
"Hallo Ido, segera susul mama dan papa ke alamat yang mama kirim. Kita jemput Sofie.
sekarang juga, atau mama dan papa tidak akan mengakui kamu sebagai anak kami lagi"
Klik
Panggilan di akhiri Tania tanpa menunggu putranya menjawab.
Sementara di ujung telepon Ido mengacak-acak rambutnya frustasi
"Aaaaarrrrgggghhh, semua gara-gara Amara sialan itu, semuanya jadi kacau.
Gue gak mau kehilangan Sofie, gue cinta mati sama dia. Tapi kebiasaan ini sulit banget gue ilangin.
Semua ini gara-gara Sofie yang ninggalin gue dulu, dia malah memilih pacaran sama bos nya dibandingkan nunggu gue balik ke indo.
Gara-gara frustasi hidup gue ancur dan terjerumus dalam pergaulan bebas, sungguh gue gak mau seperti ini, gue bener-bener sayang Sofie dan gak mau kehilangan dia atau gue bisa mati" gumam Ido lalu menyambar stop kontak kendaraannya, lalu melaju menuju alamat yang dikirim mamanya.
Sepanjang perjalanan, Ido merangkai permintaan maaf untuk istrinya namun pikirannya buntu
beberapa kali terdengar Ido mengumpat karena kesal
"Kenapa otak gue jadi **** gini?
Gue harus ngomong apa ketika ketemu Sofie?
Apa dia mau maafin gue? " ucap Ido berbicara sendiri seperti orang yang hilang akal.
Ia melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, berharap segera sampai di villa tempat Risya membawa istrinya.
__ADS_1
Sementara di villa sudah menunjukan jam dua dinihari, Haryo dan istrinya sampai di villa keluarga Hilda.
mereka di sambil Risya dan Hilda yang terlihat sudah memerah matanya karena mengantuk.
Mereka berdua sengaja tidam tidur menanti kedatangan Haryo dan istrinya.
Sementara Sofie sudah terbuai dalam mimpi indahnya, selepas Hilda pamit keluar kamarnya, Sofie merebahkan tubuhnya di kasur dan tertidur.
"Assalamu alaikum"
"wa alaikum salam pa" ucap Risya mencium punggung tangan Haryo lalu Tania
nampak Tania masih marah pada Risya, ia menatap tajam putra bungsunya
"Mama masih utang penjelasan sama kamu ya Rish, apa yang kamu lakukan membuat mama kecewa" ucap Tania.
Hilda juga mengikuti langkah Risya mencium punggung tangan Haryo lalu Tania, namun terlihat wajah ketidaksukaan Tania melihat keberadaan Hilda di sana.
Kini yang menjadi prioritas mereka berdua adalah Sofie dan Ido.
Mereka harus membuat kedua pasangan tersebut berdamai demi cucu yang ada dalam rahim Sofie.
"Risya, dimana Sofie? apa dia sudah tertidur? tanya Haryo
"Iya pa, kak Sofie sudah tidur, seharusnya kak Sofie hari ini masih di rumah sakit karena efek kehamilanya ia jadi lemah dan jatuh sakit, namun demi memberi kabar bahagia pada kak Ido, Sofie sampai memaksakan diri melawan orangtuanya demi bertemu kak Ido.
Tapi malah melihat kak Ido dengan wanita lain, dan selebihnya seperti yang kalian tahu"
"Papa bangga sama kamu Ris, peduli sama keluarga, terima kasih nak.
__ADS_1
Kamu sudah bertindak benar" ucap Haryo menepuk pundak anak sulungnya
"Bener dari mana? apa namanya bener kalau buat kakaknya babak belur gitu, bukannya akur malah main adu jotos" sindir Tania
"Apa mama bisa diam kali ini saja?
tingkah laku Ido memang sudah keterlaluan dan mama ada andil di dalamnya"
"Kok Jadi mama yang papa salahkan? "Tanya Tania sewot
"Kalau saja mama tidak terlalu memanjakan Ido, dia gak akan bersikap seperti wanita.
Karena mama karakter Ido jadi buruk" ucap Papa naik pitam
Risya berusaha melerai, ia memegang tangan papanya
"sudah pa, ma, sekarang kita focus sama masalah kak Sofie dan kak Ido dulu. Mama sama papa jangan bertengkar. Please" ucap Risya menakup kedua tanganya kedepan
"Sebaiknya Om sama tante istirahat dulu" ucap Hilda di balas lirikan sinis Tania
"Ayo pa, kita istirahat " ajak Tania berusaha berbaikan"
"Mama istirahat dulu saja.
Hilda akan mengantar mama.
papa masih ada yang harus dibicarakan dengan Rasya" Ucap Haryo berjalan menuju Sofa ruang tamu
Tania langsung menyeret travel bag nya, sebenarnya Hilda mau membantunya, namun Tania buru-buru menolaknya.
__ADS_1
Tania berjalan menuju kamarnya di pandu Hilda yang berjalan kikuk di depannya.