
Keesokkan harinya Andre mendapat kabar dari Kanji jika ia sudah mengatur janji dengan Kuncoro, papa dari Anggara, Andre langsung memesan tiket dan terbang menuju Surabaya
Nampak di bandara Kanji dan direktur cabang sudah menanti kedatangan Andre, kali ini Andre sendirian, ia tak mengajak Ikbal ikut serta
"Gimana jadinya? " tanya Andew begitu sudah masuk mobil
"Ini proposal kerjasama kita dengan perusahaan mereka, dan pertemuannya dua jam lagi" terang direktur cabang bernama Wawan
"Baik pa Wawan terima kasih, oh iya apa anak ini menyusahkan bapak? " tanya Andre melirik ke arah Kanji yang sedang bermain ponsel
"Gak kok pak, justru nak Kanji lah yang menyelesaikan semua, Nak Kanji juga yang berhasil meyakinkan Pak Kuncuro untuk bekerjasama dengan kita" terang Wawan pada Andre
"Baiklah, kalian sudah bekerja keras, akan ada bonus untuk kalian" ucap Andre lagi membuat Wawan dan Kanji tersenyum sumringah
"Terima kasih pak" ucap mereka serentak
"Sekarang kita ke restoran dulu, saya laper, bawa ke rumah makan khas masakan Surabaya" ucap Andre yang sejak pagi belum makan, ia langsung terbang begitu mendapat kabar Kanji
Selesai makan mereka langsung menuju tempat pertemuan, karena Andre mau melihat kondisi perusahaan Kuncoro, ia meminta pertemuan diadakan di perusahaan mereka.
Andre memasuki sebuah perusahaan yang lumayan besar, ia di sambut oleh seorang pria paruh baya yang sangat karismatik, siapa lagi jika bukan Kuncoro sendiri
Kesan pertama Andre saat bertemu dengan Kuncoro sesuai dengan gambaran yang di berikan om Edi padanya
Ia melihat seorang pemimpin yang karismatik membuat siapapun yang berada di dekatnya akan merasa segan dan menghormatinya
"Om, saya sudah mendengar banyak tentang om dari om Edi dan hari ini saya merasa beruntung bisa melihat dan bertemu langsung dengan om, sebagai pemula saya masih harus banyak belajar dari om"
"Hahaha naga tua itu terlalu banyak bicara, nak Andre terlalu menyanjung, saya malah salut pada nak Andre, masih muda dan sukses".ucap Kuncoro yang diam-diam juga mencari tahu tentang calon invertornya ini
"Begini om, saya berniat berinvestasi pada perusahaan om, inu proposal kerjasamanya, om baca dulu, jika ada yang ingin om tambahkan atau om hilangkan tinggal kita diskusikan lagi" ucap Andre sambil menyerahkan proposak ditangannya pada Kuncoro
"Bisa om pelajari dulu? "
"Silahkan om"
Nampak kuncoro membaca lembar demi lembar proposak itu dan senyumnya mengembang
"Om setuju, om nantikan kontrak kerjasamanya, apa ada yanv ingin kamu sampaikan pada om di luar ini? " tanya Kuncoro masih dengan senyumnya
__ADS_1
Andre tak menyangka kini justru dirinya lah yang di introgasi oleh Kuncoro secara tidak langsung, sungguh insting seorang pengusaha yang tajam, pantas saja om Edi menaruh salut padanya
Andre meminta Wawan dan Kanji meninggalkan mereka, kini tinggal Kuncoro dan Andre yang berada di ruangan itu
"Om sangat berterima kasih kamu justru membantu om alih-alih menghancurkan perusahaan om yang diambang kebangkrutan ini, om merasa berhutang padamu.
Om juga tahu hubunganmu dengan putri Prakoso"
Andre melongo bengong, ia tak menyangka Kuncoro bisa mendapatkan info yang akurat tentangnya hanya dalam dua hari, hal ini membuktikan jika Kuncoro sudah tahu maksud dari kerjasama mereka, selain membantu Andre juga berharap kuncoro bisa membawa anak dan istrinya kembali ke Surabaya
"Maaf om, Andre tidak bermaksud apa-apa"
"Om tahu nak Andre, beberapa waktu lalu Edi berkunjung ke tempat om, Dia mengatakan butuh bantuan om, jadi kalau om simpulkan kamu ingin om meminta anak dan istri om pulang kembali ke Surabaya, apakah benar tebakan om? "
"Maaf om" Andre shock, pria di depannya ini mampu menganalisa dirinya dengan tepat, biasanya orang akan sulit menebak apa yang ia pikirkan, namun Kuncoro menjelaskan dengan gamblang apa yang ia pikirkan
"Kamu tenang saja, pada dasarnya om tidak menyetujui rencana Andini, sebagai rasa terima kasih om padamu, om akan meminta mereka kembali secepatnya" Kuncoro menepuk punggung Andre yang masih menunduk malu
"Andre gak tahu harus berkata apa, maaf dan terima kasih om" ucap Andre mencium punggung tangan Kuncoro
"Hahaha harusnya Prakoso bisa melihat jika calon mantunya ini pria yang luar biasa, namun pria tua itu terlalu keras kepala"
Mereka lalu keluar kantor Kuncoro menuju sebuah cafe di seberang kantor, berbincang panjang lebar tentang pengalamannya mendirikan perusahaan itu dan Andre merasa keputusannya membantu Kuncoro adalah keputusan yang tepat.
Keesokan harinya
Andre kembali ke kantor Kuncoro untuk menandatangani perjanjian kerjasama mereka, setelah itu ia pamit kembali ke Jakarta
Sementara di Perusahaan Prakoso
Sofie terlihat gelisah, entah sudah berapa puluh kali ia menengok ke ponselnya, berharap ada pesan singkat atau telepon dari Andre, namun sejak malam hingga kini yang ditunggu tak jua datang
Sofie menghempas tubuhnya di kursi kerjanya, ia menghela nafas beberapa kali membuat Nia yang sedang menyampaikan laporan mengerutkan dahinya melihat sahabatnya iti terlihat tidak konsentrasi
"Sofie, loe sebenarnya denger kaga sih? gue udab nyerocos kaya petasan orang kawinan eh loe malah bolak balik ngeliatin hp, udah gitu menghela nafas aja, cepet tua nanti loe sebelum kawin sama pak Andre" ucap Nia kesal karena merasa di kacangi Sofie
"Sue loe nyumpahin gue tua lagi, gue denger apa yang loe omongin" sanggah Sofie
"Denger apa? loe tahu gak pendapatan kita bulan ini berapa persen? " tanya Nia mengetes Sofie
__ADS_1
"Tahu, menurun kan jadi cuma lima puluh persen, tapi setidaknya kita cukup bersyukur kita tak harus memangkas karyawan karena dampak pandemi ini, yang utama adalah kesejahteraan karyawan, perusahaan tidak hanya terfokus pada profit, karyawan adalab aset, tanpa mereka pemilik perusahaan bukan apa-apa" ucap Sofie panjang lebar membuat Nia melongo, ia jelas-jelas melihat sahabatnya itu melamun, namun ternyata apa yang ia sampaikan semuanya terekam oleh Sofie
"Sofie, loe emang sahabat gue yang paling pinter, gue salut sama loe" ucap Nia memeluk Sofie
"Ih lepasin, apaan sih loe main peluk-peluk segala, nanti orang kira gue lesbong lagi" ucap Sofie merapihkan bajunya
"Gak mungkin lah, gue kan udah mau nikah satu bulan lagi sama Hans klo loe.... "
Sebuah pulpen melayang kearab Nia, namun dengan gesit Nia menangkapnya sambil tertawa mengejek
"Iya-iya loe udah mau laku, kapan loe cuti, siapin siapa pengganti loe nanti, gue gak mah selama loe cuti, pekerjaan loe terbengkalai" tegas Sofie mengingatkan
"Oh iya gue ada calon pengganti gue sih Hilda, bagaimana? "
"Oh iya Hilda, gue setuju, suruh dia menghadap gue secepatnya"
"Satu lagi Sof, gue kayanya habis nikah resign deh, Hans mau bawa gue, sebagai istri yang baik gue kan harus nurut suami" mata Nia langsung berkaca-kaca, ia sebenarnya tak ingin resign, namun Hans akan membawanya tinggal di negeri asalnya
"Nia gue pasti bakal rindu loe, loe sahabat terbaik gue" ucap Sofie bangkit dari kursinya dan memeluk Nia, mereka menangis haru
Persahabatan yang mereka lalui dalam suka dan duka kita harus terpisah karena pernikahan, Sofie merasa ada yang hilang dalam dirinya
"Jadi sekarang loe bolehin gue peluk loe, gak takut di bilang lesbong? " tanya Nia di sela. isaknya
"Huhuhu, loe orang lagi sedih sempat-sempatnya ngingetin gue gitu, dasar Nia, gue pasti akan rindu banget sama loe" ucap Sofie sesegukan
"Gue juga bakal rindu sama loe, hidup bahagia lah dan lupakan masa lalu walau itu berat, loe juga pantas buat bahagia.
Pak Andre sangat mencintai loe, gue yakin dia bakal jadi suami terbaik untuk loe" bisik Nia lirih diteliga Sofie
Sofie hanya bisa mengangguk pelan, suaranya tercekat di tenggorokan
Nia tahu perjalanan hidup Sofie penuh dengan aral melintang , cobaan dan duri tajam.
Kesedihan, kehilangan, keputusasaan, penghianatan mewarnai jalan hidup sahabatnya itu
Nia ingin melihat Sofie bahagia dengan Andre, Pria yang tulus mencintai Sofie yang rela menanti hingga bertahun-tahun demi Sofie.
Nia selalu berdoa untuk kebahagiaan sahabatnya itu
__ADS_1