Balas Dendam Keluarga Baru

Balas Dendam Keluarga Baru
Bab 100 - Divisi Petarung Bulan


__ADS_3

Qian Qi dan murid baru lainnya masuk ke dalam kelas. Zhang Liao menjelaskan tentang unit yang ada di divisi Petarung Bulan. Beberapa divisi memiliki unitnya tersendiri. Unit adalah divisi di dalam divisi.


Di divisi Petarung Bulan ada 6 unit yakni :




Unit Petarung, Unit khusus untuk melawan musuh manusia.




Unit Pengintai, Unit khusus untuk menyelidiki benteng musuh.




Unit Pembunuh, Unit khusus untuk membunuh manusia secara diam-diam.




Unit Mata-mata, Unit khusus untuk menyusup kekaisaran musuh.




Unit Petualang, Unit khusus untuk memburu monster.




Unit Penjelajah , Unit khusus untuk menjelajah gua, reruntuhan dan tempat-tempat lainnya.




Para murid bebas memilih unit yang ingin mereka masuki. Setiap 6 bulan sekali para murid juga boleh pindah dari satu unit ke unit lainnya. Zhang Liao meminta para murid untuk memutuskan unit yang ingin mereka masuki.


Qian Qi memilih unit Petualang. Unit petualang tidak terlalu banyak berinteraksi dengan manusia. Qian Qi bisa bersembunyi menghindari masalah sampai waktu turnamen tiba. Ia juga tidak perlu membunuh manusia lain untuk menaikkan peringkatnya. Unit petualang terlihat cukup menjanjikan.


Setelah para murid memilih unitnya masing-masing, mereka diberi pin khusus yang melambangkan unit mereka. Selama satu bulan murid baru akan bejalar dasar-dasarnya terlebih dahulu, agar mereka tidak kaget ketika bergabung dengan unit asli bersama kakak tingkatnya masing-masing.


Kehidupanku di divisi Petarung Bulan sepertinya akan membosankan. Qian Qi kembali lesu.



Keesokan harinya.


“Kemana perginya Sun An?”. Sun Long bangun dari tidurnya namun ia tidak menemukan Sun An.

__ADS_1


“Sun An…”.


“Di sini Ayah”.


“Apa yang kamu lakukan Sun An?”.


“Berenang”.


“Kamu tidak boleh berenang tanpa pengawasan orang dewasa. Laut cukup berbahaya”.


“Tenang saja Ayah, puluhan Prajurit Boneka mengawasiku. Aku juga hanya berenang di sekitar Atlas”.


“Kemarin kamu tidak mau berenang. Sekarang kamu berenang terus”.


“Ternyata berenang asik. Ada banyak hewan-hewan dan tumbuhan-tumbuhan aneh di dalam air. Aku sudah dapat ikan untuk Ayah masak”.


“Ikan? Mana ikannya?”.


“Itu di depan kapal”. Sun Long pergi memeriksa.


“Sun An ini bukan ikan. Ini monster Hiu Putih”.


“Sama saja Ayah. Sepertinya ikan itu tidak mengandung cacing pita. Jadi bisa di makan”.


“Ya… Hiu Putih memang bisa dimakan. Kamu harus hati-hati ada beberapa hewan laut yang beracun. Jangan asal pegang”.


“Baik Ayah”.


Hiu Putih ini berada di ranah Pagoda Tingkat 6 Tahap Awal. Sun An hebat juga, meski element kultivasinya api, ia mampu mengalahkan monster dengan ranah lebih kuat dari dirinya di dalam air. Sun Long mulai memasak Monster Hiu Putih.


“Sudah jadi Sun An. Ayo makan dulu”.


“Kamu mau melanjutkan petualangan ke kekaisaran Jin atau tetap main di sini?”.


“Hhhmmm… Aku mau lanjut berpetualang. Di sini memang asik, tapi hidup harus terus berjalan”.


“Haaa… haaa… haaa… Sejak kapan kamu jadi bijak Sun An”.


“Akukan sudah dewasa, tentu saja aku bijak”.


“Kenapa kamu mau cepat-cepat dewasa. Tetap kecil saja, jadi anak Ayah selamanya”.


“Biar aku bisa bebas pergi ke mana saja yang aku mau”.


“Sekarang kamu sudah bebas pergi kemana saja, Ayah akan menemanimu”.


“Kalau begitu tidak apa-apa aku jadi anak kecil. Tapi anak kecil yang cantik seperti Ibu”.


“Kalau cantik seperti Ibu. Makannya harus pelan-pelan”. Sun Long mengelap mulut Sun An yang belepotan.


“Hhhmmm… Aku rindu Ibu”.


“Ayah juga rindu”.


Setelah makan Sun Long dan Sun An bersiap untuk berangkat menuju ke dalam kekaisaran Jin. Sun Long memberi tahu Sun An mereka akan menggunakan nama samaran, yakni Liu Long dan Liu An menggunakan nama keluarga ibunya Sun Long.


Kekaisaran Jin memang kekaisaran netral. Jarang ikut perang dan lebih defensif. Tapi nama Sun akan membuat mereka lebih waspada. Sun An menyetujui nama samaran yang diberikan oleh Sun Long.

__ADS_1


“Ayah, kalau begitu kita tidak bisa terbang terus dengan Kapal Tempur Atlas”.


“Bisa saja kita menyamar menjadi pedagang kaya”.


“Bukankah hal itu jauh lebih berbahaya Ayah? Akan banyak penipu atau penjahat yang mengincar kita”.


“Anak Ayah memang yang terbaik”. Sun Long kembali menggendong Sun An.


“Hiii… hiii… hiii… Geli ayah. Jenggot ayah kasar”.


“Apa kamu punya ide Sun An?”.


“Bagaimana kalau kita bertualang sebagai penjual makanan”.


“Makanan apa?”.


“Berbagai macam makanan, ganti-ganti saja”.


“Kamu ya memanfaatkan Ayah. Kamu saja yang ingin mencoba berbagai macam masakan Ayah”.


“Apa Ayah tidak setuju?”.


“Apa pun untuk anak Ayah yang paling lucu”.


“Cantik…!!! Ayah”.


Sun Long dan Sun An bersiap-siap. Mereka kembali mengudara dengan kapal tempur Atlas menuju kota terdekat. Mereka hanya memiliki sedikit informasi tentang kekaisaran Jin. Petualangan ini tidak hanya untuk bermain-main.


Sun Long berencana menyebarkan prajurit boneka untuk memata-matai kekaisaran Jin, melebarkan wilayah kekuasaannya dari balik bayang-bayang. Tidak lupa Sun Long meninggalkan satu kompi prajurit boneka di pantai untuk membuat markas rahasia di sana.


“Sun An saat sampai nanti kita akan jualan makanan apa? Ayah perlu menyiapkan peralatan dan kereta kudanya”.


“Mochi. Kenyal-kenyal manis”.


“Oke…”.


Sun Long menyiapkan perlengkapan, sementara Sun An menggambar dan menulis surat menceritakan kegiatan Sun Long dan Sun An di pantai.


Tidak lama kemudian kapal tempur Atlas sampai di pinggir kota kecil. Sun Long langsung menurunkan perlengkapan dan meminta Sun An untuk meminum Pil Penyamar Dantian. Setelah minum pil Sun An memasukan kapal tempur Atlas ke dalam cincin khususnya.


“Ayo Sun An kita berangkat”.


“Aku mau naik di depan”. Sun Long mengangkat Sun An duduk di kursi kusir.


Sun An terlihat senang melihat kuda-kuda yang gagah dan indah. Sesekali ia mencoba memegang tali kuda dan menjalankannya. Ketika Sun An sedang asik menjalankan kereta kuda tiba-tiba saja ada monster ular yang menyerang mereka dari belakang.


Melihat monster ular, Sun An jadi bersemangat ingin melawannya. Namun Sun Long menahan tubuhnya. Ia mengingatkan Sun An mereka sedang menyamar. Sun An jadi cemberut dan kesal.


“Hiaaa…!”. Tiba-tiba seorang wanita lompat dari semak-semak menyerang monster ular.


“Ssshhh…!”. Monster ular itu refleks menghindar.


“Buk…!”. Monster ular itu menyerang balik dengan ekornya. Wanita itu terpental ke samping kereta kuda Sun Long. Tidak kenal ampun monster ular itu menyerang kembali.


“Cepat pergi…!”. Wanita itu menyuruh Sun Long dan Sun An pergi. Sepertinya wanita itu sudah pasrah melihat ular yang menganga di depannya.


Sun Long mengeluarkan botol kecil dari bajunya dan melemparkan botol itu ke arah ular. Botol itu pecah mengenai kepala ular. Ular itu terhenti dan menggeliat kebingungan.

__ADS_1


“Serang…!”. Sun Long menyuruh wanita itu untuk menyerang ular yang sedang lengah.


“Sleb…!”. Wanita itu berhasil menancapkan pedangnya di kepala ular dan membunuhnya.


__ADS_2