Aku Yang Tersakiti

Aku Yang Tersakiti
Perjanjian


__ADS_3

Andre mengeggam tangan Sofie menuruni lift, beberapa karyawan menyapanya sambil melirik ke arah Sofie dengan pandangan tak suka.


Beberapa di antara mereka ada yang mengenal Sofie. Terlihat mereka mulai bergunjing di belakang Sofie.


Andre tak lepas tersenyum dan dengan bangga menyatakan kepemilikannya dengan tidak melepas genggaman tangannya di jari Sofie


"Mas lepasin, semua melihat kita" bisik Sofie pelan


"Biarkan saja, aku sengaja" ucap Andre enteng.


seorang supir sudah menunggu di lobby kantor membawa kendaraan Andre


"Pak man, saya bawa kendaraan sendiri" ucap Andre.


supir yang bernama pak man mengangguk hormat lalu menyerahkan kunci mobilnya pada Andre.


Andre membukakan pintu mobil untuk Sofie lalu memasangkan sabuk pengaman, Sofie awalnya menolak, karena beberapa pasang mata memperhatikan mereka.


Terlebih jarak wajah mereka terlalu dekat membuat Sofie merona dan canggung


"Mas aku bisa pakai sendiri, malu diliatin" Sofie merasakan hembusan nafas Andre menerpa wajahnya, hangat


"Anggap saja tak ada yang melihat" ucap Andre santai lalu berjalan ke sisi sebelah mobil


"Bagaimana anggap tidak ada kalau nyata nya ada" gerutu Sofie memperotes


Sementara di kediaman Prakoso.


Prakoso membanting ponselnya, ia baru saja mendapat laporan yang membuat nya kesal. bukan main


"Aku harus bertindak secepatnya" ucap nya lirih


Ia berjalan keluar, namun berpapasan dengan Ratih, istrinya.


"Papa mau kemana? kenapa itu muka kaya nya kesel banget? tanya Ratih menyentuh tangan suami nya


"Papa mau keluar, ada keperluan"


"Keperluan apa?. bukannya pak Hendra sudah handle semua?.


Papa sudah janji loh sama mama dan Sofie kalau papa akan berhenti mengkhawatirkan perusahaan.


Lagi pula mama liat Sofie sudah bisa diandalkan."


"Ini bukan tentang perusahaan mama....


ini tentang anak kita" ucap Prakoso setengah berteriak tanpa sadar


"Loh Sofie kenapa pa? apa dia baik-baik saja?" Tanya Ratih panik


"Dia lebih dari baik, anakmu itu sedang berpacaran dengan laki-laki itu!!" dengus Prakoso kesal


"Bukannya itu yang kamu mau, anakmu secepatnya memiliki hidup yang baru"

__ADS_1


tanya Ratih menatap manik mata suaminya


"Tapi tidak dengan lelaki itu, papa tidak setuju" sanggah Prakoso cepat


"Dari tadi laki-laki itu saja yang kamu sebut, sebenar nya siapa laki-laki yang sudah berhasil merebut hati putri kita?


Apa nak Andre? " tanya Ratih menatap suaminya yang terlihat enggan berkata


"Melihat reksi papa, mama yakin itu nak Andre.


Mama tuh bingung sama papa, apa kurang nya nak Andre di mata papa??


Bukankah papa menyukai nak Andre?


mama dengar beberapa kali papa memuji nya.


Terus apa maksud papa dengan itu semua?


Dia pria sopan, baik, pekerja keras dan bertanggung jawab, calon mantu sekaligus calon suami yang tepat buat anak kita.


Sekarang apa kekurangan nak Andre?


Papa mau mantu kaya gimana lagi? " ucap Ratih dingin


belum pernah Ratih sengotot ini membela seseorang, ia akan terus bersikeras dengan pendapatnya, jika ia merasa benar.


Dan Ratih merasa Andre calon mantu yang ia idam-idamkan, itulah mengapa saat Andre langsung meminta restu padanya untuk mendekati anaknya, dengan cepat Ratih menyetujui nya, dengan syarat Andre tak akan pernah menyakiti putrinya.


Prakoso menatap istrinya, belum pernah ia melihat istrinya tersebut sebegitu yakin nya dengan pilihannya


"Pa, Stop berfikiran seperti itu, yang menyakiti anak kita bukan nak Andre tapi tunangannya kala itu, papa tidak bisa melimpahkan kesalahannya pada Andre.


lagi pula dia sudah tak memiliki tunangan, tak terikat dengan orang lain. Apa lagi yang papa nilai buruk dari nak Andre.


Mama akan jujur pada papa jika mama sudah memberi restu mereka untuk bersama.


Masalah jodoh hanya Tuhan yang tahu" ucap Ratih melangkah pergi


Ratih tak mengerti kemana jalan pikiran suami nya, Prakoso seakan memakskan kehendak pada putri nya secara tidak langsung.


Awalnya Ratih memaklumi jika tindakan Prakoso hanya semata-mata untuk melindungi putrinya dari pria yang tidak baik, namun kini seperti obsesi yang salah.


Prakoso cenderung over protective pada siapa saja yang berusaha mendekati putrinya.


Prakoso berusaha menjodohkan putrinya dengan anak sahabat nya yang menurut pemikirannya lebih baik dari pria-pria diluaran sana.


Nyata nya tidak ada yang tahu, pria model apa yang akan dijodohkan pada anaknya, yang dia pikir hanya karena sahabatnya maka anak mereka baik juga.


"boleh saja menjodohkan jika memang anak kita mau, tapi Sofie bebas menentukan pilihannya sendiri, walaupun kita orangtuanya" ucap Ratih menengok sebentar ke arah suaminya lalu berjalan cepat meninggalkan Prakoso yang diam termangu.


"Apakah aku terlalu egois memaksa putriku memilih anak sahabatku? atau aku seperti yang Ratih ucapkan?


Aku tak ingin putriku membenci diriku karena hal ini, aku hanya ingin dia bahagia.... " gumam Prakoso

__ADS_1


Prakoso berjalan lunglai menuju arah dimana istrinya pergi, Ia menyusul Ratih untuk meminta maaf


"Kali ini saja, kali ini yang terakhir ma, biarkan anak dari sahabat papa mendekati Sofie, biarkan Andre dan dia bersaing sehat merebutkan hati putri kita, dan papa akan terima apapun hasilnya nanti, begitu juga papa minta mama legowo dengan pilihan anak kita nanti" ucap Prakoso duduk di depan Ratih


"Mama setuju saja, lagi pula mama yakin nak Andre adalah pemenangnya, nak Andre calon mantu mama yang paling sempurna buat Sofie. Mama akan mendukung nak Andre dan papa tidak boleh melarang mama"


"Iya, iya terserah mama, papa juga gitu, akan mendukung anak teman papa, begitu juga mama gak boleh protes"


"Deal" ucap mereka serentak berjabat tangan.


"Sih baiknya papa siap-siap legowo dan kita nikmati hari tua dengan tenang, melihat putri kita bahagia dengan orang pilihannya"


"Bukan mama yang harusnya legowo? "


"Kita lihat saja nanti, feeling seorang ibu tak akan pernah salah" ucap Ratih optimis sambil tersenyum lebar


"Ya, ya, ya, jadi mama sudah maafin papa kan? tanya Prakoso sangsi


"Mama belum dengar papa minta maaf?


Lagi pula mama gak marah sama papa.


mama anggap kita tadi berdebat karena beda pendapat, tapi tidak dengan hati panas" ucap Ratih santai


"Jadi... "


Eit, perjanjian kita tetap perjanjian kita sudah sepakat dan tidak bisa di batalkan lagi.


Apa seorang Prakoso Hadikusumo bisa menarik ucapannya? " ledek Ratih tersenyum licik


"Sial, aku terjebak ucapanku sendiri, tidak mungkin aku menarik ucapanku sendiri, pantang bagiku ingkar janji.


Mengapa istriku bisa selicik ini demi membela pria itu? "


"Jadi papa? bagaimana? "


"Tentu saja papa tidak akan pernah menarik ucapan papa sendiri. pantang bagi papa"


"baik, terima kasih kerjasama nya pak Prakoso Hadikusumo" ucap Ratih melambaikan ponselnya di depan wajah suaminya


"Mama? ah? " terlihat wajah Prakoso yang tak berdaya


"Mama hanya prepare aja takut sewaktu-waktu papa lupa, jangan berfikir papa bisa hapus rekaman ini, mama sudah send ke asisten mama hehehe" ucap Ratih tertawa penuh kemenangan"


Prakoso merasa kalah dengan istrinya, ia memasang wajah memelas


"Ma, papa sedikit pusing, tolong buat kan papa jahe hangat" ucap Prakoso memijit kepalanya


"Siap bos. istrimu ini akan membuatkan untuk suamiku tercinta" ucap Ratih menggoda, ia menoel hidung bangir Prakoso


"Ma,. apa kamu sebegitu suka nya dengan nak Andre?"


"Tentu saja, mama jatuh cinta pada pandangan pertama melihat pemuda ini, nak Andre mengingatkan mama akan seorang pemuda yang membuat mama jatuh cinta lagi dan lagi dengan pria itu, pria yang bersedia hidup dengan mama, walau mama wanita yang egois dan semau nya sendiri.

__ADS_1


Pria itu kamu mas, ada di diri Andre yang mirip dengan mu dan sebagian ada yang mirip dengan almarhum anak kita.


Kalau saja kamu mau membuka hatimu sedikit saja, kamu pasti bisa melihat nya" ucap Ratih tersenyum menepuk lembut punggung suami nya


__ADS_2