
Dua hari kemudian
Andre sedang berkutat dengan pekerjaannya saat panggilan masuk dari Kanji ia terima, terlihat wajah senang karena ia yakin Kanji tak akan memgecewakanny
"Hallo kak Andre" suara Kanji terdengar penuh semangat
"Ya Kanji, ada berita apa? " Andre tak sabar mendengar laporan dari Kanji, mendengar dari suaranya, bisa dipastikan Kanji membawa berita bagus untuknya, namun ia masih harus memastikannya, karena Kanji selalu bertindak slengean
"Kanji sudah dapat informasi yang akurat, benar yang kak Andre berikan informasinya dalam berkas, namun ada satu hal yang kakak harus tahu bahwa pak kuncoro, beliau berusaha mati-matian menyelamatkan perusahaan.
Perusahaannya kolaps karena anaknya kalah judi dan korupsi uang perusahaan papanya" terang Kanji di ujung telepon
"Cari cara membantu beliau, kak Andre memberikanmu kuasa penuh di cabang kita disana"
"Tapi kak, bukannya mereka musuh yang ingin menghancurkan hubungan kakak dengan kakak ipar? " Kanji memprotes perintah Andre, ia tak habis mengertj mengapa bos nya itu malah berniat menolong musuhnya
"Dengar Kanji, dalam strategi perang, terkadang kita harus baik kepada pihak lawan, untuk memenangkan perang tanpa korban, lagi pula Kakak yakin pak Kuncoro adalan seorang pebisnis yang bersih, jika ia memiliki niat jahat maka ia akan tetap tinggal di Jakarta dan memastikan besannya membantunya, namun ini tidak, ia kembali ke Surabaya untuk menyelamatkan perusahaannya" Kanji menyimak dengan seksama penjelasan Andre, ia sangat kagum dengan boss nya ini, selain pekerja keras, pintar, ia juga tahu caranya menghargai sesama pebisnis sekalipun itu saingannya
"Segera atur janji bertemu dengan pak Kuncoro, kakak sendiri yang akan menemui nya"
"Baik kak, kasih waktu Kanji sehari lagi kak, Kanji akan kasih kakak berita bagus" ucap Kanji optimis, kini ia termotivasi karena Andre menjadi sumber inspirasi dan kiblat bagi Kanji untuk berkarir
"Ok manfaatkan waktu sebaiknya, bonus dan kenaikan gaji menunggumu begitu tugasmu selesai" ucap Andre
Terdengar pekikan kegirangan Kanji di ujung telepon yang membuat Andre tersenyum sambil menggelengkan kepalanya
"Makasih kak, Kanji akan melaksanakan dengan baik, Kanji cabut dulu ya, Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam"
Panggilan telepon berakhir
__ADS_1
Andre lalu segera menghubungi Ikbal, ia mau mendengar laporan Ikbal yang sudah mengirim anak buahnya untuk memantah aktivitas Anggara selama di ibukota
"Segera ke ruangan gue sekarang" ucap Andre lalu memutuskan panggilan teleponnya
Sementara di apartemen Anggara
"Kamu benar-benar tak berguna, bagaimana kamu bisa lama sekali menaklukkan wanita itu" teriak Andini murka
Sudah tiga bulan sejak mereka menginjakkan kakinya di ibukota, namun Angga belum menunjukkan keberhasilannya memikat anak Prakoso
"Sabar dong ma, Angga kan lagi berusaha".bantah Angga kesal karena mamanya selalu mendesaknya setiap hari
Jika bukan karena kebodohannya main judi dan tertipu hingga milyaran, ia tak akan mengambil uang perusahaan papanya
"Dengar Angga, mama tak bisa menunggu lama lagi, mama kasihan sama papamu yang terlalu lugu itu, ia berusaha menyelamatka. perusahaan kita dari kebangkrutan.
Selama ini mama biasa hidup mewah dan berkecukupan, mama tak mau hidup miskin Angga" teriak Andini frustasi, ia menangis sejadi-jadinya
"Kalau mama mau hidup enak tinggal mama lepaskan papa dan cari suami baru yang lebih kaya, lagi pula mama masih terlihat cantik walau sudah tua " Angga berucap santai sambil menggigit roti sarapan paginya
Sebuah jitakan keras mendarat di kepala Angga, membuat Angga berjingkrakan kesakitan
"Adoooowwww ma, sakit tahu, bisa geger otak nih" ucap Angga mengelus-elus kepalanya yang berdenyut akibat jitakan keras mamanya
"Masih untung mama jitak kamu, bukan mama lempar kamu sama gelas.
Kamu ya bener-bener ya anak durhaka.
Bisa-bisanya kamu suruh mama cerai dari papamu dan cari papa baru? dimana otak kamu Angga?
Mama sungguh tak habis pikir, anak macam apa kamu, dasar anak durhaka" teriak Andini naik pitam, ia melempar roti di piringnya ke arah Angga
__ADS_1
"Denger ma, Angga gak bermaksud apa-apa ma, habis Angga bingung mama desak terus Angga sama si Sofie itu, kalau Angga mau jujur, Angga gak mah ma sama dia
Dia itu janda, walau ya harus Angga akui dia cantik, kalau buat penghangat ranjang dia gak bangey deh ma, kalau buat main-main Angga baru mau"
"Kamuuuuu, mau mama jitak atau mama coret dari kartu keluarga hah?
Ingat kamu gak punya pilihan selain menikahi Sofie, dia pewaris satu-satunya Prakoso, bisa kamu bayangkan sendiri betapa kaya rayanya dia nanti" Andini menatap putranya tajam, ia sungguh berharap Angga bisa mewujudkan keinginannya, walau sesungguhnya Kuncoro, suaminya menentang keras usulan Andini pada awalnya, namun karena sifat Andini yang keras kepala dan mengancam dirinya akan pisah jika Kuncoro menentang, maka dengan berat hati Kuncoro tak berkomentar, Ia juga tak mendukung kemauan istrinya tersebut
Kuncoro lebih memilih kembali ke Surabaya dan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan perusahaan yang ia bangun dari nol.
Kuncoro yang berhati lembut merasa gagal sebagai suami, pemimpin sekaligus sebagai ayah, ia tak bisa bersikap tegas baik pada Andini maupun anak mereka, sehingga terbentuklah sikap manja dan semaunya sendiri pada Anggara, ini semua karena Andini selalu memanjakan Angga dan membelanya setiap anak lelakinya itu membuat suatu kesalahan
"Tapi Sofie janda ma, apa kata teman-teman Angga" Angga berteriak frustasi
"Masalah itu, mama akan meminta Prakoso untuk membujuk Sofie operasi selaput darah, bagaimana?
Tak akan ada yang meremehkanmu nak, karena besan kita orang terkaya di kota ini"
Angga nampak menimbang omongan mamanya dan tersenyum lebar
"Kamu harus membantu papamu mengembalikan uang yang sudah kamu pakai, jangan kecewakan papa dan mama" Andini menyentuh pundak anaknya dengan tatapan memohon
"Tapi jika Angga gagal, mama yang cari jalan, Angga rela punya papa baru" ucap Angga nyengir kuda sambil berlari ke kamarnya
Terdengar Andini mengumpat dan marah-marah
Angga tahu walau mamanya suka semaunya sendiri, namun ia sangat mencintai papanya, sosok yang sempurna bagi Andini, suami penyayang dan penyabar.
Mamanya tak akan mendapatkan suami sepertinya diluaran sana.
Ancaman mamanya pada papanya hanya isapan jempol saja agar papanya menuruti kemauan mamanya
__ADS_1
"Aaaaarrrrggghhhhh, ini semua gara-gara si kampret itu selalu mengganggu rencana gue deketin Sofie, gue harus segera cari cara agar Sofie jadi milik gue, ya walau pernah menikah, ia masih terlihat seperti gadis, cantik dan padat berisi" ucap Angga yang membayangkan tubuh Sofie
"Gimana kabarnya jane ya? gue kangen banget sama itu cewe, dia paling jago muasin gue, dan sekarang gue terdampar di kota lain semua gara-gara Rico sialan itu, awas aja kalau ketemu, gue jadiin bubur itu bocah, bisa-bisanya nipu gue , kampretttt" Angga menendang-nendang kakinya di kasur, ia merasa kesal dan marah karena akibat perbuatannya sendiri, kehidupan nyamannya terusik