
Setelah Sofie sadar dari pingsannya, ia menangis histeris, musibah terus menerus menimpanya, ia juga merasa bersalah karena dirinya masuk rumah sakit, Haryo terkena serangan jantung dan akhirnya....
Prakoso dan istrinya berusaha menenangkan Sofie yang kondisinya masih dalam pemulihan. Prakoso meminta Sofie untuk beristirahat, namun Sofie memohon pada papa dan mama nya untuk memperbolehkannya melayat kerumah Haryo.
Sesampainya mereka di kediaman Haryo
bendera kuning dan beberapa karangan bunga berjejer di halaman rumah Haryo
Prakoso membantu Sofie berjalan, sebenarnya Prakoso dan istrinya keberatan Sofie ikut melayat, namun Sofie memaksa ikut.
Sofie berjalan lemah ke dalam kediaman Haryo, terdengar bisik-bisik beberapa pelayat yang sudah hadir di sana, Prakoso yang menyadari putrinya sedang jadi bahan gunjingan menoleh, membuat semua orang diam dan takut, lalu pura-pura mengalihkan pembicaraan.
Mereka tidak ingin berurusan dengan Prakoso karena masih ingin bantuan keuangan dari Prakoso.
Setelah masuk ke dalam, Sofie melihat Tania yang duduk lesu dengan mata bengkak karena terlalu banyak menangis.
di sebelahnya Risya yang sedang duduk dengan mata bengkak pula sedang menguatkan mama nya.
Sofie berjalan gontai menatap jasad kaku mertuanya yang terbaring. ia lalu jatuh terduduk dan memeluk Haryo
Sofie sangat menghormati Haryo, ia sudah menganggap Haryo orangtua nya juga.
Haryo yang baik, bijaksana dan sangat mengayomi kini sudah tidak ada.
Risya berjalan mendekati Sofie, Risya juga memahami kehilangan Sofie karena memang papa nya dan Sofie dekat.
Risya memeluk Sofie yang menangis tersedu-sedu. Sofie merasa bersalah pada mertuanya. karena dirinya lah Haryo terkena serangan jantung.
__ADS_1
" papa, maafin Sofie pa, maafin Sofie" ucap Sofie di sela tangisnya
"Kak Sofie, papa gak pernah nyalahin kak Sofie, maafkan papa ya kak, jika papa pernah melakukan salah, Risya mewakili papa meminta maaf"
"Enggak Risy, papa gak pernah punya salah sama Sofie, Sofie lah yang bersalah. gara-gara Sofie papa begini"
"Kak, istighfar, ini semua sudah suratan takdir"
Sofie bangkit dan menghampiri Tania yang makin sesegukan.
"Mama, maafin Sofie ma"
"Maafin mama ya Sof, tolong maafin papa mu juga kalau papa ada salah" ucap Tania memeluk mantu nya.
mereka berpelukan satu sama lain tanpa berkata-kata. hanya tangis yang terdengar.
Baik Tania maupun Risya tidak merasa keberatan, karena dalam hal ini mereka tahu Ido lah yang bersalah dan memaklumi keputusan Sofie.
Ido hanya datang ketika ayahnya di makamkan, dan setelah itu ia tak pernah datang.
Sofie sebenarnya kesal dengan sikap Ido yang tak peduli akan musibah keluarganya. Namun ia tak mau ambil pusing, toh sebentar lagi ia dan Ido akan berpisah dan akan menjadi dua orang asing.
Setelah tiga hari sejak meninggalnya Haryo, kondisi kesehatan Tania menurun. Tania di diagnosa depresi berat.
Tania menolak makan dan hanya menangis memandangi foto suaminya, lalu mendekapnya hingga ia tertidur.
Seperti sore ini, Sofie sedang merayu Tania untuk makan, dan akhirnya Tania makan walau hanya beberapa suap dan sesudah itu tertidur.
__ADS_1
Saat tertidur pun Tania kerap kali memanggil nama Haryo lalu menangis.
Dengan sabar Sofie merawat Tania, walau di masa lalu Tania sudah bersikap jahat, namun Sofie tidak pernah membenci nya, ia sudah memaafkan Tania.
Setelah Tania tertidur pulas, Sofie memilih duduk di beranda menatap lurus ke taman di depannya, tempat ini adalah tempat favorit Haryo semasa ia masih hidup.
Risya datang dan menyodorkan segelas coklat hangat, lalu duduk di samping Sofie
"Kak makasih ya, sudah mau merawat mama, dan Risya secara pribadi minta maaf sama kak Sofie atas kelakuan kak Ido"
"Risy, sudah kewajibanku merawat mama karena aku mantu nya, Tapi masalah kakakmu, kamu tidak perlu meminta maaf untuk dia karena kakak sudah bulat akan meminta cerai dari dia, baik dia setuju atau tidak, kakak akan berpisah, maafkan keputusan kakak ini. Kak Sofie tahu kalian sedang berduka, namun kakak juga harus melanjutkan hidup kakak" ucap Sofie menuduk karena merasa serba salah
"Kak, aku sama mama memaklumi keputusan kak Sofie, kami tidak pernah menyalahkan kak Sofie, semua adalah murni kesalahan kak Ido.
Kakak tahu mengapa mama seperti itu? karena mama kehilangan dua orang yang paling berarti yaitu papa dan kak Ido"
"Maksud kamu Risy? kakak enggak ngerti"
"Mama sudah memutuskan ikatannya dengan kak Ido, mama sudah menganggap kak Ido mati.
Mama menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian papa dan musibah yang menimpa papa karena ulah kak Ido dan mama merasa dirinya sudah gagal sebagai istri sekaligus ibu. Mama sangat kecewa dengan kak Ido" ucap Risya menitikkan air mata
"Astaghfirullah" Sofie terkejut tak mampu berkata apa-apa, ia harus berkomentar apa
"Sampai kapan pu kamu adalah adik kak Sofie dan mama akan tetap kak Sofie anggap mama Sofie sendiri walau nantinya kak Sofie sudab tidak dengan Ido.
kita sama-sama rawat mama mu ok? " ucap Sofie menggenggam tangan Risya
__ADS_1
"Makasih kak Sofie" ucap Risya merasa bersyukur memiliki kakak ipar yang hatinya seluas samudra.