Aku Yang Tersakiti

Aku Yang Tersakiti
Kedatangan II


__ADS_3

Andre mengendarai kendaraan nya meninggalkan kediaman orangtua Sofie


Sofie masih terdiam memandang kepergian Andre hingga kendaraan nya menghilang di balik pertigaan jalan


Sofie melangkahkan kaki nya masuk ke dalam rumah, baru saja ia hendak membuka handle pintu rumah, sebuah kendaraan yang tak asing bagi Sofie memasuki halaman parkir orangtua nya


Sofie urung masuk ke dalam rumah, ia berjalan mendekati mobil tersebut yang tak lain adalah mobil orangtua angkatnya


"Sofie sayang, mam kangen"ucap Ratih begitu keluar dari mobil


terlihat Prakoso hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap manja istrinya pada Sofie


”Mama ,mama baru juga dua hari ditinggal nginep anaknya udah kangen"cibir Prakoso


"Sirik aja ih papa, anaknya aja gak keberatan mama kangenin, bilang aja kalau papa ngiri"sindir Ratih membuat Sofie tertawa kecil melihat tingkah kedua orangtua angkatnya tersebut


”Sofie juga kangen mama dan papa”ucap Sofie melirik Prakoso


” Tuh dengar dia kangen papa juga”Prakoso menggoda istrinya yang langsung manyun


”Ayo ma, pa masuk ke dalam.


Bapak sama ibu pasti senang tahu ada tamu besar yang datang”


”Ah kamu ya sudah pintar menggoda orangtua” mereka lalu masuk ke dalam rumah.


Sofie mempersilahkan kedua orangtuanya duduk, sementara ia memanggil bapak dan ibunya


Tak berapa lama Bim dan Sri keluar dengan wajah sumringah, walau mereka tidak menjadi besan namun panggilan diantara mereka masih besan.


”Eh besan apa kabar?kenapa gak kasih kabar kalau datang”ucap ibu senang ia cipika cipiki dengan Ratih


” Memang sengaja gak kabarin besan, biar gak merepotkan” jawab Ratih


” Gak pernah merepotkan kok , kita kan sudah keluarga, saya malah senang di kunjungi” timpal Sri


Sofie datang membawa minuman, ia meletakkan di meja lalu menuju teras depan rumahnya untuk mang Ujang yang menolak masuk ke dalam rumah

__ADS_1


"Mang kenapa gak masuk aja? papa sama bapak suruh Sofie ajak mang Ujang ke dalam”


”Ah mamang di sini aja neng,enak sejuk bikin betah.


mang Ujang jadi ingat kampung halaman”


”Memang mang Ujang masih punya keluarga di kampung?” tanya Sofie penasaran


”Masih neng, adem mang Ujang tinggal, yang lain sudah gak ada, sudah pulang”


”Oh pulang, pulang kemana mang?”tanya Sofie penasaran


”Pulang ke asal lah neng, alias meninggal” ucap mang Ujang polos


”Innalillahi wa Inna Illahi rojiun,


Aih si mamang tinggal bilang meninggal, pake bilang pulang. Sofie kira pulang kemana?”


”Hehehe kan beneran pulang neng”mang Ujang nyengir kuda memamerkan gigi nya yang sudah ompong di beberapa bagian


"Beneran nih mang gak mau masuk? Sofie ke dalam dulu ya mang”


Sofie meninggalkan mang Ujang yang di temani segelas kopi hitam kesukaan mang Ujang, ia kembali menghampiri orangtuanya yang terlihat sedang mendiskusikan sesuatu


”Lagi ngomong apa sih?kaya nya serius banget” ucap Sofie begitu duduk di samping orangtua kandung nya


”Menurut saya sebaiknya kita tanyakan anak nya saja, maunya bagaimana ?


kita sebagai orangtua hanya manut , karena yang akan menjalani hidup kan dia. tapi bukan berarti lepas tangan, kita tetap mengawasi, bagaimana besan?" tanya Bim pada Prakoso yang terlihat dahi nya mengkerut , tanda ia sedang berfikir keras


”Saya juga berkata begitu besan, tapi ya ini si papa susah sekali di kasih tahu”


”Papa kan mau yang terbaik buat anak kita”


Sofie yang tak mengerti arah pembicaraan orangtua kandung dan angkatnya hanya bengong


”Sudah-sudah tuh anaknya ada kenapa gak tanya langsung aja”ucap Sri menengahi

__ADS_1


"Sofie bingung, kalian sedang ngomong apa sih? kok bawa-bawa Sofie segala bikin penasaran aja.


memang mau tanya apa sama Sofie?”


Sofie mengedarkan pandangannya pada keduab orangtua kandung dan angkatnya


”Begini sayang...”


Ratih langsung memotong ucapan suaminya


”Begini sayang, kami tidak bermaksud mengatur hidupmu, percayalah kami melakukan ini karena kami peduli dan sangat sayang kamu.


Papa ingin mengenalkan anak teman nya padamu,


papa tidak akan memaksamu memilihnya, kamu bebas menentukan pilihanmu dengan siapa nanti kamu hidup ”


ucap Ratih hati-hati karena ia tak mau anaknya tertekan dengan kemauan Prakoso


Sofie melirik papa nya sebentar, ia sudah tahu beberapa waktu lalu Prakoso sudah menyampaikan keinginannya, namun ia yakin mama nya belum tahu akan hal tersebut


”Menurut Bapak ada bagusnya juga kamu jalani saja, toh hanya berkenalan, jika kamu cocok jalani , jika gak kan setidaknya sudah mencoba”


”Sofie tidak keberatan kok pa, Bu, mama, papa.


Sofie akan menemuinya , Sofie juga tahu maksud baik papa dan Sofie tidak merasa terpaksa” ucap Sofie tersenyum, ia bisa melihat Ratih sedikit terkejut, ia memang ibu kandung Sofie, sepertinya mama dan ibu sudah saling berdiskusi di belakang para suami mereka


”Apa benar kamu tidak keberatan nak? bagaimana...?" Sri urung meneruskan ucapannya karena Bim menyenggol kaki Sri di balik meja


”Sofie sudah menjelaskan kok , jika mama ataupun ibu kwatir tentang mas Andre, Dia tak merasa keberatan juga, malah ia menyerahkan semua pada Sofie.


ia ingin bersaing sehat dengan siapapun yang ayah atau bapak mau kenalkan pada Sofie.


Lagi pula Sofie belum memutuskan dengan siapa Sofie akan menjatuhkan pilihan”


Bim mengangguk, ia tersenyum kecil mendengar penuturan putrinya, terlebih akan sikap Andre.


Kini Bim yakin jika ia tak salah menilai Andre, ia semakin suka dengan pemuda itu.

__ADS_1


Namun demi menghormati besannya ia tak bisa menolak usulan Prakoso, toh semua demi anak mereka juga


__ADS_2