
Sun Long kecil dibawa ke dalam rumah. Ia segera dirawat oleh ibunya yang bernama Liu Shu ditemani oleh Ibunya Qian Qi yang bernama Shen Yue dan Bibi Sun Fangxin. Sun Long tidak tahan dengan rasa sakitnya sehingga ia pingsan di kasur sambil diobati.
Perasaan ini begitu menyakitkan. Rasanya sama seperti saat aku kehilangan ayah. Qian Qi merasakan seluruh perasaan yang dialami Liu Shu.
“Apa salahnya Sun Long? Mengapa dunia begitu kejam padanya”. Liu Shu menangis.
“Melawan ayam saja sampai separah ini. Kita harus benar-benar menjaganya. Jangan biarkan Sun Long pergi keluar tanpa pengawasan lagi”. Shen Yue ikut mengobati bagian kepala Sun Long.
“Maafkan ibu Sun Long. Kesialan ibu menular padamu”.
“Huss… jangan bicara yang aneh-aneh kak. Ucapan Ibu adalah doa. Doakan saja yang terbaik untuk keponakanku ini”.
“Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku tidak bisa menjaganya. Aku bahkan tidak bisa menjaga diriku sendiri”.
“Aku dan Sun Fangxin akan membantu kakak. Kita sudah berbagi cangkir. Kita adalah saudari sehidup semati. Jika aku punya anak perempuan aku berjanji pada langit dan bumi akan menikahkannya dengan Sun Long. Mau tidak mau, aku akan memaksanya. Dengan begitu meski pun aku mati duluan anakku bisa menjaganya”.
“Kamu ini bilang apa sih? Jadi melantur seperti ini. Meski jantungmu lemah aku yakin kamu akan hidup lebih lama dari pada aku. Kamu akan baik-baik saja Shen Yue”.
Ibu… Qian Qi jadi teringat ibunya yang sering sakit-sakitan karena jantungnya lemah.
“Mati kok balap-balapan. Mentang-mentang kalian sudah tua omongannya tentang maut terus. Keponakanku jangan dengarkan kedua nenek peyot ini”.
“Kamu ya berani-beraninya bilang kami nenek peyot. Awas aja…”. Liu Shu tersenyum.
Bibi… Ternyata Bibi sudah hebat sedari gadis.
__ADS_1
“Permisi…! Kalian bertiga kalau sudah ngerumpi ributnya sampai keluar rumah. Aku bisa mendengar suara kalian dari jalan. Kasihan sekali Sun Long dia pasti tidak bisa istirahat”. Seorang pria tampan tiba-tiba masuk ke dalam rumah.
“Sayang, kamu bukannya sedang bertugas?”.
I… itukan ayah… Aku tidak mungkin salah. Seragamnya, alis tebalnya dan tatapannya. Ta… tapi… Sayang? A… apa yang sebenarnya terjadi? Ada hubungan apa di antara Bibi dengan ayah.
***
Tiba-tiba saja Qian Qi terbangun. Jantungnya berdegup kencang.
A… Ayah… Apa yang sebenarnya terjadi? Sial! lagi seru-serunya kenapa aku malah terbangun. Qian Qi kesal.
Mungkin Hubby tahu jawabannya. Hubby… Aku tidak menyangka Hubby kecil sangatlah lemah. Bagaimana bisa dia terluka parah oleh seekor ayam. Aku tidak bisa membayangkan kesulitan hidup yang dihadapinya. Perjuangannya sampai saat ini, tidak mati saja sudah merupakan anugerah untuknya. Qian Qi membalikkan badannya untuk melihat Sun Long.
Qian Qi terkejut karena Sun Long tidak ada di sisinya. Ia segera mencari Sun Long di seluruh kamar dan tidak ketemu juga. Qian Qi memutuskan untuk mencarinya di luar kamar. Langit masih terlihat hitam legam wajar saja sekarang baru jam 1 pagi, tidak ada orang yang terlihat sejauh mata memandang. Hanya ada prajurit-prajurit boneka yang berpatroli menjaga kota.
Samar-samar tercium aroma daging yang sangat enak. Wanginya semerbak harum menyebar ke segala penjuru. Memancing setiap orang yang menciumnya untuk datang memeriksa.
Aroma ini… Mungkin Hubby sedang masak. Lagi pula Hubbykan memang jago masak.
Setelah berjalan mendekati aroma tersebut, terlihat ada beberapa warga kota yang juga penasaran dan berkerumun. Warga kota itu laki-laki semua, wajar saja para wanita biasanya tidak keluar rumah di malam hari, terlalu berbahaya.
Prajurit boneka pun membuka jalan untuk Qian Qi. Alangkah terkejutnya Qian Qi melihat Sun Long, Dodo Fung dan Pang Tong sedang memasak diri mereka sendiri. Mereka bertiga sedang mandi di dalam tungku yang berisi ramuan herbal. Tungku itu pasti sangat panas karena di bakar dengan lahar Dodo Fung.
Terlihat tubuh mereka bertiga mulai melepuh, kulit-kulit mereka terkelupas hanya menyisakan daging yang berwarna merah. Tidak cukup sampai di situ, mereka bertiga juga mengangkat batu yang sangat besar jika mereka tidak kuat menahannya sudah pasti mereka bisa mati.
__ADS_1
“Hubby… Apa yang kalian lakukan? Cepat keluar dari tungku”. Qian Qi panik.
“Sweety? Kami sedang latihan setiap akhir bulan. Membakar diri mengganti kulit lama dengan kulit baru yang lebih kuat. Kami juga menggunakan obat herbal yang membuat otot-otot kami lebih padat”.
“Ini teknik pengeras tubuh Qian Qi. Seperti teknik tubuh besi, tubuh naga dan lainnya. Sun Long harus sering-sering melakukan ini agar tubuhnya tetap kuat”.
“Aaarrrggg…” Dodo Fung terlihat kewalahan. Tubuhnya memang yang paling besar, namun dia terlihat sudah mencapai batasnya.
“Latihan? Kenapa latihannya harus seperti ini? Apa tidak ada latihan yang normal-normal saja? jangan menyiksa diri seperti kalian ini”.
“Kebahagiaan hanya untuk orang yang berani. Haaa…!!!”. Mereka bertiga malah menambah panas tungkunya.
Qian Qi dan para warga hanya bisa terdiam melihat latihan mereka bertiga. Qian Qi bahkan sampai menangis dibuatnya. Tentu saja istri mana yang tidak sedih melihat suaminya dimasak hidup-hidup.
Setelah beberapa jam mereka berendam di tungku mereka pun keluar. Mereka langsung meminum pil pemulih raga dan sembuh kembali. Kulit mereka jadi lebih bersih dan kuat. Aura Dodo Fung dan Pang Tong menggebu-gebu mengamuk. Qian Qi langsung memeluk Sun Long dan menangis di pelukannya.
“Ayo Dodo Fung kita pergi duluan saja. Ayo kalian semua bubar-bubar”. Dodo Fung, Pang Tong dan warga desa membubarkan diri. Hanya tersisa Sun Long dan Qian Qi.
“Sudahlah Sweety aku tidak apa-apa. Lihatlah tubuhku, semakin kuat. Kali ini cubitanmu mungkin tidak mempan lagi”.
“Hubby… Aku baru saja bermimpi buruk. Aku melihatmu sekarat karena diserang ayam. Setelah bangun aku malah melihatmu sedang memasak dirimu sendiri. Aku terlalu takut kehilanganmu”.
“Diserang ayam? kejadian itu sudah lama sekali. Mungkin saat umurku 3 tahun. Bagaimana bisa kamu mengetahuinya?”.
“Aku juga tidak tahu Hubby. Aku bermimpi jadi ibumu. Seperti penglihatan masa lalu tapi dari sudut pandang ibumu”.
__ADS_1
“Hhhmmm… Ibu juga pernah mengatakan bermimpi tentang penglihatan masa lalu. Tapi dari sudut pandang mendiang nenek. Tepatnya jadi permaisuri kaisar sebelumnya. Cincin ini memang turun-temurun digunakan oleh permaisuri utama kekaisaran Sun. Kakek memberikan cincin ini pada ibu dan ibu menggunakannya. Sekarang diwariskan ke kamu. Mungkin cincin ini memiliki kekuatan yang bisa menunjukkan penggunanya, kehidupan pemilik sebelumnya”.