Aku Yang Tersakiti

Aku Yang Tersakiti
Akhirnya Restu Itu Tiba


__ADS_3

Setelah kepergian Kuncoro dan keluarganya, Prakoso memanggil Sofie du ruang kerjanya, Ratih yang menanti di luar nampak cemas, ia berjalan mondar mandir karena panik


"Apa yang anda lalukan disini nyonya" sapa Hendra yang membuat Ratih terkejut hingga mengelus dadanya sendiri


"Pak Hendra, ngagetin aja, itu suami saya di dalam dengan anak saya, saya takut... "


"Nyonya tenang saja, pak Prakoso sepertinya sudah memberi restu Sofie dengan pak Andre, ia meminta saya memberikan informasi akurat tentang pak Andre, dan informasi ini akan tambah membuat ia lunak pada pak Andre" Hendra tersenyum lebar berusaha menenangkan Ratih


"Pak Hendra makasih" ucao Ratih lalu berjalan kedapur sambil tersenyum lega, ia membuatkan minuman untuk suami tercintanya dan putri kesayangannya, tak lupa juga buah potong untuk mereka


"Akhirnya kebahagiaanmu akan datang nak, mama akan pastikan kamu menikah dengan pria pilihanmu dan hidup bahagia selamanya" gumam Ratih


Sementara di dalam ruang kerja Prakoso


"Papa mau bertanya padamu, apa kamu mencintai Andre? jawab jujur"


"Iiiya pa, maaf" ucap Sofie menundukkan kepala


Prakoso menatap putrinya yang terus saja menunduk, lalu menghela nafas panjang, ia kembali teringat perkataan Kuncoro tadi siang dan perkataan Suryo beberapa waktu lalu, ia merasa kini memang waktunya ia harus menghilang egonya dan berbesar hati menerima pilihan putrinya


"Panggil, panggil ia menemui papa nanti malam ajak ia makan malam di rumah kita" ucap Prakoso akhirnya


"Aaapa pa? " tanya Sofie memastikan pendengarannya


"Undang Andre kerumah untuk makan malam, papa perlu bicara empat mata dengannya" ucap Prakoso lagi


"Terima kasih pa" ucap Sofie mendekati papanya dan memeluknya, Prakoso luluh, ia kini menyadari bahwa perbuatannya sudah membuat putrinya susah dan ia juga menyadari perasaan putrinya hanya untuk pria itu, namun Sofie mengalah demi untuk berbakti padanya


"Maafkan papa yang egois ya nak, papa merestui kalian" ucap Prakoso sambil membelai rambut Sofie


"Makasih banyak pa" ucap Sofie menahan haru


Tiba-tiba pintu ruang kerja terbuka, masuklah Ratih dengan membawa nampan berisi minuman dan buah potong


"Ayo papa, sayang minum dulu, kalian pasti butuh yang segar-segar" ucap Ratih tersenyum lebar menatap dua orang yang di cintainya kini sudah berdamai dengan perasaan masing-masing


Sofie memeluk Ratih


"Terima kasih ma" ucap Sofie lirih, air matanya merembes keluar, air mata bahagia


Ratih memandang suaminya


"Terima kasih sayang" ucapnya tanpa suara

__ADS_1


"Sudah jangan sedih, papa dan mama sudah merestuimu, kamu gak usah kawatir lagi jika ingij menerima nak Andre sebagai pendampingmu" ucap Ratih sambil menghapus air mata Sofie


"Terima kasih Ya Allah, akhirnya aku melihat kesalahanku, semangat semoga pria itu bisa menjadi imam dunia akhirat bagi putriku" gumam Prakoso dalam hati


Malam harinya


Andre sudah sampai di kediaman Prakoso sejak pukul tujuh tadi, kinu mereka sedang berbincang-bincang di ruang keluarga, nampak raut wajah Andre yang tegang


"Ayo sayang, bantu mama siapkan makan malam, biarkan papamu dengan nak Andre" ucap Ratih menggandeng tangan Sofie, mereka menuju ruang makan, kini tinggal Andre dan Prakoso


"Jadi nak Andre, om mau bertanya hal yang serius denganmu.


Apa kau mencintai anak om? "


"Saya mencintai Sofie dengan sepenuh hati"


"Bagaimana jika om tidak merestui? " tanya Prakoso menatap tajam pria pilihan putrinya itu


"Saya akan memperjuangkannya sampai om merestui, bagi kami, restu orangtua adalah modal awal kami melangkah kejenjang yang serius, baik Sofie maupun Andre ingin langkah kami kedepannya penuh berkah karena restu orangtua"


"Om merestui" ucap Prakoso pelan


"Maaa..makasih om" ucap Andre dengan senyum mengembang di wajahnya


"Tapi..... " Prakoso menggantung kalimatnya, membuat Andre menahan nafas menunggu ia melanjutkan kalimatnya


"Andre berjanji om, jika Andre ingkar, om bisa melakukan apapun pada Andre" jawab Andre penuh keyakinan


"Baiklah, om pegang kata-katamu" ucap Prakoso


Andre merasa lega, akhirnya Prakoso merestui hubungannya dengan Sofie, ia meminum teh hangat yang di siapkan Sofie untuk sekedar membasahi tenggorokannya yang kering


"Jadi kapan rencana keluargamu melamar anak om?" tanya Prakoso santai menyeruput kopi


Andre tersedak minuman yang sedang di minumnya tak menyangka Prakoso akan melayangkan pertanyaan secepat itu


"Uhuk uhuk, maaf om, Andre akan rundingkan dengan kedua orangtua Andre" ucap Andre menyeka mulutnya


"Lebih cepat, lebih baik, om tunggu kabarnya secepatnya, jangan katakan jika orangtuamu tak setuju pada putri om" tatap Prakoso tajam


"Alhamdulillah mereka setuju om, Andre sudah menyampaikan pada mereka"


"Apa mereka tak mempersalahkan status Sofie? menjadi janda bukan pilihan, hanya keadaan yang mendesak seseorang" ucap Prakoso lirih mengingat kejadian tempo hari waktu anaknya terluka

__ADS_1


"Andre menerima Sofie apa adanya, Andre mencintai Sofie tak perduli statusnya om"


"Om sangat menyayangi dia, om hanya ingin yang terbaik untuk masa depannya, om tak ingin melihat dia menderita, om harap dia bisa bahagia bersamamu" Prakoso menghela nafas panjang


"Andre mengerti kekawatiran om, tolong beri kepercayaan pada Andre sedikit saja, Andre akan buktikan pada om" Prakoso mengangguk


"Ayo kita makan malam" ajak Prakoso, lalu ia beranjak dari tempat duduknya di ikuti Andre, mereka makan malam bersama untuk pertama kalinya tanpa beban


Setelah makan malam, Prakoso memilih melanjutkan pekerjaannya kembali ke ruang kerja ditemani Ratih, kini tinggal Andre dan Sofie di ruang keluarga


"Sayang, mengapa kau tidak mengatakan jika papamu telah merestui hubungan kita? kau membuatku jantungan" ucap Andre merajuk


"Aku tahu calon suamiku, pria yang tangguh, jadi akan lebih baik kau mendengarnya sendiri dari papa" Sofie tersenyum menatap Andre


"Apa kau tahu? papa memintaku untuk segera menghalalkanmu" ucap Andre menarik Sofie dan memeluknya


"Masss, nanti papa dan mama lihat, malu" bisik Sofie


"Eh apa mas? papa mau kita...? " Andre mengangguk cepat


"Minggu ini akan ku bawa kamu menemui kedua orangtua ku"


"Mas, Sofie belum siap" ucap Sofie menundukkan kepala, ia takut orangtua Andre memandang statusnya sebagai janda


"Kau takut mama dan papa tak setuju karena statusku? aku sudah memperjuangkanmu di depan papamu, apa kau tidak mau berjuang demi aku? percayalah, kedua orangtua ku berfikiran terbuka, kamu tak perlu takut ada aku" ucap Andre menggenggam tangan Sofie erat


Ke esokan harinya


Dikediaman keluarga Andre


"Jadi minggu kamu akan membawa Sofie kemari sayang? " tanya Mirna berbinar-binar, sudah lama sekali ia tak melihat Andre membawa pulang wanita kerumahnya


"Iya ma, seperti yang sudah Andre katakan pada mama dan papa, Andre mencintainya tanpa melihat statusnya, Andre harap, papa dan mama bisa menerima dan menyayangi Sofie" Andre menatap penuh harap pada kedua orangtuanya


Bagaskara terlihat menghela nafas berat, ia kurang setuju dengan calon anaknya yang sudah pernah gagal menikah itu, ia berharap anaknya mendapat wanita yang lebih baik dari Sofie


"Apa kau sudah membulatkan tekadmu akanenikahinya? apa kau tidak akan kecewa nantinya karena dia... " Bagas menggantung kalimatnya menghembuskan nafas berat


"Maksud papa karena Sofie janda? apa yang salah dengan statusnya, itu bukan kemauannya, jika boleh memilih tidak ada yang mau menyandang status itu pa, Andre mencintai dia tulus dan ingin dia jadi pendamping Andre, Andre mohon papa memberi restu pada kami" ucap Andre dengan tatapan memohon


"Mas, mas, apa kau tidak bercermin pada dirimu sendiri, buah tak jauh dari pohonnya, dari mana sifat keras kepala anakmu diturunkan dan kau juga mewarisi satu sifat lagi pada putramu itu, sekali ia mencintai seseorang, maka ia akan mencintai orang itu selamanya, bukankah kau dulu seperti itu? sudah berapa kali aku tolak cintamu... " Bagas langsung membekap mulut istrinya dan meringis malu


"Mama stop, stop iya iya papa setuju, jangan buka aib papa" bisik Bagas lirih pada Mirna, sedang Mirna mengedipkan sebelah matanya pada Andre, membuat Andre membekap mulutnya menahan tawa melihat tingkah kedua orangtuanya itu

__ADS_1


"Ehmmm, papa setuju, bawa dia kerumah, papa mau lihat, sehebat apa wanita itu bisa membuat putra papa bertekuk lutut" ucap Bagas menetralkan perasaannya


"Baik pa, terima kasih" ucap Andre bahagia


__ADS_2