
"Aaarrrkkkk...". Teriakan kesakitan dari bawahan Da Qiao menggema di seluruh kantin. Disusul dengan darah segar yang muncrat memberi warna di sekitarnya.
Teriakan pilu terdengar membuat setiap orang berhenti menyaksikan. Begitu malang nasib wanita itu. Niat menolong dibalas nestapa.
"Ada apa ini?". Zhang Liao yang kebetulan lewat segera datang memeriksa keadaan.
"Da Qiao. Kamu telah melanggar peraturan karena telah melukai murid lain".
"Aku tidak melukainya. Dia sendiri yang terpeleset dan menabrak pedangku".
"Masih berani berbohong. Kamu sudah tertangkap basah. Banyak saksi mata yang melihat".
"Aku berkata jujur. Tanya saja pada saksi matamu, apa yang sebenarnya terjadi".
"Kalian semua katakan yang sebenarnya".
"Benar Master Zhang Liao. Wanita itu terpeleset sendiri dan menabrak pedang Nona Da Qiao".
"Nona Da Qiao berkata jujur Master".
"Kalian jangan berbohong. Lagi pula sedang apa murid berperingkat ke kantin. Bukankah seluruh makanan dan kebutuhan sudah di sajikan langsung oleh petugas".
"Sudahlah Zhang Liao. Mereka hanyalah anak-anak. Hal seperti ini biasa terjadi". Datang seorang guru lainnya.
Guru bajingan yang waktu itu. Qian Qi menyaksikan dari kejauhan.
"Paman...". Da Qiao menghampiri guru tersebut.
"Tapi Tuan Da Shao".
"Hhhmmm...". Da Shao mengancam.
"Ayo Da Qiao. Kita pergi saja dari sini". Da Qiao dan Da Shao pergi.
"Master Zhang Liao sebaiknya kita bawa dulu wanita ini". Qian Qi menghampiri Zhang Liao yang terdiam kesal.
"Kamu benar Qian Qi". Zhang Liao dan Qian Qi pergi ke ruang kesehatan.
"Qian Qi kenapa kamu tidak menolong wanita itu".
__ADS_1
"Terkadang seseorang harus menghadapi dosanya sendiri. Dia masih muda, masih banyak yang harus dipelajari. Lagi pula lukanya tidak dalam. Dia akan baik-baik saja".
"Master Zhang Liao. Siapa sebenarnya Da Qiao? Kenapa murid-murid lain tunduk padanya".
"Sebaiknya kamu jangan mencari masalah dengan mereka. Dia adalah anak dari bangsawan kaya. Salah satu petinggi di kota Silver. Mereka sering memonopoli bahan baku".
"Ada beberapa orang yang harus kamu waspadai di divisi Petarung Bulan. Ada Da Qiao, Wang Yi dan yang paling buruk adalah Gan Ning".
"Gan Ning? Siapa dia Master?".
"Gan Ning adalah murid terkuat ke tiga di perguruan Pedang Bulan. Dia adalah anak dari Jenderal besar Gan Yuan. Sifatnya sama seperti Ayahnya sering menjual budak dan kasar. Pokoknya mereka adalah yang terburuk dari yang terburuk".
"Menarik...". Qian Qi tersenyum.
"Qian Qi...". Zhang Liao heran.
"Terima kasih atas informasinya Master. Kalau begitu mari kita masuk ke kelas, Sebentar lagi jam 8".
"Aku hampir lupa karena kesal". Qian Qi dan Zhang Liao pergi ke kelas.
Setelah pelajaran usai Qian Qi bergegas pergi ke divisi Penari Bulan. Energinya sudah habis, pasalnya ia belum makan dari pagi.
Mei Mei begitu antusias ingin mencoba kekuatan barunya. Namun ekspetasinya harus pupus lantaran melihat Qian Qi yang berjalan lemas.
Meski Qian Qi lemas ia tetap menjunjung tinggi Yu Na. Ia ingin menemui Yu Na terlebih dahulu.
Mei Mei pun mengantar Qian Qi ke kamar Yu Na. Pasalnya Yu Na memang belum keluar kamar. Ia baru pulang tengah malam dari rapat para Tetua.
Kebetulan sekali saat Qian Qi dan Mei Mei sampai di kamar Yu Na. Mereka melihat para pelayan yang sedang mengantarkan makanan.
Tanpa basa-basi Qian Qi yang kelaparan lansung menerobos masuk kamar dan memakan makanan Yu Na.
Yu Na yang terlihat lelah tidak menanggapi. Ia hanya meminta pelayan untuk membawakan lebih banyak makanan. Sepertinya ia sudah menyerah melawan keras kepalanya Qian Qi.
Setelah perut kenyang Qian Qi baru bersikap sopan dan kembali menjunjung tinggi Yu Na. Tanpa diminta ia menceritakan kejadian di kantin tadi pagi.
Mendengar kisah Qian Qi, Yu Na tidak mau kalah. Ia juga menceritakan nasibnya di rapat para Tetua.
Para Tetua dikumpulkan untuk membahas kejadian Iblis waktu itu. Yu Na diberi berbagai hadiah atas pencapaiannya.
__ADS_1
Berhasil melawan Iblis dan mendapatkan mayat yang berharga. Dewi Yu Na diberi hadiah dana besar untuk membangun divisi Penari Bulan.
Tapi tidak hanya hadiah yang didapat. Para Tetua mendapatkan tugas tambahan untuk meningkatkan keamanan divisinya masing-masing.
Belum cukup sampai di situ. Yu Na diberi tanggung jawab yang besar sebagai pemimpin sementara perguruan Pedang Bulan.
Wakil ketua perguruan Pedang Bulan memutuskan untuk pergi ke kota Goliat bersama beberapa Tetua lainnya.
Kota Goliat mulai terbuka untuk umum dan menerima orang-orang yang terpilih untuk menjelajah di Surga Hitam.
Memang Surga Hitam terbuka untuk semua orang. Namun akan sangat berbahaya jika menjelajah di sana tanpa adanya titik aman atau tempat berlindung.
Kota Goliat yang tadinya sebuah mitos belaka, kini mulai menunjukkan dirinya. Tentu saja wakil ketua perguruan Pedang Bulan langsung tertarik dan melimpahkan semua beban perguruan pada Yu Na.
Mendengar hal itu Qian Qi jadi bersimpati. Lagi pula akar mula kota Goliat dibuka untuk umum adalah dari permintaan Qian Qi untuk bahan makanan sehat.
Qian Qi menawarkan diri untuk membantu mengerjakan tugas-tugas Yu Na. Meski Qian Qi cukup keras kepala tapi ia bisa diandalkan. Yu Na pun meminta Qian Qi untuk memeriksa tumpukan kertas yang ada di mejanya.
Tumpukan kertas itu benar-benar banyak membuat Qian Qi sekidit menyesal menawarkan bantuan. Namun rasa penyesalan itu hilang ketika melihat Yu Na yang sudah terlalu tua dan keriput. Dengan semangat Qian Qi membulatkan tekat untuk membantu mengerjakan tugas Yu Na.
Merasakan firasat buruk, Mei Mei mengendap-endap berusaha kabur. Meski Qian Qi memiliki mata yang sayu, ia tetap bisa melihat Mei Mei yang mulai bersembunyi di balik para pelayan.
"Mau kemana kamu Mei Mei".
"Hiiaaa...".
"Hiiaaa...".
"Api Pendorong". Mei Mei lansung berlari kabur.
"Petir Berantai". Qian Qi menembakkan aliran petir dari ujung telunjuknya.
Petir itu tidak terputus, ia mampu berbelok mengejar Mei Mei yang berlari Zig Zag. Karena kalah cepat Mei Mei mencoba menari menghindar.
"Aku tidak akan kalah". Berkat hasil latihannya Mei Mei dapat menghindari teknik petir Qian Qi. Meski begitu teknik petir Qian Qi belum berhenti.
"Jaring Petir". Petir Qian Qi berhenti mengejar Mei Mei. Petir itu mendadak berubah arah ke atas Mei Mei.
Mei Mei yang bingung berusaha kembali berlari menghindar. Ia tahu bahwa Qian Qi bukanlah orang sembarangan setiap tekniknya mampu mengalahkan Mei Mei dengan mudah.
__ADS_1
Tanpa diduga ujung petir Qian Qi yang tadinya satu mendadak berubah menjadi jaring laba-laba yang besar. Jaring laba-laba itu mampu menutupi seluruh jalan keluar Mei Mei.