
“Hhhmmm… Baiklah Bibi rasa kamu berhak tahu”. Sun Fangxin bercerita.
Waktu itu Sun Fangxin sedang dalam perjalanan pulang dari kunjungannya di luar kota. Namun Informasi jalur perjalanannya bocor dan terdengar oleh kekaisaran musuh. Sun Fangxin waktu itu hanya tuan putri biasa tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan pasukan musuh.
Akhirnya seluruh rombongan pun terbunuh hanya menyisakan Sun Fangxin yang diculik sebagai sandera. Musuh-musuh itu menuntut kekaisaran Sun untuk menyerahkan sebagian besar wilayahnya menjadi hak milik kekaisaran musuh.
Sebelum tenggat waktunya tiba kekaisaran Sun tidak tinggal diam. Kaisar Sun waktu itu kaisar Sun Bu, ayahnya Sun Fangxin langsung membuat pasukan khusus yang dipimpin oleh Qian Tao. Waktu itu Qian Tao masihlah seorang kapten belum menjadi jenderal besar. Meski begitu reputasinya yang gemilang membuat dirinya dilirik oleh kaisar Sun Bu.
Perang masih berkecamuk di seluruh penjuru kekaisaran. Jenderal-jenderal besar semuanya sedang sibuk menghadang musuh. Mau tidak mau kaisar Sun harus mempercayakan misi penyelamatan Sun Fangxin kepada Qian Tao. Qian Tao pun menyanggupinya.
Akhirnya Qian Tao berangkat bersama beberapa orang yang memiliki kultivasi tinggi. Mereka menyusup sebagai warga kota yang mengungsi. Untung saja bentuk fisik warga kota kekaisaran Sun dan kekaisaran musuh tidak jauh berbeda.
***
“Buk…! Buk…! Crattt…!”. Qian Tao dikeroyok secara membabi buta. Wajahnya bengkak, Tubuhnya luka-luka dan punggungnya terluka oleh tebasan pedang.
“Aduh… Dasar kalian. Sepertinya kalian memang dendam kepadaku”.
“Tidak kapten. Kami hanya membuatnya lebih realistis. Wajah kapten sudah dikenali oleh beberapa musuh. Dengan wajah yang normal kapten tidak mungkin bisa lewat. Kalau wajah kapten bengkak-bengkak seperti ini pasti bisa lewat”.
__ADS_1
“Dasar sini kamu. Sekarang giliran kamu”.
Qian Tao dan beberapa prajurit bergantian mengeroyok seluruh anggota pasukan khusus. Membuat wajah mereka jadi bengkak dan sulit dikenali. Dengan begitu alasan sebagai pengungsi kemungkinan besar dapat diterima oleh kekaisaran musuh.
Benar saja mereka dapat masuk dengan mudah, mereka langsung dikumpulkan di sebuah tempat untuk para pengungsi. Mereka akan diperiksa lagi tingkat kultivasi, kesehatan dan lain sebagainya. Hal ini cukup berbahaya Qian Tao dan anggotanya bisa ketahuan dan dihukum mati.
Mereka tidak dapat menyembunyikan tingkat kultivasinya. Seluruh anggota pasukan khusus memiliki Ranah Pagoda Tingkat 6 ke atas. Ranah yang tidak mungkin dimiliki oleh warga biasa. Ranah setinggi itu tidak mungkin bisa dihajar sampai babak belur.
Kebetulan sekali tempat mereka dikumpulkan merupakan sebuah lumbung. Terdapat banyak jerami di dalamnya. Qian Tao menyuruh anggotanya menyusun jerami-jerami itu sambil mengawasi para pengungsi lain. Qian Tao dan beberapa prajuritnya mendorong para pengungsi yang berdesak-desakan dengan begitu tidak akan ada yang sadar dengan apa yang dilakukan prajurit-prajurit lainnya.
Setelah itu Qian Tao membakar jerami yang sudah disusun. Karena sudah disusun jerami-jerami yang dibakar tidak akan membahayakan orang. Susunan jerami itu hanya digunakan untuk membuat kepulan asap tebal.
Para pengungsi yang melihat asap langsung panik berhamburan memaksa keluar. Keadaan menjadi tidak karuan dan kacau. Kekacauan yang terjadi membuka kesempatan besar untuk Pasukan Khusus bisa kabur masuk ke dalam wilayah musuh.
Keesokan paginya mereka pun sudah pulih kembali. Berkat obat oles herbal yang mereka gunakan. Qian Tao dan prajurit pasukan khusus menyamar menjadi gelandangan. Mereka pun menyebar ke berbagai desa dan kota berharap menemukan informasi tentang keberadaan Sun Fangxin.
Qian Tao dan beberapa prajurit langsung bergerak menuju ibu kota kekaisaran musuh. Kemungkinan besar Sun Fangxin ditawan di sana. Mereka harus bergerak cepat berpacu dengan waktu. Setelah seharian mereka menyebar dan mencari mereka tidak menemukan apa pun.
Tidak ada seorang pun yang membicarakan tentang Sun Fangxin. Sepertinya hanya para pentinggi saja yang mengetahui bahwa mereka menawan Sun Fangxin. Qian Tao pun tidak kehabisan Ide ia merencanakan sesuatu semalaman.
__ADS_1
“Saudara-saudara kita menang! Kaisar kita telah menangkap putri dari kekaisaran Sun. Perang akan segera berakhir”. Salah seorang prajurit pasukan khusus diperintahkan menyebarkan kabar penculikan Sun Fangxin.
Informasi rahasia pun bocor ke publik. Tentu saja para petinggi tidak akan tinggal diam. Benar saja tidak butuh waktu lama para prajurit pasukan musuh menangkap dan membawa bawahan Qian Tao.
Tidak tinggal diam Qian Tao dan anggota lainnya mengikuti mereka. Mereka pergi ke tempat salah seorang bangsawan. Bangsawan itu pun menghampiri bawahan Qian Tao. Ia ingin membungkap bawahan Qian Tao.
Ketika bangsawan itu hendak menyiksa Bawahan Qian Tao. Qian Tao dan beberapa prajurit lainnya langsung menyergap dan menyelamatkannya. Yang tadinya bangsawan itu hendak menyiksa sekarang berbalik. Bangsawan itu malah disiksa oleh Qian Tao agar mau memberitahu keberadaan Sun Fangxin.
Informasi pun didapat. Ternyata Sun Fangxin dikurung di sebuah penjara yang ketat. Jauh di atas gunung es yang mengerikan. Penjara yang terkenal tidak ada orang yang bisa keluar setelah memasukinya. Seluruh tahanan di sana akan mati cepat atau lambat.
Qian Tao langsung mengumpulkan seluruh prajuritnya di kaki gunung itu. Mereka semua menyiapkan perlengkapan untuk mendaki gunung dan untuk bertempur. Misi penyelamatan Sun Fangxin pun baru dimulai.
Setelah siap mereka mulai mencari-cari titik-titik pendakian. Namun sudah lama mereka mencari tetap tidak ketemu jalur yang aman. Gunung salju ini terlalu curam dan licin untuk di panjat terlalu beresiko.
Qian Tao memikirkan beberapa rencana. Rencana yang paling masuk akal hanyalah menyusup masuk ke dalam penjara. Tidak ada pilihan lain. Wajar saja penjara ini di sebut penjara paling ketat. Meski tahanan bisa kabur dari penjara tapi mereka tidak akan bisa kabur dari kejamnya gunung salju.
Satu kelompok pasukan khusus saja tidak berani memanjat Gunung itu apa lagi tahanan biasa. Memikirkannya saja bisa membuat mereka mati karena putus asa. Mereka pun memikirkan rute masuk dan rute pelarian dari benteng penjara itu.
Setelah memikirkan beberapa rute. Mereka belum yakin dengan rutenya. Rencana kali ini harus berhasil tidak ada kata gagal di dalamnya. Salah sedikit saja Sun Fangxin dan sebaigan besar wilayah kekaisaran Sun bisa hancur. Akhirnya mereka menunda penyerangan. Mereka ingin melihat benteng penjara di malam hari.
__ADS_1
Siapa tahu jika malam hari mereka bisa dapat beberapa strategi baru. Malam pun tiba mereka kembali mencari rute yang bisa dilalui. Tetap hasilnya nihil penjagaan bentengnya terlalu ketat. Arsitektur bentengnya terlalu kokoh dan sempurna.
Ketika Qian Tao dan pasukannya sedang kebingungan tiba-tiba badai salju menerpa. Benteng penjara itu masih kokoh berdiri, namun para penjaganya bersembunyi berteduh. Wajar saja mau sekuat apa pun para penjaga itu masihlah manusia biasa yang bisa masuk angin.