
"Meow... Meow...".
"Uuu... Nyo ngonyo... Qilin kangen ya sama aku". Qian Qi langsung memeluk Qilin yang menggemaskan.
"Meow... Meow...". Qilin melepaskan diri dan lompat ke aset Qian Qi.
"Hiii... hiii... hiii... geli Qilin".
"Krrr...".
"Bagaimana keadaan Ketua Qian Qi".
"Tenang Dewi, Ketua baik-baik saja".
"Maksudku tentang kultivasinya. Apa Ketua bisa sampai ke ranah Pagoda Tingkat 8. Dia sudah terlalu lama di dalam sana. Aku jadi khawatir".
"Awalnya kurang bagus dan mustahil. Tapi aku sudah memberi tips dan cara yang di ajarkan Hubby dan Master Pang Tong. Tenang saja Dewi, aku yakin beberapa bulan lagi Ketua akan keluar".
"Syukurlah kalau begitu".
"Ini Nyonya, Tetua tehnya". Mei Mei selesai membuat teh dan camilan.
"Mmm... Tumben teh buatanmu enak Mei Mei".
"Tentu saja enak. Aku tidak mau dihukum lagi oleh Tetua Yu Na".
"Bagaimana aku tidak menghukum mu. Orang bodoh mana yang membuat teh pakai air biasa, bukan air panas. Katanya kamu salah satu ahli Alkemis di kota Goliat tapi membuat teh saja tidak becus".
"Ya mau bagaimana lagi. Di kota Goliat tidak ada teh. Bahkan tidak ada apa-apa sama sekali, sampai Nyonya Qian Qi datang. Kami tidak tahu apa-apa kalau masalah makanan".
"Sudahlah Dewi Yu Na. Sesekali beri keringanan untuk Mei Mei".
"Maaf, aku lupa. Sudah lama aku tidak ke Surga Hitam".
"Heee... heee... Tidak apa Tetua".
"Ngomong-ngomong, perasaanku saja atau Qilin memang semakin berat". Qian Qi mengeluarkan Qilin.
"Iya Nyonya sepertinya dia semakin bulat".
"Wah... Beneran bulat. Baru di tinggal beberapa hari sudah sebesar ini. Dia makan terlalu banyak".
"Biar saja diakan masih kecil. Memang harus bulat untuk pertumbuhannya. Heee... heee... heee... lagi pula Qilin ternyata benar-benar membawa keberuntungan. divisi Penari Bulan dapat banyak sponsor di tambah 20% dana tambahan dari Zhen Ji dan Cai Wenji. Divisi Penari Bulan kaya raya".
"Awal-awal Dewi Yu Na yang memperingatkan ku jangan terlena dengan keberuntungan. Sekarang sebaliknya sendirinya yang terlena".
"Sudahlah Qian Qi. Hitung-hitung membantu para murid lainnya". Yu Na tersenyum licik.
"Ngew... ngew...".
"Jangan jahil Mei Mei kasihan dia".
__ADS_1
"Lucu sekali. Dia tidak bisa melawan sekarang. Aku bisa menjahilinya sesuka hati".
"Meow... Meow...".
"Iya... iya... mau pulang ya. Kasihan...". Qilin memelas pada Qian Qi.
"Kalau begitu karena sudah sore aku pulang dulu Dewi, Mei Mei".
"Tunggu Qian Qi. Jangan lupa kamu masih memiliki perjanjian. Perbaiki divisi Petarung Bulan, maka aku akan memberi peninggalan Liu Shu".
"Tentu saja Dewi, aku tidak akan lupa".
"Kalau bisa lakukan dengan lebih cepat. Aku tidak ingin Ketua keluar dengan masalah yang menumpuk. Ia sudah terlalu tua untuk itu. Setelah keluar aku ingin ia istirahat".
Dewi Yu Na sangat peduli kepada Ketua. Aku jadi penasaran.
"Baiklah Dewi, aku akan melakukannya secepat mungkin".
"Bagus. Ini cincin makanan Qilin". Yu Na memberi cincin ruang.
"Terima kasih Dewi. Kalau begitu aku pulang". Qian Qi dan Qilin pulang ke asrama divisi Petarung Bulan.
...
"Uhuk...". Jin Xianyi bangun dari tidurnya.
"Jin. Kok kamu bangun. Harusnya kamu tidur lebih lama".
"Kamu baru tidur satu jam. Kamu harus istirahat biar cepat sembuh. Minum dulu nih". Sun Long membantu Jin Xianyi untuk duduk. Kemudian membantunya untuk minum.
"Apa ini Tuan. Kenapa di leherku ada penyangga?. Aku tidak bisa menggerakkan kepalaku sama sekali".
Jin... Kamu terlalu kurus. Kamu kekurangan gizi. Tanpa penyangga, leher mu bisa patah. Keadaan Jin Xianyi begitu miris. Sun Long tidak mungkin berkata jujur padanya.
"Emm...".
"Ada apa Tuan?". Jin Xianyi mulai khawatir.
"Ka... kamu...".
"Aku? Aku kenapa?". Jin Xianyi semakin khawatir.
"Kamu tidurnya ngorok, kencang sekali. Jadi aku pasang penyangga supaya kamu tidak ngorok dan lebih rileks. Penyangga itu juga bisa memperbaiki tulang leher agar kedepannya tidurmu semakin nyaman dan tidak ngorok lagi".
"Ngo... ngorok...". Jin Xianyi malu setengah mati. Wajahnya merah merona tak kuasa menahan malu, bahkan kali ini telinganya juga ikutan memerah imut sekali.
Sangking malunya Jin Xianyi hendak menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tapi ia baru sadar, ia tidak bisa menggerakkan tangannya sama sekali karena lemas.
"Lemas sekali tanganku, tidak bisa di gerakan". Jin Xianyi mencoba melihat tubuhnya, tapi tidak bisa karena penyangga leher dan seluruh tubuhnya ditutupi selimut.
"Tentu saja masih lemas. Sudah ku bilang kamu baru tidur satu jam. Kamu harus istirahat lagi".
__ADS_1
"Baiklah Tuan Liu Long". Sun Long membantu Jin Xianyi tiduran kembali.
"Tuan...?". Jin Xianyi terkejut. Sun Long tiba-tiba mengelus-elus kepalanya.
"Waktu aku kecil, Ibuku selalu mengelus-elus kepalaku saat aku tidak bisa tidur. Hal ini membuatku lebih tenang. Membuatku merasa aman dan disayangi".
"Mmm...". Belaian lembut Sun Long berhasil membuat Jin Xianyi kembali tertidur.
Sepertinya Jin Xianyi belum bisa makan. Tubuhnya masih terlalu rapuh. Butuh beberapa hari lagi untuk tubuhnya bisa stabil. Sun Long mengganti infus yang disembunyikan di belakang Jin Xianyi.
"Kak... Alat penelitiannya sudah siap". Dodo Fung berbisik dari balik pintu. Setelah mengganti infus, Sun Long menghampiri Dodo Fung untuk meneliti Tubuh Iblis Arca.
...
Keesokan paginya.
"Apa yang harus aku lakukan Qilin? Memperbaiki divisi Petarung Bulan atau mencari point terlebih dahulu?".
"Meow...".
"Point ku sekarang baru 615. Sudah setengah jalan".
"Meow...".
"Kamu benar juga. Meski aku mau mulai memperbaiki divisi Petarung Bulan sekarang, aku tidak tahu harus mulai dari mana. Lebih baik aku fokus dulu mencari point secepat mungkin".
"Meow...". Qilin tersenyum.
"Kalau begitu ayo kita masuk kelas, setelah itu kita jalankan misi".
Sesampainya di kelas.
"Qian Qi kamu sudah kembali?".
"Iya Master Zhang Lio".
"Tepuk tangan untuk Qian Qi".
"Hore...". para murid yang lain bertepuk tangan.
"Terima kasih Qian Qi. Kamu merupakan kebanggaan Unit Pemburu".
"Heee... heee... heee...". Qian Qi tersenyum malu.
"Ehem... meski begitu kamu kembali disaat yang tidak tepat Qian Qi. Karena hari ini kita akan melakukan pelatihan menangani gigitan racun secara langsung".
"...". Seketika seisi kelas diam. Keceriaan yang tadi hadir hilang begitu saja.
"Ayo kita ke lapangan". Qian Qi, Zhang Liao dan murid-murid lainnya pergi ke lapangan.
"Sebagai pemburu kita pasti akan ada di situasi yang buruk. Seperti pribahasa sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Entah seberapa hebatnya kamu. Pasti ada situasi dimana kamu akan tergigit oleh hewan buas. Maka dari itu pelatihan ini dibutuhkan agar kalian tidak panik dan kaget".
__ADS_1
"Kita akan mulai dari yang paling simpel dulu yakni menangani Gigitan Tokek, semprotan sigung, duri landak dan seterusnya sampai terakhir mengatasi gigitan ular Permata. Sebenarnya masih banyak racun yang lebih kuat. Tapi kami tidak bisa membahayakan diri kalian".