
“Pertandingan akan dimulai saat hitungan ketiga. 1… 2… 3…!”.
Guan Ba maju menerjang dengan kekuatan penuh. Ketika sudah dekat dengan Qian Qi, ia mulai mengayunkan tombaknya hendak membelah tubuh Qian Qi. Qian Qi yang melihatnya langsung bergerak mundur mencoba menghindar.
Melihat Qian Qi bergerak mundur, Guan Ba tersenyum licik. Ia sudah menyangka Qian Qi akan bergerak mundur. Guan Ba menusukkan tombaknya ke dalam tanah dan melompat seakan melakukan aksi lompat galah.
Menanggapi gerakan Guan Ba, Qian Qi sudah bersiap melemparkan tombaknya. Quan Ba sigap menyiapkan kakinya untuk menangkis tombak yang akan dilemparkan Qian Qi. Sekarang giliran Qian Qi yang tersenyum licik.
Qian Qi mengubah sasaran lemparnya ke arah tombak Guan Ba. Lemparan tombak Qian Qi menyenggol tombak Guan Ba hingga ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Melihat Guan Ba yang terjatuh tidak siap, membuat Qian Qi sigap menyerang balik.
“Buk…!”. Qian Qi memperkuat kakinya dengan kultivasi petir dan menendang Guan Ba dengan kencang. Guan Ba terpental jauh melewati para pegawai yang kaget hingga menabrak tembok.
Qian Qi segera mengambil kembali tombak Guandao miliknya. Ia menari-nari dengan anggun mengayunkan tombaknya. Ayunan Qian Qi menghasilkan energi petir yang mengalir mengikuti mata tombak.
Energi petir itu semakin lama semakin besar dan mengerikan. Guan Ba mencoba berdiri hendak melawan kembali. Guan Ba melihat sekeliling arena mencari keberadaan Qian Qi yang tiba-tiba menghilang.
“Zzzttt…! Zzzttt…!”. Terdengar aliran energi petir dari atas ruangan. Guan Ba pun melihat ke arah suara tersebut. Alangkah terkejutnya Guan Ba melihat Qian Qi yang melompat mengamuk bersama energi petirnya.
“Amarah Naga Petir!”. Qian Qi mengayunkan tombak. Bersamaan dengan itu petir yang mengamuk berkumpul membentuk naga petir yang bersinar melaju kencang ke arah Guan Ba.
Orang-orang yang menyaksikan teknik Qian Qi dibuat terkejut takjub.
“Jiwa Tombak!”. Guan Ba tidak mau menyerah. Qian Qi yang fokus terhadapnya terlihat lengah. Dengan teknik kultivasinya Guan Ba mengendalikan tombaknya yang terjatuh dan mengarahkannya terbang menusuk Qian Qi.
Qian Qi tersenyum manis. Ia kembali berguling memutar di udara. Seiring Qian Qi berputar naga petir juga ikut berbelok mengikuti mata tombaknya dan menangkis tombak milik Guan Ba. Qian Qi turun kemudian menari kembali membuat naga petirnya semakin besar lagi.
“Jiwa Naga”. Guan Ba berubah menjadi naga. Kekuatan dan kecepatannya meningkat drastis.
“Zzzttt…! Zzzttt…!”. Qian Qi kembali menyerang Guan Ba dengan naga petirnya.
Guan Ba berlari ke samping mencoba menghindari naga petir Qian Qi. Ternyata Qian Qi masih menari membuat naga petir miliknya berbelok dan terus mengejar Guan Ba. Melihat naga yang terus mendekatinya Guan Ba mendapatkan sebuah ide.
__ADS_1
Guan Ba kembali berbelok dan berlari ke arah Qian Qi. Ia ingin menyerang Qian Qi dengan naga petirnya sendiri. Qian Qi masih menari sambil bergerak mundur mencoba menghindar. Melihat gerak-gerik Qian Qi yang bergerak mundur Guan Ba semakin semangat mengejar.
“Amarah Naga Petir!”. Ketika Guan Ba hendak menyerang, tanpa diduga Qian Qi mengeluarkan kembali sebuah Naga petir. Guan Ba yang tadinya unggul kini berbalik diserang oleh naga petir dari kedua sisi.
“Napas Naga”. Guan Ba masih tidak mau menyerah. Ia menyemburkan api ke arah naga-naga petir Qian Qi dan menghancurkannya.
“Kau hebat juga gadis muda. Bersiaplah menghadapi… Kemana tombakmu?”. Guan Ba terlalu fokus menghadapi Naga petir Qian Qi. Hingga ia tidak sadar Qian Qi sudah berhenti menari dan tombaknya menghilang.
Qian Qi menunjuk ke arah tubuh Guan Ba. Guan Ba pun menunduk untuk melihatnya.
“Aaarrrkkk…”. Guan Ba terjatuh. Ternyata tombak Qian Qi sudah menancap di tubuhnya.
Sebelum Guan Ba kehilangan kesadaran Qian Qi segera menarik tombaknya, kemudian meminumkan Pil Pemulih Raga ke Guan Ba. Tidak lama kemudian Guan Ba kembali pulih. Hanya saja energi qinya belum stabil. Tubuhnya jadi setengah kiri manusia dan setengah kanan naga.
Orang-orang yang menyaksikan terdiam membisu melihat kehebatan Qian Qi berhasil mengalahkan Guan Ba. Mereka tidak menyangka ‘Naga Gila’ dapat dikalahkan. Naga Gila merupakan julukan Guan Ba di medan perang. Julukan itu didapat ketika Guan Ba berubah jadi Naga, ia tidak akan bisa dihentikan.
“Apakah aku lulus Tuan?”. Guan Ba yang kaget tidak menanggapi pertanyaan Qian Qi.
“Kapan tombak itu menancap di tubuhku?”.
“Saat Aku mengeluarkan Amarah Naga Petir yang ke dua. Aku memasukkan tombakku ke dalamnya”.
“Aku tidak melihat ke datangannya ketika menghancurkan naga petirmu”.
“Ketika naga petir dihancurkan ia akan meledak menyebarkan kilatan cahaya terang dan saat tombaknya menancap bukan rasa sakit yang dirasakan. Melainkan rasa kesetrum yang melumpuhkan. Hal itu berlangsung sampai daya listriknya menghilang”.
“Serangan naga petir sangat mengerikan. Aku tidak pernah melihat naga petir yang bisa berbelok seperti itu”.
“Itulah gunanya tombak Guandao. Karena bilahnya yang berbentuk bulan sabit, aku dapat menggerakkan naga petir dengan mengalirkan energi listrik pada bilahnya. Tombak Guandao digunakan dengan cara mengayun bukan di tusuk. Jika aku pakai tombak biasa aku tidak akan bisa mengendalikan naga petirku”.
“Jadi apa aku lulus Tuan?”.
__ADS_1
“Tentu saja kamu lulus. Ujiannya untuk menguji, tidak perlu sampai mengalahkanku. Ketika kamu mengeluarkan naga petir yang pertama sebenarnya kamu sudah lulus”.
“Lalu kenapa dilanjutkan?”.
“Hia… hia… hia… aku terbawa suasana dan kena karma”.
“Jadi siapa namamu? Aku akan membuatkan sertifikatnya”.
“Namaku Qian Qi”.
“Qian Qi… Apa kamu anak dari Jendral Qian Tao?”.
“Benar Tuan”.
“Hia… hia… hia… kenapa kamu tidak bilang dari awal. Jika kamu anaknya Jendral Qian Tao, kita tidak perlu bertanding. Bahkan kamu bebas mengambil senjata atau peralatan mana pun yang kamu suka. Gratis…!”.
“Tidak perlu seperti itu Tuan aku akan membayarnya”.
“Ayahmu dan Tetua keluarga kami sangatlah dekat. Mereka berbagi nyawa masing-masing sehidup semati. Tapi sayang sekali… Tetua kami harus gugur”.
“Tetua Guan Pi memang menakjubkan. Ayah menceritakan kehebatan dan saat-saat terakhirnya kepadaku”. Qian Qi berbohong kepada Guan Ba. Karena Sun Fangxin yang menceritakan kisahnya sedang menyamar.
“Maaf karena misi terakhir Ayah, sekte Guan kehilangan Master tingkat 10nya. Tuan Guan Pi belum sempat mewariskan tekniknya”.
“Tidak apa-apa Qian Qi. Itu memang misi dari Kekaisaran. Mungkin itu sudah takdirnya. Sudahlah kita hentikan membahas masa lalunya. Ini sertifikatnya sudah jadi”.
“Terima kasih Tuan”.
“Aku memiliki tombak Guandao tingkat 6 di ruanganku. Aku akan mengambilnya”.
“Tidak perlu Tuan. Aku akan membeli tombak Guandao tingkat 1 saja. Maaf Tuan, aku harus menolak tawarannya. Aku akan masuk ke perguruan Pedang Bulan. Tombak tingkat 6 kemungkinan besar akan merepotkan untukku”.
__ADS_1
“Menggunakan peralatan tingkat 6 tentu saja akan langsung terkenal. Baiklah kalau begitu aku tidak akan memaksa lagi. Silakan pilih senjata dan peralatan yang kamu suka”.