
Sofie menghabiskan waktu di taman belakang rumah keluarga Prakoso, sejak kehilangan anaknya dua Minggu lalu, ia tak pernah kembali ke kediamannya sendiri, rumah itu pun kosong tanpa penghuni.
Sofie tidak peduli dimana Ido tinggal, karena bagi Sofie kesabarannya menghadapi semua kelakuan buruk Ido sudah pada batasnya.
"Aku tak mau menghabiskan waktuku dengan orang yang tak pernah menghargai cintaku, perasaanku dan harga diriku, cukup semua sampai Disini, sabar ku sudah bertepi” Gumam Sofie pada dirinya sendiri.
Ia menatap ke arah taman yang di hiasi bermacam-macam bunga dan ada tempat bermain anak kecil yang beberapa waktu lalu sengaja papa nya siapkan untuk anaknya, namun kini semua pemandangan itu terasa getir, tanpa sadar air mata Sofie jatuh
"Aku tak akan pernah memaafkan mu mas, tak akan pernah. Kamu sudah membuatku kehilangan anak kita, kamu juga harus kehilangan aku. Cinta dan harapan ku terkubur bersama jasad anak kita”
Sofie menggenggam erat pinggiran kursinya, emosinya meluap-luap mengingat Ido
”eheem sayang, apa papa dan mama boleh duduk disini?" tanya Prakoso membuat Sofie terkejut karena tidak menyadari keberadaan kedua orangtua angkatnya.
Sofie mengangguk lemah.
__ADS_1
"Sayang,apa kami boleh berbicara hal yang sedikit pribadi? Mama dan papa harus menyampaikan ini padamu, tapi keputusan semua di tanganmu. Kami sebagai orangtua hanya mau yang terbaik untukmu"
"iya ma, pa, katakan saja"
Prakoso dan istrinya terlihat ragu lalu saling pandang-pandangan. Sofie sadar apa yang akan di sampaikan mereka tentu sesuatu yang penting dan berhubungan dengan dirinya.
"Papa, mama, Sofie siap mendengar nya katakan saja"
"Begini sayang, memang bukan wewenang kami untuk ikut campur masalah rumah tangga mu, tapi papa merasa harus bertindak, kami tidak rela kamu tersakiti lagi, kami dan kedua orangtuamu sepakat mengurus perceraian mu dengan laki-laki itu, tapi kami juga harus mendengar langsung darimu apa keputusanmu Karena ini menyangkut masa depan dan langkah yang akan kamu ambil selanjutnya.
Nampak wajah panik dan tegang terlihat di wajah kedua orangtua angkatnya, Sofie tersenyum lalu mengambil kedua tangan mama dan papanya, menggenggam erat keduanya.
"Papa, mama, Sofie tidak mau bersama Ido lagi, bukan karena menuruti kemauan kalian, tapi Ini murni dari dalam hati Sofie, beberapa hari ini Sofie sudah merenung dan membuat keputusan. Sofie tidak mau tersakiti lagi dan menghabiskan waktu dengan pria yang tak pernah menghargai pasangannya, cinta tanpa logika itu sebuah kebodohan. cukup Sofie melakukan kebodohan di masa lalu, Sofie tidak pernah menyesal apa yang telah Sofie lakukan di masa lalu.
Jika saat ini Sofie memutuskan berpisah, Sofie gak menyesal, toh Sofie sudah bertahan dan berjuang untuk keutuhan rumah tangga Sofie, namun pada akhirnya Allah berkata lain.
__ADS_1
kejadian ini membuka mata dan pikiran Sofie, ada saat kita harus berusaha dan ada saat kita harus menyerah. dan kini waktunya Sofie menyerah mengakhiri semuanya. maafkan Sofie ya pa, ma. pasti papa dan mama kecewa sama Sofie"
Bu Prakoso langsung mendekap putrinya, ia menangis entah tangis bahagia karenaena mendengar keputusan Sofie atau tangis kesedihan melihat penderitaan putrinya.
Sejak kepergian Almarhum Agus, Bu Prakoso terpuruk dan tidak memiliki gairah hidup, namun Sofie mengobati lukanya, membuatnya memiliki semangat hidup lagi, memberinya cinta yang besar sebesar anak kandungnya sendiri dan Bu Prakoso sangat menyayangi putrinya ini
"Sayang, kamu tahu? kami bangga padamu, kami sangat bangga. Putri kami bisa sedewasa ini, kami bangga padamu nak, kami sangat mencintaimu” ucap Bu Prakoso mengecup kening Sofie
”Jadi apakah papa dan mama tidak marah dan malu , aku akan menjadi janda beberapa waktu lagi?”
”mengapa kami harus marah dan malu, justru kami akan marah jika kamu masih mempertahankan laki-laki brengsek itu"seloroh Prakoso
Sofie dan Bu Prakoso tertawa melihat Prakoso yang berakting marah dan berkacak pinggang
”Sofie sayang kalian, terima kasih mama dan papa. Kalian yang terbaik yang Allah kirim buat Sofie” mereka berpelukan ala Teletubbies.
__ADS_1