Aku Yang Tersakiti

Aku Yang Tersakiti
Penjelasan


__ADS_3

Tok Tok Tok


Suara pintu diketuk seseorang.


Sofie buru-buru menghapus air matanya.


Hilda masuk dengan membawa coklat hangat di tangannya, lalu ia menyodorkan segelas pada Sofie lalu langsung duduk di kursi sebelah Sofie


"Kamu belun ngantuk Hil?


"Belum kak, Hilda tidur diatas jam sepuluh setiap harinya hehhe"


"Kamu sudah lama pacaran sama Risya? " tanya Sofie lagi


"Uhmm, sudah setahun kak, tapi kamu rahasiakan karena tante Tania tidak begitu suka Hilda, tambah status Hilda cuma bawahan di kantornya"


Sofie menghela nafas, ia memahami sifat mertuanya sehingga ia tak terkejut lagi


"Memangnya kenapa kalau status kalian beda? cinta kan gak mandang harta dan status sosial" ucap Sofie lirih


"Kami juga gak menyerah kak, karena om Haryo sudah merestui hubungan kami dan Risya serius denga Hilda, jadi kami akan perjuangkan perasaan kami"


"Baguslah, kak Sofie akan selalu mendukung kalian" ucap Sofie menggenggam tangan Hilda.


Walau keluarga Hilda bisa dibilang keluarga berada, namun kekayaan mereka masih di bawah keluarga Risya.


Sofie yakin, mama Tania masih akan meremehkan keluarga Hilda.


Hal tersebutlah dulu yang terjadi pada Sofie, sebelum mama Tania tahu jika Sofie anak angkat Prakoso.


"Kak, sekarang apa yang akan kakak lakukan kedepannya?" tanya Hilda

__ADS_1


Sofie menatap Hilda, ia sudah memprediksi Hilda ataupun orang disekelilingnya akan menanyakan hal yang sama.


Sofie melemparkan pandangan kosong kedepan. Ia masih gamang harus melakukan apa.


"Aku ingin mempertahankan anak ini, walau apapun yang terjadi dengan rumah tanggaku"


"Hilda juga berfikiran sama kak, anak itu tak berdosa, malah rezeki yang tak ternilai, yang Tuhan berikan pada kita"


"Iya Hilda, kakak sangat bersyukur di beri rezeki berupa anak, rasanya kak Sofie wanita paling bahagia di muka bumi ini"


"Kak, maaf sebelumnya, bagaimana dengan pak Ido? apa yang akan kak Sofie lakukan? "


"Entah lah Hil, kak Sofie masih belum bisa memaafkan mas Ido untuk sekarang ini.


Hati kak Sofie hancur melihat perselingkuhan itu"


"Hilda memahami itu kak, jika Hilda berada si posisi Kak Sofie, Hilda pun akan merasakan yang sama .


Hilda harap kak Sofie mempertimbangkan masak-masak sebelum memutuskan.


Terkadang kita harus membuang ego kita, perasaan kita, demi masa depan yang lebih baik.


Hilda tahu pak Ido bersalah, tapi kak Sofie juga harus memikirkan masa depan anak dalam kandungan kak Sofie"


"Entah lah Hil, aku saat ini tak tahu apa yang harus aku lakukan.


Aku juga gak mau anakku tumbuh tanpa kasih sayang papanya, tapi aku takut mas Ido akan mengecewakanku lagi suatu saat nanti"


"Doakan, Allah maha membolak balikan hati manusia, sekeras apapun hati manusia pasti suatu saat akan lunak, seburuk apapun seseorang suatu saat pasti akan insyaf, jika mendapat hidayah.


Doakan yang terbaik"

__ADS_1


"Makasih Hilda, Kak Sofie merasa sangat terhibur bisa sharing sama kamu"


"Anytime kak, kita kan sebentar lagi jadi saudara ipar" ucap Hilda tertawa malu


"Oh ya, adik ipar"


ucap Sofie, lalu mereka berpelukan.


Sementara itu di kediaman Haryo


" Kita langsung ke villa tempat Risya ma, mama telepon Ido suruh dia menyusul secepatnya, atau papa akan menganggap tak punya anak macam dia" ucap Haryo langsung menuju parkiran.


Tania mengekor suaminya dari belakang sambil menghubungi Ido, diikuti pembantu rumah tangga yang menyeret travel bag.


Setelah mereka duduk di kursi penumpang, supir langsung melajukan kendaraan mereka menuju villa.


Haryo terlihat gusar, tak henti-hentinya ia menghela nafas.


Tania paham jika suaminya kini berusaha merendam Emosinya karena kelakuan Ido.


Bukan saja tentang keluarga mereka, namun juga tentang hubungan kerja antara perusahaannya dan pak Prakoso yang akan bermasalah, jika pak Prakoso mengetahui apa yang telah Ido lakukan pada anak kesayangannya .


Walau Tania tidak menyukai Sofie, namun ia paling benci pria yang tidak setia pada pasangannya.


Tania sangat bahagia mendengar berita kehamilan Sofie, ia sangat mengingikan seorang cucu.


panggilan telepon akhirnya tersambung.


"Hallo Ido, segera susul mama dan papa ke alamat yang mama kirim. Kita jemput Sofie.


sekarang juga, atau mama dan papa tidak akan mengakui kamu sebagai anak kami lagi"

__ADS_1


Klik


Panggilan di akhiri Tania tanpa menunggu putranya menjawab.


__ADS_2