Balas Dendam Keluarga Baru

Balas Dendam Keluarga Baru
Bab 87 - Diculik


__ADS_3

“Bagaimana ini Nyonya? Apa kita akan membunuh mereka?”.


“Hhhmmm… Bagaimana kalau kita tunggu saja. Aku akan memutuskan setelah melihat markas mereka. Sepertinya para bandit ini sudah menangkap banyak wanita”.


“Baik Nyonya… Huaaa…”. Mei Mei menguap.


“Sini Mei Mei”.


“Terima Kasih Nyonya”. Mei Mei tidur di pangkuan Qian Qi.


Beberapa jam kemudian kereta kuda berhenti. Kain penutup kurungan besi dibuka. Qian Qi dan Mei Mei dirantai dan dipandu masuk ke dalam sebuah benteng terbengkalai. Qian Qi dan Mei Mei menurut saja tidak melawan.


Di dalam benteng itu terdapat banyak bandit yang berjaga. Tampang mereka seram-seram seperti monster. Mata mereka memandangi Qian Qi dan Mei Mei yang sedang lewat.


“Wah… Tangkapan yang bagus”.


“Aku ingin mencicipinya”.


“RRRrrr…! Kalian sudah bosan hidup?”. Seorang bandit yang bertubuh besar datang.


“Ampun Bos kami hanya bercanda”.


“Kembali kerja”.


“Baik Bos”.


Qian Qi dan Mei Mei kembali digiring turun ke dalam bawah tanah. Tempatnya seperti penjara terdengar rintihan dan teriakan wanita meminta tolong. Benar saja tidak lama kemudian mereka melihat belasan wanita yang disatukan di dalam jeruji besi.


“Wah… mereka berdua terlihat cantik”.


“Tentu saja cantik. Mereka berdua kualitas tinggi. Kita masukan ke ruangan khusus”.


“Hore…! Kalau mereka laku kita bisa pesta-pesta lagi”.


Qian Qi dan Mei Mei di bawa ke ruangan khusus tidak di satukan dengan wanita yang lainnya.


“Xiii… xi… xi.. Kita disebut kualitas tinggi Nyonya. Berarti kita cantik”.


“Dasar kamu ya! Dipuji bandit malah senang”. Qian Qi menjitak Mei Mei.


“Aduh…! Lalu bagaimana Nyonya? Mau kita bantai?”.

__ADS_1


“Prajurit boneka!”.


“Siap Nyonya!”. Prajurit boneka muncul dari balik jendela besi kecil tempat udara masuk.


“Laporkan situasi”.


“Lapor! Ada 45 orang bandit, 22 orang sandera termasuk Nyonya dan 100 orang prajurit dari kota Silver yang siap menyerbu”.


“Apa detailnya sudah di dapat?”.


“Sudah Nyonya. Apa perlu saya sebutkan semua nama-nama dan informasi mereka semua?”.


“Tidak perlu. Aku butuh persentase kemungkinan prajurit kota Silver bisa mengalahkan bandit dan menyelamatkan seluruh sandera”.


“Kemungkinannya 85% Nyonya”.


“Cukup tinggi. Apakah ada orang kuat di pasukan kota Silver? Kapan mereka akan datang menyerbu?”.


“Tidak ada yang kuat Nyonya banditnya saja yang terlalu lemah. Ketua bandit berada di ranah Pagoda Tingkat 5 Tahap Menengah. Sedangkan Pemimpin pasukan kota Silver berada di ranah Pagoda Tingkat 6 Tahap Awal. Pemimpin pasukan kota Silver adalah Guan Ping, anak dari walikota kota Silver. Ia berada di peringkat pertama di ranking perguruan Pedang Bulan. Pasukan kota Silver akan menyerang saat matahari terbenam”.


“Hhhmmm… Kalau begitu kita tunggu saja biar mereka yang membebaskan kita. Prajurit boneka bantu mereka dari balik bayangan”.


“Siap Nyonya!”.


Teriakan dan rintihan masih terdengar jelas dari luar pintu. Bahkan ada yang memohon-mohon minta di lepaskan. Penjaga penjara sepertinya orang yang sabar. Ia mampu menghadapi teriakan dan jeritan wanita di dekatnya tanpa bergeming sedikit pun.


Setelah lama menunggu akhirnya matahari mulai terbenam. Pasukan kota Silver mulai mengendap-endap masuk menyerbu. Mereka dapat membunuh para bandit satu per satu tanpa ketahuan. Taktik tempur mereka tidaklah buruk. Sepertinya mereka bukan pasukan sembarangan.


Sementara itu Qian Qi dan Mei Mei latihan drama. Qian Qi dan Mei Mei harus pura-pura terkejut dan senang saat pasukan kota Silver datang menyelamatkan mereka. Mereka berusaha sebaik mungkin agar terlihat natural.


Setelah beberapa menit menunggu, keadaan mulai genting. Salah satu prajurit kota Silver melakukan kesalahan, menyebabkan penyergapan mereka ketahuan. Mau tidak mau penyergapan berubah menjadi penyerbuan.


Prajurit kota Silver harus bergerak cepat mencari dan menyelamatkan para sandera sebelum ketua bandit yang sampai duluan. Ledakan terdengar silih berganti. Mereka mulai beradu untuk membunuh satu sama lain.


Tidak lama kemudian seseorang mencoba membuka pintu ruangan Qian Qi dan Mei Mei. Mereka berdua bergegas bersiap kaget di posisinya masing-masing.


“Bruk…!”. Pintu terbuka dengan kasar. Seketika itu wajah Qian Qi dan Mei Mei berubah jadi masam. Ternyata yang datang adalah ketua Bandit bukan pasukan kota Silver. Latihan mereka selama ini jadi sia-sia.


Ketua bandit itu langsung datang menerjang, hendak membawa Qian Qi. Qian Qi yang tidak ingin tubuhnya dipegang oleh laki-laki lain langsung mengeluarkan tombaknya.


“Crat…!”. Tombak diayunkan membelah ketua bandit menjadi dua. Darah segar bercucuran membasahi seisi ruangan.

__ADS_1


“Bagaimana ini Nyonya?”.


“Percuma kita menunggu. Kita kabur saja lewat belakang”.


“Bruk…!”. Mei Mei meninju tembok tebal yang ada di bagian belakang. Meski sebagian besar ruangan terletak di bawah tanah. Tapi tinjuan Mei Mei tetap dapat menghancurkan tanahnya.


Qian Qi dan Mei Mei bisa kabur dengan mudah. Setelah cukup jauh Qian Qi dan Mei Mei segera mengganti baju karena terkena cipratan darah. Dengan wajah yang kesal Qian Qi dan Mei Mei memutuskan kembali ke penginapan dan beristirahat.


Sementara itu di dalam benteng.


“Napas Naga”. Guan Ping membakar para bandit yang menghalangi.


“Kapten ada laporan dentuman keras terdengar di area belakang”. Suara dentuman yang berasal dari tinjuan Mei Mei.


“Ayo kita periksa. Kemungkinan besar para sandera ada di sana. Pasukan Bergerak!”.


Prajurit kota Silver segera menyerbu lokasi. Berlahan-lahan mereka masuk sambil membantai para bandit. Hingga sampailah mereka di tempat para sandera.


“Jiwa Naga”. Guan Ping berubah menjadi naga dan menghancurkan jeruji besinya.


“Terima kasih Tuan Guan Ping”. Para wanita itu digiring menuju tempat aman.


“Maaf Tuan Guan Ping. Masih ada dua orang wanita lagi yang di bawa ke arah sana”. Seorang wanita berhenti dan menunjukkan jalan.


“Terima kasih. Kami akan langsung memeriksanya. Kalian berdua ayo ikut aku”.


Guan Ping dan kedua bawahannya langsung bergerak menuju ruangan Qian Qi dan Mei Mei. Alangkah terkejutnya mereka ruangan itu sudah di penuhi darah yang berceceran.


“Sial! Sepertinya kita terlambat”. Guan Ping terlihat kesal dan menyalahkan dirinya sendiri.


“Tuan lihatlah ini”. Salah seorang bawahan Guan Ping menunjukkan mayat Bos bandit.


“Mungkin ada monster yang datang Tuan”.


“Tidak ini bukan monster. Tidak ada bekas cakaran, gigitan atau yang sebagainya. Potongannya terlalu lurus dan bersih. Ia seperti terpotong oleh benda tajam”.


“Tuan di sini ada jejak kaki dua orang”.


“Sepertinya ke dua wanita itu berhasil lolos. Ketua bandit itu menculik orang yang salah. Ke dua wanita itu pastilah sangat kuat”.


“Bagaimana jika ada kemungkinan lain tuan?”.

__ADS_1


“Lihatlah ini. Kedua wanita itu tidak panik. Mereka malah minum teh. Merek teh ini salah satu yang terbaik. Kedua wanita itu pastilah seorang bangsawan”. Guan Ping menunjukan bekas ampas teh Qian Qi dan Mei Mei.


__ADS_2