipinya.
Beberapa kerabat dan rekan bisnis berdatangan menyampaikan bela sungkawa, Sofie hanya diam dengan air mata yang terus menetes tanpa di sadari nya
__ADS_1
”Sayang, papa tahu ini berat, kami semua juga sedih, kami harus tegar.
Jangan kamu tahan kepergian anakmu dengan air mata, ikhlaskan semua nya agar hatimu tenang, istighfar ya sayang” Prakoso menepuk pundak Sofie
Sofie menghapus air mata nya hingga ke pemakaman,Sofie hanya sesekali menghapus air matanya yg menetes, namun sudah sedikit tenang.
Setelah prosesi pemakaman selesai, satu persatu orang pergi, kini tinggal Sofie dan kedua orangtuanya dan Prakoso serta istrinya
Sofie menaburkan bunga di pusara makan anaknya yang di beri nama Aisya
’Aisya, mama ikhlas kan kamu, semoga kita nanti di pertemukan lagi di Padang Mahsyar. mama pamit sayang” ucap Sofie parau lalu meminta papa nya mendorong kursi rodanya.
Acara di lanjutkan dengan doa dan tahlil bersama
hingga malam ke tujuh.
Ido bukan tidak pernah datang ke kediaman Prakoso, namun Prakoso sudah menempatkan beberapa bodyguard di kediamannya sehingga Ido tidak bisa mendekat apalagi menapakkan kaki di kediaman Prakoso.
Sedangkan di rumah sakit kondisi Haryo berangsur membaik, pihak keluarga belum memberitahu kondisi Sofie karena takut kesehatan Haryo terganggu.
Berkali-kali Haryo menanyakan keberadaan Sofie, Tania langsung berkilah jika Sofie di bawa oleh Prakoso keluar negeri untuk kesembuhannya, walau Haryo curiga, ia tak bisa melakukan apa-apa.
Siang itu Haryo yang sudah dipindahkan dari ICU ke ruang rawat umum, mawar satu B, kini ia sudah belajar berjalan sendiri.
Tania sudah bisa meninggalkannya untuk sekedar pulang membawa baju ganti.
__ADS_1
Haryo sedang duduk di bangku taman yang letak nya tak jauh dari kamar rawat nya, saat ia mendengar seseorang sedang bergunjing di belakangnya, awalnya ia tak menggubris sampai salah satu perawat menyebut sesuatu yang membuat nya penasaran.
”Oh jadi laki-laki yang bersimpuh di depan kamar pasien perempuan itu adalah anak bapak di kamar mawar satu B ya?" ucap seorang perawat pada rekan kerja nya
”kamar mawar satu B adalah kamar yang sekarang aku tempati, siapa yang mereka maksud ”tanya Haryo dalam hati, sambil menajamkan pendengarannya
”sepertinya ia, dia juga bersimpuh di ruang ICU ketika bapaknya koma” timpal perawat lain nya yang bertubuh gemuk
”tapi kasian ya laki-laki itu di hajar habis oleh adiknya sendiri dan keluarga pasien perempuan, mungkin dia buat salah dengan keluarga Prakoso” ucap si perawat yang berambut ikal
”Prakoso?besan? ada berapa nama Prakoso di kota ini? apakah itu mungkin dia?”tanya Haryo dalam hati
”mungkin juga laki-laki itu yang penyebab anak keluarga Prakoso itu meninggal, kalau gak salah nama pasien perempuan itu Sofie, ya Bu Sofie Aryani Bimo Prakoso namanya” tambah si perawat bertubuh gemuk
Para perawat itu kembali ke pos nya masing-masing, tinggallah Haryo yang membisu di tempat nya.
Haryo terpaku diam, seperti orang yang melihat setan, wajahnya pucat pasi. ia masih mencerna apa yang baru saja di dengarnya.
Apakah yang baru saja ia dengar benar atau kah yang mereka cerita kan wanita lain yang kebetulan bernama sama.
jika memang benar wanita yang diceritakan itu Sofie maka ternyata selama ini Tania sudah membohongi nya.
"Ya Tuhan, kasian mantuku.
Ayah macam apa aku ini tidak mendidik anak dengan benar" Haryo menangis tanpa suara, hati nya hancur.
__ADS_1
Haryo kembali ke kamarnya, nafas nya menderu karena marah, ia berjalan sempoyongan, kepala nya pusing lalu pandangannya kabur , Haryo jatuh tak sadarkan diri.