Balas Dendam Keluarga Baru

Balas Dendam Keluarga Baru
Bab 157 - Korban Tidak Berdosa


__ADS_3

"Tok...! Tok...! Tok...!. Qian Qi cepat bangun. Tetua Yu Na menyuruh semua orang untuk berkumpul di benteng pusat". Tetangga kamar Qian Qi mengetuk.


"Eee...". Qian Qi kesulitan tidur hingga ia bangun kesiangan.


Setelah mengumpulkan nyawa Qian Qi bersiap-siap pergi mengikuti yang lainnya ke benteng pusat.


Tumben sekali biasanya akses ke benteng pusat terbatas. Hanya pengurus sekolah dan murid berperingkat yang boleh menginjakkan kaki di sana.


Situasi kali ini membuat perasaan Qian Qi tidak enak. Pasti hal buruk telah terjadi menimpah perguruan Pedang Bulan.


Benar saja sesampainya di sana suasana begitu ramai. Semua murid dari semua divisi berkumpul.


Keadaannya begitu membingungkan. Ada beberapa orang yang menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi.


Informasi menjadi tidak karuan. Beberapa orang bahkan menangis ketakutan, sedangkan beberapa lagi sudah menggunakan peralatan tempur mereka siap bertarung.


Tidak lama kemudian keenam Tetua Pemimpin divisi hadir. Yu Na sebagai Pemimpin sementara menertibkan para murid.


Para murid dibariskan sesuai dengan tingkat dan divisinya masing-masing. Para murid hanya bisa pasrah mengikuti perintah Tetua Yu Na.


Rasa penasaran menghantui mereka semua ketika para petugas mengangkut puluhan peti mati ke depan aula.


"Siap... Grak...!, Hormat... Grak...!". Para pengurus dan para murid perguruan Pedang Bulan memberi hormat.


"Tadi malam. Perguruan Pedang Bulan kembali diserang oleh Iblis. Mereka yang ada di hadapan kalian adalah para pahlawan yang berjuang menghadang para iblis tersebut".


"Selama mengajar di perguruan Pedang Bulan aku tidak pernah kehilangan orang sebanyak ini".


"Kami selaku pihak perguruan Pedang Bulan. Meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada korban, keluarga korban, teman-teman korban dan lain sebagainya".


"Perguruan Pedang Bulan sudah dua kali diserang oleh iblis. Karena serangan pertama tidak menimbulkan korban jiwa kami pikir kami bisa menjaga kalian semua".


"Namun serangan kali ini para iblis membuktikan kalau aku terlalu naif. Bangsa Iblis tidak bisa diremehkan".


"Umat manusia sudah bertempur melawan iblis sejak zaman dahulu kala. Para pahlawan telah gugur berjuang demi melindungi generasi selanjutnya".

__ADS_1


"Waktunya kita untuk sadar. Waktunya kita untuk bangkit. Manusia merupakan makhluk yang lebih kuat dari pada Iblis".


"Kita berdiri menginjakkan kaki di tanah menatap langit tanpa rasa takut. Sementara para iblis ketakutan dan bersembunyi di bawah kaki kita"


"Bagi mereka yang sama dengan kaum iblis pengecut, takut dan lemah. Silakan, kalian bisa pergi meninggalkan perguruan Pedang Bulan sekarang juga".


"Tapi bagi kalian yang berani, menganggap hal ini sebagai kesempatan untuk terus maju silakan tetap di sini".


"Bayangkan keberanian kalian tercatat dalam sejarah. Bayangkan kalian berhasil mengalahkan iblis. Gelar bangsawan bukan lagi angan-angan melainkan kesempatan di depan mata".


"Siapa yang mau merubah nasib, siapa yang berani merubah nasib, siapa yang berani menganggap bangsa Iblis sebagai batu loncatan, bersiaplah. Kesempatan tidak datang dua kali".


"Kami dari perguruan Pedang Bulan. Siap untuk membawa kalian semua ke tempat yang lebih tinggi, tempat yang lebih layak dan tempat yang lebih indah".


"Bersiap lah... Berani lah... Kita akan berjuang bersama-sama. Kalian tidak sendiri. Lihat lah sekeliling kalian".


"Lihat lah wajah-wajah itu. Kalian sudah terlalu jauh untuk mundur. Semuanya akan sia-sia jika kalian memilih untuk mundur".


"Kuatkan hati kalian, kuatkan tekat kalian. Hari esok hanya untuk orang-orang yang berani". Setelah berpidato acara dilanjutkan sampai semua peti mati selesai dikembalikan kepada para wali.


"Plak...!". Yu Na hanya bisa tertunduk meminta maaf saat seorang wali murid menamparnya sekuat tenaga.


Memang kekuatan kultivasi Tetua Yu Na sudah tinggi, tamparan orang biasa tidak akan melukainya secara fisik.


Namun secara mental pukulan itu terasa sakit sekali. Yu Na tidak akan pernah bisa melupakan tamparan seorang ibu yang kehilangan anaknya. Tamparan dan lukanya akan membekas selamanya.


"Mei Mei tolong carikan Qian Qi. Suruh dia menemui ku".


"Baik Tetua". Mei Mei pergi, sementara Yu Na melangkah menuju kamarnya.


Sesampainya Yu Na di kamarnya, ia melihat pintu kamarnya terbuka sedikit. Seperti biasa Qian Qi pasti ada di dalam kamarnya.


"Heee... eee... eee...". Suara tangis samar-samar terdengar.


Benar saja Qian Qi menangis di atas kasur Yu Na. Ia merasa bersalah untuk pertama kalinya orang-orang tidak bersalah mati karenanya.

__ADS_1


Orang-orang itu tidak melakukan apa-apa hanya melakukan tugasnya masing-masing. Mereka bahkan tidak tahu alasan mereka dibunuh dengan keji.


Qian Qi tidak mengira dampaknya akan sejauh ini. Qian Qi tidak mengira para penjaga semalam benar-benar dibunuh.


Melihat Qian Qi yang menderita Yu Na duduk di sebelah kasur. Memindahkan kepala Qian Qi untuk bersandar di pangkuannya.


Yu Na tidak berkata sepatah kata pun. Ia hanya mengelus-elus kepala Qian Qi sambil berbagi rasa sedih.


Memang musibah datang tanpa ada peringatan. Terjadi begitu kejam dan cepat. Bahkan tidak ada yang mengetahui musibah itu terjadi sampai musibah itu selesai melanda.


Beberapa jam berlalu dengan kesunyian dan tangisan. Sampai akhirnya waktu harus kembali berjalan.


Mei Mei datang untuk memberitahu bahwa ia tidak bisa menemukan Qian Qi. Alangkah terkejutnya ia melihat Qian Qi ada di pangkuan Yu Na.


Rasa kesal menghantui Mei Mei. Ia juga ingin menemani Qian Qi dalam rasa sedihnya. Ia merasa bersalah tidak ada di sisi Qian Qi saat Qian Qi membutuhkannya.


"Tok... Tok... Tok...". Tidak lama kemudian seseorang mengetuk pintu kamar Yu Na.


Ternyata Zhen Ji, Cai Wenji, Guan Ping, Kai Yu dan Guan Yu datang. Mereka memiliki informasi tentang serangan semalam.


Ternyata musibah yang datang cukup rumit. Yu Na dan yang lainnya pergi ke ruang rapat ketua di benteng pusat.


Yu Na hendak memanggil semua Tetua namun Guan Yu mencegahnya. Formasi kedap suara dan keamanan ruang rapat di perketat.


Setelah semuanya siap baru Guan Yu membeberkan hasil temuannya. Ia mengeluarkan pecahan Palu Halilintar yang ia temukan di TKP.


Untung saja Mei Mei berhasil menghancurkan palu itu hingga mereka bisa tahu siapa orang yang ada di baliknya.


Tidak hanya Qian Qi dan Yu Na. Guan Yu juga merasa bersalah. Ia tidak menyangka senjata yang ia banggakan membunuh warganya sendiri.


Palu Halilintar itu adalah palu pesanan yang di design khusus. Palu itu dipesan oleh salah satu Jenderal Besar yang kemarin hadir.


Jenderal Besar yang mengawal Pangeran Sun Jian dan Xiao Yun. Guan Yu tidak mengerti mengapa Jenderal Besar itu berani membunuh para murid dan membuat onar.


Qian Qi meminta maaf dan menceritakan kejadian di pasar batu Misteri. Zhen Ji, Guan Ping dan Kai Yu memang tidak menceritakan kejadiannya karena mereka khawatir terhadap Qian Qi.

__ADS_1


Alangkah terkejutnya Guan Yu melihat batu Blue Diamond yang sangat langka dan tak ternilai ada di depan matanya.


__ADS_2