Aku Yang Tersakiti

Aku Yang Tersakiti
Rawat


__ADS_3

Dokter Ridwan yang sudah sampai di kediaman Prakoso langsung memeriksa kondisi Sofie, ia bisa melihat kegelisahan yang terpancar dari mata kedua orangtua angkatnya tersebut.


"Jadi Nak Ridwan, bagaimana kondisi Sofie? " tanya mama tak sabaran


"Sofie hanya kelelahan, stress dan kurang istirahat. Tapi ada sesuatu yang harus Ridwan lakukan pemeriksaan lagi.


sebaiknya Sofie kita bawa ke rumah sakit"


"Apa segawat itu harus di rawat? " tanya papa kwatir


"Sofie kekurangan cairan juga, jadi hanya perlu di infus dua kantong cukup"


"Baiklah nak ayo kita bawa ke rumah sakit"ucap mama sambil memanggil mang ujang untuk mempersiapkan kendaraan


mereka lalu menuju rumah sakit tempat Ridwan bekerja sebagai kepala rumah sakit, yang kebetulan saham terbesarnya adalah milik Prakoso


Beberapa dokter menyambut kedatangan Prakoso, mereka lalu dengan cekatan membawa Sofie, melakukan beberapa pemeriksaan


Dokter Ridwan tampak santai tak tegang sedikitpun, malah terlihat senyum mengembang di bibirnya


"Wan, apa kamu tidak kwatir dengan kondisi adikmu? mengapa kamu tersenyum seperti itu? "tanya pak Prakoso bingung melihat anak angkatnya ini


"Papa Sofie baik-baik saja, percaya sama Ridwan ya pa. Tunggu sebentar lagi, papa akan mengetahui berita baiknya" ucap Ridwan


Sementara sebuah mobil sport mengikuti mereka hingga tiba di rumah sakit, ia juga mengabadikan moment saat Sofie di bawa masuk ke dalam rumah sakit, wajah pemuda itu terkejut dan panik, lalu menghubungi seseorang.


Orang tersebut juga ikut masuk kedalam rumah sakit berbaur dengan pengunjung, sehingga ia bisa melihat apa yang terjadi dengan targetnya

__ADS_1


"Gue gak akan maafin loe, kalau terjadj sesuatu pada wanita itu" ucapnya mengepalkan tangannya memahan marah


sementara Sofie yang sudab sadar, di buat terbingung-bingung melakukan beberapa test


yang ia tahu hanya badannya tidak fit sejak beberapa hari, nafsu makannya turun drastis dan ia mual muntah karena masuk angin akibat makannya yang tak teratur


"Ibu silahkan berbaring, dokter akan melakukan pemeriksaan USG" ucap seorang Suster kepada Sofie


Sofie hanya pasrah naik ke atas sebuah kasur kecil yang berada di ruangan tersebut


Dokter spesialis obstetri dan ginekologi (SpoG) bernama Dokter Dimas, ia bercakap-cakap sedikit dab mulai memberi pelumas doppler pada perut Sofie, lalu mulai menggunakan doppler atau Usg(ultrasound/ultrasonografi).


Kali ini Dokter menyarankan USG empat dimensi untuk memastikan kehamilan, usia kehamilan, melihat detak jantung janin dan memeriksa kemungkinan terjadinya kehamilan ektopik (kehamilan yang terjadi ketika sel telur yang sudah dibuahi berada di luar uterus) serta untuk mendeteksi kemungkinan awal adanya gangguan atau abnormalitas pada janin untuk melakukan langkah -langkah penanganan.


"Bu Sofie, selamat ya, ibu sedang mengandung. Usia kandungan satu bulan, kondisi janin normal, detak jantung normal" ucap dokter Dimas


"Iya bu, wanita yang sedang hamil semester pertama kehamilannya sering merasa mual, muntah, pusing hingga tak sadarkan diri.


Bu Sofie kekurangan cairan sehingga pingsan, pasti ibu mual muntah parah, jadi saya akan meresepkan vitamin serta untuk meredakan mual muntahnya, bukan menghilangkan ya.


Gejala mual muntah atai disebut juga morning sickness walau akan terjadi kapan saja, baik pagi, siang, malam.


Hal tersebut karena tubuh ibu mengalami perubahan, tubuh memproduksi hormon human chorionic gonadotropin (HCG) dan adanya peningkatN hormon estrogen dalam tubuh, segingga wanita hamil akan lebih peka dengan bau.


Tapi bu Sofie gak usah kwatir karena gejala tersebut akan hilang dengan sendirinya.


minum vitamin, istirahat yang cukup dan jangan stres" ucap dokter Dimas menjelaskan

__ADS_1


"Baik dok, terima kasih penjelasannya" ucap Sofie tersenyum bahagia


"sebaiknya kita keruangan pak Ridwan sekarang, beliau dan pak Prakoso sedang menunggu di sana


Selang infus masih menempel di tangannya, karena kondisi Sofie yang lemah, ia di dorong keluar ruangan dokter menuju ruangan dokter Ridwan.


"Sof gimana kondisi loe, maafin gue ya" ucap Nia seperti mau menangis, matanya sudah berkaca-kaca.


Nia memilih menunggu Sofie di luar karena ia sangat kwatir


"Kakak ipar, sebentar lagi akan punya ponakan" Ucap Sofie langsung memeluk Nia


"Apa Sof, maksud loe?


bentar, bentar... loe hamil? beneran? " tanya Nia melepas pelukan Sofie


Sofie lalu mengangguk cepat


"Alhamdulillah, terus loe dah ngabarin bapak itu anak belom? tanya Nia


"belum" ucap Sofie santai memberi tanda pada Suster untuk mendorongnya menuju ruangan Dokter Ridwan


"Sof, ah dasar tungguuu" ucap Nia sambil meraih ponselnya lalu memberitahu berita bahagia tersebut pada kedua orangtua kandung Sofie melalui Herman


Sementara di sudut bangunan, seseorang berwajah cemas berusaha mencuri dengar percakapan antara Sofie dan Nia.


wajahnya langsung berubah senang, namun beberapa detik kemudian wajahnya kembali murung

__ADS_1


__ADS_2