Aku Yang Tersakiti

Aku Yang Tersakiti
Tutup buku


__ADS_3

"Melihat dari kondisi kakak anda terkena penyakit spilis yang di tularkan saat berhubungan intim, dan penyakit itu sudah parah karena pasien sampai kencing nanah dan darah.


Kami akan melakukan pemeriksaan lengkap segera secepatnya agar nyawa pasien bisa di selamatkan, saya harap anda segera lengkapi prosedurnya agar kami bisa segera melakukan tindakan" ucap si dokter lalu pergi.


Risya jatuh terduduk, ia terkejut mendengar penjelasan dokter. air mata nya berlinang,.


Jika saja ia mau menyingkirkan sedikit saja ego nya dan menjenguk Ido sebentar saja pasti ia bisa tahu kondisi Ido.


Namun Risya terlalu marah pada kakaknya sehingga mengabaikan Ido yang saat itu merasa terpuruk.


Risya yang shock hanya bisa menatap nanar tubuh Ido yang tak berdaya, sementara Sofie langsung mengurus semua administrasi yang di perlukan, sebenci apapun ia dengan Ido, tetap saja rasa kemanusiaan nya berteriak menolong Ido


"Mas, anggap saja ini ucapan terima kasih ku karena engkau pernah mencintaiku dulu.


hanya bisa ini yang aku lakukan, semoga kamu cepat sembuh dan membuka lembaran baru hidupmu" Gumam Sofie memegang erat kertas persetujuan tindakan medis.


Sofie berjalan mendekati Risya yang muram, ia tak bisa menandatangini surat persetujuan karena kini Sofie orang lain tiada ikatan.


Risya menatap mantan kakak iparnya dan Sofie tersenyum sambil mengangguk.


"Tanda tangani segera agar Ido secepatnya ditangani"


Risya menandatangani secarik kertas yang di sodorkan Sofie lalau menyerahkan kembali pada Sofie.


"Kak makasih" ucap Risya lirih

__ADS_1


Sofie hanya tersenyum dan menepuk punggung Risya lalu memberikan pada suster jaga.


Sejam kemudian Ido dibawa keruang operasi, hasil pemeriksaan sudah keluar


Ido di diagnosa gagal ginjal dan penyakit spilis yang sudah parah sehingga dokter perlu melakukan operasi.


Risya menghampiri Sofie, membawa segelas teh hangat dan roti.


"Kak, dimakan dulu, kak Sofie pasti sudah kelaperan"


"Makasih Risy, kamu juga makan, jangan sampai kamu sakit juga"


Mereka diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.


Dua jam kemudian pintu ruang operasi terbuka, Dokter keluar dari ruangan dengan ekspresi sulit di katakan


"masa kritisnya sudah lewat, tapi kami masih perlu melakukan operasi kedua, memasang alat untuk ginjal kakak anda, harus secepatnya.


Tapi jika keluarga anda berkenan ada donor yang cocok, lebih baik daripada cuci darah.


namun walau satu darah, terkadang sulit menemukan yang cocok"


"Saya siap diperiksa dok, saya siap mendonorkan ginjal saya"


"Sebaiknya anda rundingkan masalah ini dengan keluarga anda, karena saat seseorang hanya mempunyai satu ginjal maka produktivitas hidupnya berkurang, tidak sama dengan yang memiliki dua ginjal, sebaiknya sebelum anda memutuskan, lebih baik pikirkan matang-matang. "

__ADS_1


"Apa kakak saya memang harus cuci darah? "


"secepatnya, karena ginjalnya sudah tidak berfungsi. kalau begitu saya permisi"


Lalu dokter berjalan meninggalkan Risya yang masih terdiam.


"Apa yang dikatakan dokter ada benarnya, kamu akan menikah denga Hilda, ada baiknya kamu juga meminta pendapat calon istrimu itu. "


Risya mengangguk lemah, apa yang di katakan Sofie benar adanya karena nanti Hilda akan menjadi istrinya dan akan menemaninya hingga menua bersama, sehingga ia harus menanyakan bagaimana pendapat Hilda.


Walau Risya sudah tahu jawaban Hilda yang selalu mendukung setiap keputusannya, akan lebih bijak jika ia menanyakan langsung.


"Risy, Apa mama sudah tahu kondisi Ido? "


"belum kak, Risya baru tadi siang dapat info ini.


Kondisi mama sudah baik, tapi Risya bingung apa harus menyampaikan ke mama atau gak"


"menurut kak Sofie sebaiknya sementara waktu jangan dulu, tunggu kondisi Ido stabil baru kabarkan mama mu" Risya hanya bisa mengangguk lemah.


Setelah Ido di bawa keruang rawat, Sofie pamit pulang, setelah Hilda datang untuk bergantian menjaga calon kakak iparnya.


sementara Risya kembali kerumah agar mama nya tidak curiga. Ia akan mencari waktu yang tepat untuk memyampaikan kabar keadaan Ido.


untuk sekarang yang terpenting Ido lewati masa kritisnya dan ia akan mencari alasan dinas luar kota agar nanti jika tidak pulang kerumah, mama nya tidak kawatir.

__ADS_1


Sudah sejak seminggu yang lalu Tania pulang kerumah, kondisi kejiwaan nya sudah berangsur membaik, Tania belajar mengikhlaskan semua, Ia sadar jika terus terpuruk maka kesempatannya memperbaiki diri akan hilang dan ia tak mau kehilangan Risya, walau du lubuk hatinya ia menyesal sudah bersikap keras pada Ido, namun Tania selalu berdoa untuk Ido agar ia kembali ke jalan nya.


Sekarang Tania sudah bisa tersenyum, memasak makanan di dapur dan menyibukkan diri ikut taklim di masjid dekat rumah. Ia tak mau terus terpuruk dalam masa lalu.


__ADS_2