Balas Dendam Keluarga Baru

Balas Dendam Keluarga Baru
Bab 49 - Sun Fangxin bagian 3


__ADS_3

Qian Tao berfikir keras melihat sekeliling. Hanya ada salju sejauh mata memandang. Sementara itu pasukan musuh mulai berdatangan dari lantai bawah. Sejenak Qian Tao menenangkan diri dan berfikir. Ia mendapatkan ide yang cukup beresiko. Tapi idenya mungkin bisa menyelamatkan dirinya dan Sun Fangxin.


“Amarah Petir!”. Qian Tao langsung mengeluarkan teknik petirnya.


Qian Tao membuat bola petir ditangannya. Bola yang sangat kuat terbuat dari petir-petir dahsyat yang di kurung menjadi satu. Tidak lama kemudian pasukan musuh sudah mencapai atas menara dan mengepung Qian Tao dan Sun Fangxin.


“Kalian sudah terpojok menyerahlah”.


“Terima ini Amarah Petir!”. Qian Tao menyerang Jenderal musuh. Jenderal musuh pun menghindarinya dengan mudah.


“Petir kecil seperti itu tidak akan bisa mengenaiku”.


“Dari awal aku memang tidak mengincarmu”. Qian Tao mengambil sebuah perisai di dekatnya dan memeluk Sun Fangxin.


“Boom…!!!”. Bola petir itu mengenai gunung salju yang curam. Suara petirnya begitu dahsyar menggelegar ke seluruh penjuru gunung.


Mendengar suara petir yang keras. Gunung yang sedang tidur pun mengamuk. Longsor salju besar langsung menerpa seluruh benteng penjara. Sangking kuatnya longsor itu menara tempat Qian Tao dan Sun Fangxin pun ikutan roboh.


Untung saja Qian Tao sudah memegang perisai yang cukup besar membuat ia dapat berselancar sambil menggendong Sun Fangxin. Mereka berselancar mengikuti longsor salju. Sangat berbahaya namun ini merupakan satu-satunya jalan.


Pelarian mereka tidak berjalan mulus. Dari arah belakang reruntuhan menara mulai mengejar mereka. Qian Tao juga harus berkonsentrasi menghindari pohon-pohon dari arah depan. Tiba-tiba saja jedral yang tadi di serangnya muncul dari samping reruntuhan.


Pertarungan sengit pun tidak terelakan. Jenderal musuh menghujani Qian Tao dan Sun Fangxin dengan puluhan pedang. Mereka pun mulai terpojok terhimpit dari berbagai sisi. Qian Tao pun nekat melemparkan Sun Fangxin melambung ke arah depan.

__ADS_1


Qi… Qian Tao? Kenapa ia melemparku. Tentu saja nyawanya lebih penting di bandingkan diriku. Aku pasrah, mungkin ini sudah ajalku. Terima kasih sudah berusaha sejauh ini. Sun Fangxin menutup matanya.


“Petir Berantai!”. Qian Tao menyibakan tangannya ke salju. Salju terbuat dari air, ia mengalirkan petir yang cukup kuat ke arah perisai besi musuh. Jendral musuh pun kaget dan tidak menyadarinya.


Akhirnya Jendral musuh terkena petir bertegangan tinggi dan terjatuh tewas terlindas reruntuhan menara. Setelah membunuh jendral, Qian Tao berusaha mempercepat laju perisainya untuk menangkap Sun Fangxin.


Untung saja sesuai perkiraan Qian Tao, ia berhasil menangkap Sun Fangxin. Membuat Sun Fangxin merasa lega dan menangis ketakutan. Namun masalah utamanya belum selesai. Reruntuhan benteng masih menggelingding di belakang mengejar mereka.


Ketika Qian Tao sedang fokus melihat ke arah belakang, tiba-tiba saja perisainya tersangkut sebuah akar membuat Ia dan Sun Fangxin terpental jatuh berguling ke arah kanan. Reruntuhan menara dan longsor dahsyat pun segera menghampiri mereka.


Qian Tao dengan sigap melindungi Sun Fangxin dengan tubuhnya sendiri. Untung saja keberuntungan berpihak kepada mereka berdua. Posisi mereka sangat pas mengarah ke sebuah semak-semak. Dengan pohon besar di kedua sisinya.


Kedua pohon besar itu mampu mengubah Arah jatuhnya menara dan semak-semak belukar mampu menahan tubuh mereka. Namun mereka berdua tetap terkubur di dalam gulungan longsor. Keadaan pun menjadi gelap mereka berdua pun terhimpit hingga tidak sadarkan diri.


“Nyonya Sun Fangxin apakah Nyonya terluka? Mengapa begitu banyak darah di baju Nyonya?”. Sun Fangxin pun baru tersadar dan memeriksa tubuhnya.


“Ti... tidak aku tidak terluka sama sekali. Ini bukan darahku. Qi… Qian Tao”. Ternyata itu adalah darah Qian Tao. Jenderal musuh berhasil melukainya. Qian Tao pun rubuh dan pingsan.


Sun Fangxin pun kebingungan karena barang-barang mereka sudah di sita sebelumnya. Ia tidak memiliki obat oles untuk merawat luka Qian Tao. Untung saja ia masih menggunakan jepit rambut yang cukup tajam seperti jarum. Sun Fangxin pun melepas benang dari bajunya dan menjahit luka Qian Tao dengan itu.


Untung saja usaha Sun Fangxin berhasil. Pendarahan Qian Tao berhasil dihentikan. Setelah itu Sun Fangxin menyeret tubuh besar Qian Tao. Mencari  tempat perlindungan. Sudah cukup jauh Sun Fangxin menyeret tubuh Qian Tao di gunung salju yang berbahaya.


Tangan-tangan mungilnya sudah mulai terluka karena menarik Qian Tao. Kaki-kakinya mulai gemetaran menahan dingin. Usahanya tidak sia-sia beruntung sekali Sun Fangxin menemukan sebuah Gua. Ia pun segera masuk dan memeriksa keadaan di sekitarnya.

__ADS_1


Setelah memastikan tempatnya aman. Sun Fangxin membaringkan tubuh Qian Tao disebuah batu. Ia menyadari sesuatu bahwa suhu tubuh Qian Tao terlalu dingin. Ia tidak punya apa-apa untuk membuat api unggun. Akhirnya ia teringat sebuah cara dari sebuah buku yang dibacanya.


Cara satu-satunya untuk membuat tubuh Qian Tao menjadi normal adalah menempelkan tubuhnya sendiri kepada Qian Tao. Akhirnya Sun Fangxin membuka seluruh pakaian Qian Tao dan pakaiannya sendiri.


Sun Fangxin menempelkan tubuhnya ke tubuh Qian Tao. Dan menutup tubuh mereka dengan pakaian yang sudah dilepas. Karena kelelahan Sun Fangxin pun tertidur di atas tubuh Qian Tao.


Keesokan paginya. Qian Tao terbangun dari pingsannya. Alangkah terkejuttnya ia melihat Sun Fangxin ada di atas tubuhnya. Ia pun berusaha membangunkan Sun Fangxin. Tidak lama kemudian Sun Fangxin terbangun, ia langsung mengangkat tubuhnya.


Mata Qian Tao langsung melotot melihat Sun Fangxin yang telanjang bulat. Sun Fangxin pun tersadar, ia langsung mengambil baju dan memakainya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Wajahnya hanya memerah malu.


“Terima kasih Nyonya”. Qian Tao berbicara dengan suara yang serak. Ia sadar bahwa Sun Fangxin telah berusaha menyelamatkan nyawanya. Akan sangat tidak sopan jika ia membahas kejadian tadi.


“Suaramu serak. Tunggulah di sini aku mencari air dulu”.


Sun Fangxin pergi ke arah mulut gua. Ternyata guanya sudah tertutupi oleh salju. Ia mencoba menggalinya namun tidak berhasil. Mungkin terjadi longsor susulan ketika ia sedang tertidur. Untung saja mereka berdua masih selamat.


Sun Fangxin kembali dan mengatakan kondisi pintu gua kepada Qian Tao. Ia memutuskan untuk berjalan memasuki gua lebih dalam lagi. Qian Tao mencegahnya, namun tidak ada pilihan lain. Qian Tao benar-benar tidak bisa bergerak sedikit pun. Sementara itu ia butuh air minum.


Mau tidak mau Sun Fangxin harus memberanikan diri memasuki gua itu. Untung saja di pagi hari guanya tidak gelap. Ada cahaya yang masuk dan memantul merambat melalui es. Pasti gua ini memiliki sisi lainnya yang memungkinkan mereka untuk keluar.


Semakin masuk ke dalam gua ternyata ada rembesan salju yang mencair dan menggenang di sebuah batu. Sun Fangxin bisa menggunakannya sebagai air minum. Namun masalahnya ia tidak punya apa pun untuk membawa air itu kepada Qian Tao.


Sun Fangxin hendak mencoba mengumpulkan air dengan tangannya. Namun ia baru sadar tangannya terluka parah setelah menarik Qian Tao dan Mencoba menggali salju. Terdabat banyak luka yang sudah bernanah. Sudah pasti tidak akan bisa digunakan untuk membawa air minum. Satu-satunya cara hanya dengan cara itu.

__ADS_1


__ADS_2