
"Ahh kenapa di pagi buta ini harus ketemu dia sih, apa dia menungguku?
Seperti bodyguard saja" dengus Ido memegang wajahnya yang masih membiru akibat bogem mentah Risya.
Ido bergidik membayangkan jika ia akan kena hajar lagi oleh Risya
"Mama sama papa kemana sih? si kingkong kalau ngamuk bahaya ini" umpat Ido menelan saliva nya
Ido masih terdiam bingung antara maju atau tetap di tempat
Risya tersenyum mengejek, ia malah sengaja mengerjai Ido berlagak marah dan memukul-mukul rangannya sendiri yang mengepal, membuat Ido pucat pasi dan tanpa sengaja mundur beberapa langkah
"Ngapain loe kesini" tanya Risya seolah marah dengan wajah di buat sangar
"Kingkong sialan, gue mau jemput istri gue yang loe bawa kabur" ucap Ido dalam hati, karena kini suaranya seperti tercekik di tenggorokan
"Gu.. gue disuruh papa sama mama kesini" ucap Ido tergagap
"Itu doang? "
Ido menelan salivanya lagi karena tatapan Risya membunuhnya, membuat dia tak berkutik. Ido menyesali dirinya yang tidak mau belajar ilmu bela diri, sehingga kini ia di bully oleh Risya yang notabane adalah adiknya sendiri
"Gue mau ketemu Sofie"
"Buat apa? loe mau nyakitin lagi dengan pamerin perselingkuhan loe sama selir-selir loe hah? " gerta Risya marah
__ADS_1
"Ris, gue tahu lalau gue salah, tapi please gue kesini buat minta maaf sama Sofie.
Gue masih cinta dan sayang sama dia"
" Cinta sama Sayang kok biasa tega nyakitin, sebaiknya loe periksa dulu hati loe, mungkin udah busuk dalamnya, karena loe berbuat kaya gak punya hati" celetuk Risya sambil tersenyum sinis
"Terserah loe mau ngomong apa, tapi gue cuma mau bawa Sofie balik, gue mau baikan dan minta maaf.
Gue mau tobat demi anak dalam kandungan Sofie" ucap Ido akhirnya dan mulai menangis
"Stop do, gue gak mau liat air mata buaya loe, loe laki-laki jadi tunjukin keseriusan omongan loe. Nangis cuma buat kaum hawa.
Loe salah, loe harus berani tanggung jawab dan nerima segala konsekuensinya.
Ido makin menciut, dia tam bisa bayangkan jika pohon itu dirinya, bisa-bisa Ido harus terbaring di rumah sakit mengalami beberapa patah tulang di tubuhnya
"Atau nasib loe gak ada bedanya kaya pohon itu" ucap Risya berbisik tepat di telinga Ido.
Keringat dingin mengucur deras di kening Ido. Ia bergidik ngeri.
Risya dengan santai meninggalkan Ido yang masih terpaku memandang pohon yang tumbang itu, tiba-tiba Risya berhenti dan berbalik badan
"Apa loe mau disitu aja sampe matahari terbit, berubah pikiran?" tanya Risya tersenyum meremehkan
"engggak" ucap Ido perlahan mengikuti langkah Risya.
__ADS_1
Tiba-tiba Haryo muncul di depan pintu dan terkejut melihat pohon tumbang di halaman
"Risya, apa yang terjadi sama pohon itu? gak hujan kan? bagaimana pohon itu bisa tumbang" tanya Haryo yang buru-buru keluar rumah karena mendengar suara benda terjatuh dengan keras
"Tadi ada angin besar pa, jadi tumbang deh, Risya tidur dulu pa, ngantuk berat. rencananya papa sama kak Ido aj yang rundingkan. Kalau laki-laki itu masih gak bener kasih tau Risya pa" ucap Risya ngeloyor masuk kamarnya.
Haryo hanya melongo bingung dengan apa yang terjadi
"Dari tadi kek loe pergi, Bocah sialan.
angin besar gundulmu, jelas-jelas kingkong marah, nyentil pohon langsung tumbang. Arrrggghhh kenapa punya adik barbar gitu sial banget hidup gue" gerutu Ido yang mendengus kesal melihat Risya yang masuk kamarnya
"Ayo Do, kenapa kamu malah diam aja di situ bukannya masuk, persis orang linglung saja" ucap Haryo menggeleng melihat Ido yang masih bengong.
Idp buru-buru mengikuti langkah papanya menuju ruang tamu
Setelah duduk, Ido hanya tertunduk karena Haryo menatapnya tajam
"papa masih heran ya, pohon iti tadi papa datang baik-baik saja, apa Risya berbuat sesuatu sama pohon itu? " tanya Haryo lagi
"Kingkong itu yang matahin pohon itu pa"
"ups kelepasan ngomong" umpat Ido yang melihat papanya makin bingung
"kingkong? astaga kenapa bisa masuk ke pemukiman warga? " ucap Haryo panik, namun Ido tersenyum kecut karena salah berbicara
__ADS_1