
Prakoso terlihat berfikir keras, lalu memandang kearah Risya yang berwajah muram karena permasalahan keluarganya.
Prakoso merasa berhutang pada pemuda di depannya, karena sewaktu Sofie terpuruk, Risya lah yang menolong dan menghibur Sofie.
Risya juga melindungi Sofie dan Risya seperti saudara laki-laki bagi Sofie.
"Kamu pasti bertanya-tanya mengapa om meminta mu bertemu, ini mengenai perusahaan almarhum papamu,
Om pagi ini menghadiri rapat pemegang saham di perusahaan papamu, karena om memiliki saham di perusahaan tersebut.
Rapat pemegang saham tersebut membahas tentang penggelapan dana yang di lakukan oleh kakakmu serta pertanggung jawaban tetatang investasi bodong yang menyebabkan perusahaan rugi banyak.
Kakakmu akan di proses secara hukum tentang kasus penggelapan dana dan untuk kerugian perusahaan akan menyita aset yang dimiliki oleh kakakmu, dan bilang aset yang disita tidak cukup kemungkinan juga akan jadi pasal tuntutan tambahan.
Untuk itu,kakakmu mulai hari ini sudah di berhentikan secara tidak terhormat dari perusahaan.
Om harap mama mu tidak tahu masalah ini.
Om memiliki sebagian besar saham di perusahaan papamu dan untuk menyelamatkan perusahaan om bermaksud akan mengakuisisi perusahaan papamu di bawah management perusahaan om, dan untuk itulah om memintamu untuk bertemu
Om menunjuk kamu sebagai pengganti Ido.
Om percaya jika kamu mampu”
"tapi om Risya merasa belum mampu om, Risya belum punya pengalaman”
”Tidak ada yang tidak mungkin jika kita berusaha, sekarang masalahnya adalah bukan mampu atau tidak. tapi ada kemauan atau gak.
Jika ada kemauan pasti akan belajar dan akan bisa.
__ADS_1
tapi jika dari awal saja sudah pesimis dan menyerah, bagaimana kamu tahu jika kamu mampu atau tidaknya”ucap Prakoso sambil tersenyum
Risya merenungkan kata-kata yang diucapkan oleh Prakoso dan tak lama kemudian ia tersenyum
"Maafkan Risya ya om, Risya berfikiran pendek.
Risya harus banyak belajar sama om, biar bisa jadi seperti om, sukses dan bijaksana”
"Hahahaha, om tidak seperti yang kamu katakan, hanya sedikit beruntung dan banyak belajar dari hidup.
Jadi bagaimana tawaran om?
kamu tenang saja, nama perusahaan papamu tetap sama, hanya management yang di bawah perusahaan om dan mengenai gaji mu sudah om siapkan kok”
"Risya gak peduli gaji nya om, Asal perusahaan papa tetap Risya sudah sangat bersyukur”
"Mengenai rumahmu...
"Gak om, klo Risya tahu dan jaminannya adalah rumah sudah habis dia Risya jadiin dengdeng”
"Hahaha, Pantas saja anak om suka kamu dan menganggap mu adiknya sendiri, Om baru lihat alasan itu"
"Maksud om?" tanya Risya bingung
"haha Lupakan, kita kembali masalah Rumahmu. Kakakmu itu memiliki hutang yang tidak sedikit, tiga milyar , dan om bingung dia gunakan untuk apa uang itu "
Risya tersedak , ia terkejut nominal yang di ucap kan oleh Prakoso dengan wajah melongo dan mulut terbuka.
”Bajing*an itu dia gunakan untuk apa uang sebanyak itu?apa gajinya sebagai pemimpin di perusahaan papa tidak cukup?”Risya memaki Ido dalam hati
__ADS_1
”Om apakah om punya solusi untuk ini? Risya gak mau kenangan papa satu-satunya hilang.
Maaf om jika Risya keterlaluan”
”Om jujur juga tidak mau kalian hidup terlunta-lunta tanpa tempat tinggal.
Bagaimana jika om akan membayar utang kakakmu pada lintah darat itu dan kamu akan om beri kesempatan menyicil dari sebagian gaji mu. surat tanah akan om sita sampai kamu bisa melunasinya.”
"Tapi om, 3 milyar itu tidak sedikit om, Risya gak enak sama om dan harus sampai kapan Risya bayar hutang sebanyak itu?"ucap Risya frustasi.
”Percaya sama Allah, tidak ada yang tidak mungkin, apalagi kamu berjuang untuk orangtuamu. Ridho orangtuamu, Ridho Allah.
om akan kasih kamu tantangan jika dalam dua tahun kami bisa membuka dua cabang, om akan apresiasikan pekerjaanmu dengan memberi sejumlah uang yang nominalnya cukup untuk kamu menyicil rumahmu. bagaimana?"
"Om Risya gak tahu harus membalas apa pada om, Risya mengucapkan banyak terima kasih, Hanya Allah yang bisa membalas kebaikan om pada keluarga Risya”
Setelah merek selesai berbicara panjang lebar, tinggallah kini Prakoso diam sambil menikmati kopi, ini merupakan cangkir ke dua nya.
”Kamu pasti bertanya mengapa saya menolong keluarga Haryo, yang jelas-jelas dalam hitungan Minggu akan menjadi orang lain.”
"Iya pak, tapi semua hak bapak, saya akan melakukan yang terbaik"ucap Hendra
"Hendra, kamu sudah berpuluh-puluh tahun ikut saya, pastinya kamu juga bingung dengan tindakan saya kali ini. Saya melakukan semua semata-mata untuk putri saya.
Sejak kehilangan Agus, Saya jadi lebih menghargai apa arti sebuah ikatan. kekayaan saya tak bisa membawa anak saya dalam kedamaian, kebahagiaan. malah justru membawa bencana.
Sejak mengenal Sofie saya banyak belajar dari anak itu, kebahagian bukan hanya melulu soal uang, tapi soal manfaat. bagaimana kelebihan kita bisa bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkan. Sofie bisa menahan sakitnya demi melihat orang yang dia sayang bahagia. ia membuat istri saya yang keras luluh dan kini menyayanginya.
Saya hanya ingin melihat dia tidak sedih.
__ADS_1
Dan alasan kedua karena Risya telah menolong menjaga Sofie, alasan ketika adalah karena Haryo dan saya teman.
Namun bukan berarti saya akan melepaskan Ido begitu saja. ia harus merasakan penderitaan yang lebih sakit daripada kematian."Ucap Prakoso tersenyum dingin.