
Team dokter sedang berjuang keras di balik pintu ruang operasi.
Risya berusaha menghibur mama nya, walau ia juga sangat kwartir dengan kondisi Haryo, namun lebih mengkwatirkan kondisi Tania saat ini, ia seperti sudah tak bergairah hidup.
Tania memang sudah berhenti menangis, namun pandangannya kosong menatap pintu ruang operasi yang tak kunjung terbuka, sesekali ia menyeka air mata yang membasahi pipinya.
"Ma, mama harus makan, jaga kondisi mama, percayalah ma, papa di dalam sana juga sedang berjuang untuk kita”
"Risya, mama sangat mencintai papamu, jika terjadi sesuatu pada papa, mama tidak ingin hidup lagi”
ucap Tania menyeka air mata di pipinya
"Astagfirullah, mama istighfar ma, papa akan sembuh, mama sebaiknya makan dulu. papa pasti sedih kalau liat mama seperti ini” Risya berkaca-kaca, ia harus tegar demi orangtua nya
”Risya apa menurutmu papamu menyesal menikahi mama? mama bukan istri yang baik buat papa, mama selalu semaunya sendiri dan bersikap keterlaluan, tapi papamu yang bodoh itu selalu memaklumi mama, memanjakan mama, mama bukan istri yang baik, bukan ibu yang baik" ucap Tania kembali terisak
"Bagi Risya, mama adalah mama yang terbaik, dan menurut Risya papa juga beranggapan seperti itu”
”Enggak Risya, sebelum papamu kena serangan jantung, papamu marah pada mama.
Mama menyesal Risya, mama salah"
"Mama gak salah,mama menyembunyikan dari papa demi kesehatan papa”ucap Risya membela mama nya
Lampu kamar operasi mati, lalu dokter keluar dengan wajah lelah dan kwatir yang tercampur aduk.
Tania langsung berlari ke arah dokter tersebut
"Dok, bagaimana operasi nya,Suami saya bagimana dok?"Tanya Tania tanpa jeda
__ADS_1
"Operasi nya berjalan lancar.
Kondisi Suami ibu sudah melewati masa kritis, namun kami masih terus memantaunya, sebaiknya jangan tinggalkan beliau sendiri ya bu”
"Terima kasih dokter"ucap Tania jatuh terduduk, Risya dengan sigap menopang tubuh mama nya yang lemas
"Mama sebaiknya istirahat di rumah, biar Risya yang jaga papa”
”Mama gak mau Risya, mama gak mau jauh dari papa kamu”
" Keluarga Pak Haryo ” Teriak seorang perawat dari depan pintu ruang operasi
"Ya Suster" teriak Risya dan Tania serempak
Risya meminta mamanya duduk saja dan ia menghampiri si suster
”lakukan yang terbaik buat papa saya suster"
Tak lama kemudian beberapa perawat mendorong tempat tidur, Haryo teelihat masih tertidur karena pengaruh obat bius
mereka membawa ke ruang perawatan intensive dan memasang beberapa alat di tubuh pasien.
Tania dan Risya hanya bisa menatap nanar tubuh Haryo yang tak berdaya dari balik kaca
Risya masuk ke dalam ruangan perawatan, hanya boleh satu keluarga yang bisa masuk ke sana.
Risya menggenggam tangan papanya dan air matanya tak mampu ia tahan, Risya menangis tanpa suara
"Papa , please bangun pa, mama menunggu papa, kami masih membutuhkan papa.
__ADS_1
Please bangun pa, Risya janji akan belajar mengurus perusahaan, Risya akan belajar jadi orang sukses seperti papa, tapi Risya mohon bangun pa, Risya rindu papa” Air mata Risya jatuh di tangan Haryo.
Tiba-tiba tangan Haryo bergerak dan perlahan kedua matanya terbuka, Haryo tersenyum melihat Risya yang menunduk sambil menangis
"Hai Jagoan papa, jelek sekali kamu menangis, malu sama badanmu”ucap Haryo lirih
”Papa, terima kasih Ya Allah”ucap Risya bersyukur
”Anak papa jangan menangis, papa yakin suatu saat kamu akan jadi orang sukses melebihi papa.
Jangan menangis depan mama mu, tegar lah, karena mama mu wanita yang lemah, ia butuh kamu di sisinya untuk melindunginya , Papa percayakan mama padamu. Jaga mama untuk papa ya jagoan”
"Papa yang harus jaga mama, papa harus sembuh, jangan buat mama menangis terus, mama sangat takut kehilangan papa” Haryo hanya tersenyum lalu melirik istrinya yang menangis dari balik dinding kaca.
"Mas” Ucap Tania tanpa suara
”Sekarang tolong panggil mamamu, dan jangan lupa pesan papa, kamu harus janji sama papa”
Risya mengangguk lalu keluar ruang perawatan berganti Tania yang masuk dengan memakai pakaian jenguk steril
"Mas, maafin aku ya, mas mau maafin aku kan?"
”Ssssttt, jangan meminta maaf lagi, sudah dua puluh lima tahun pernikahan kita, dan terakhir aku mendengar mu memanggilku mas ketika Ido masih kecil.
Tania,,, aku mencintaimu sangat mencintaimu sayang, dahulu, kini dan nanti aku akan selalu mencintaimu.”
Haryo batuk beberapa kali dan darah segar keluar dari mulutnya
Tania panik dan akan memanggil dokter namun Haryo menariknya dan melarangnya
__ADS_1