Balas Dendam Keluarga Baru

Balas Dendam Keluarga Baru
Bab 118 - Hati Nurani


__ADS_3

Sun Long, Sun An, Lian Shi, Xin Chuan dan rombongannya pergi ke tempat persembunyian sekte Xin. Kapal tempur Atlas melaju dengan tenang tanpa hambatan sama sekali. Keadaan langit  yang cerah berawan menyembunyikan kapal tempur Atlas dari orang-orang di bawahnya.


Tidak perlu waktu lama kapal tempur Atlas sampai di gua Ular. Mereka langsung turun. Tidak lupa Sun An memasukan kapal tempur Atlas kembali ke cincin ruang khususnya.


“Kakak kembali… Rambut kakak…”. Lian Pu senang melihat kakaknya kembali apa lagi dalam keadaan pulih seperti semula. Tanpa diduga kakaknya kembali begitu cepat. Tidak sampai 24 jam mereka sudah bertemu kembali.


“Paman Xin Sheng…”. Xin Chuan hendak memeluk Xin Sheng.


“Jangan mendekat Xin Chuan. Paman terkena Racun Abadi”.


“Paman…”. Xin Chuan terhenti.


“Lian Shi. Syukurlah kamu selamat”. Jin Xianyi mencoba berdiri.


“Hhhmmm… Aku kira banyak yang selamat ternyata hanya segini”. Sun Long melihat keadaan sekitar.


“Uhuk… Siapa mereka berdua Lian Shi”. Xin Sheng waspada.


“Ini adalah Tuan Liu Long dan ini adalah putrinya Adik Liu An. Mereka berdua orang yang aku ceritakan. Syukurlah Tuan Liu Long dan Adik Liu An bersedia membantu kita”.


“Salam kenal Tuan-tuan dan Nona-nona. Aku Liu An pahlawan cantik yang kebetulan lewat”.


“Salam kenal Tuan Liu Long dan pahlawan cantik Liu An. Aku Jin Xianyi Tuan Putri kekaisaran Jin”.


“Wah… Ada Tuan Putri asli Ayah… Wajah yang cantik, gaun yang berkilau, sifat yang sopan dan tubuh yang sempurna. Semuanya sama seperti yang ada di cerita dongeng. Hanya saja auranya terlalu gelap. Pasti…  pasti Tuan Putri terkena kutukan dari penyihir… Tenang saja Tuan Putri, Liu An ada di sisimu”. Liu An terlihat sangat senang. Seakan-akan ia sedang ada di dalam cerita dari buku dongeng.


“Terima Kasih pahlawan cantik Liu An”.


“Sebagai pertolongan pertama. Silakan nikmati bebek peking dan kambing guling yang kita bawa. Ayah…”. Sun Long mengeluarkan banyak makanan.


“Terima kasih Tuan Liu Long”. Jin Xianyi dan yang lainnya berterima kasih.


“Liu An ikut Ayah sebentar”.


“Baik Ayah…”. Sun Long mengajak Sun An pergi ke depan mulut gua Ular.


“Ada apa Ayah?”.


“Kemarilah nak duduk dulu sebentar”. Sun An menurut.


“Apa Sun An sayang dengan Ayah?”.

__ADS_1


“Tentu saja sayang”.


“Kalau dengan Ibu bagaimana?”.


“Sangat sangat sayang”.


“Kalau dengan Paman Dodo Fung sayang juga?”.


“Sayang”.


“Kalau dengan Bibi Bai Zhe dan Bai Su?”.


“Sangat sayang”.


“Hhhmmm… Kalau dengan sepupu Dodo Yang dan Dodo Ho?”.


“Sangat sangat sayang. Ada apa sih Ayah?”.


“Kalau Ayah dan yang semua orang yang tadi ayah sebutkan meninggal dunia secara bersamaan, sekarang juga. Apa kamu akan sedih?”.


“Tentu saja sedih Ayah…”. Sun An terlihat murung.


“Lalu kalau saat kamu sedang sedih dan berduka. Tiba-tiba ada orang yang datang mengarang cerita sambil tertawa apa kamu akan terhibur?”.


“Tepat sekali… Hal itu yang kamu lakukan kepada mereka. Bercanda boleh, hanya saja di waktu dan di tempat yang tepat. Mereka baru saja kehilangan Ayah, Ibu dan saudara-saudari yang mereka cintai”. Sun An tersentak kaget ia baru paham dengan keadaannya.


“Maafin Sun An Ayah… Sun An jahat”. Sun An melompat memeluk Sun Long.


“Seharusnya Ayah yang minta maaf. Sifat itu milik Ayah. Jangan ikuti semua tingkah laku Ayah. Ikuti yang baik dan buang yang buruk. Nilai keadaan dengan hati nuranimu Sun An”.


“Baiklah Ayah... Ayah temani aku, aku mau minta maaf kepada mereka”.


“Iya Sun An. Pasti Ayah temani”.


Aku harus lebih berhati-hati lagi dalam bersikap. Sun An ternyata mengikuti semua gerak-gerikku dan Sweety. Maafkan aku Sweety, aku telah mengajarkan hal buruk kepada anak kita.



Liu Long ternyata sangat baik. Aku jadi malu sendiri karena telah menguping mereka.  Aku juga minta maaf, aku melakukan hal yang buruk. Apa yang aku lakukan memata-matai orang yang akan menyelamatkan Tuan Putri. Maafkan aku Liu Long, Sun An.


Sun… Sun An? SUN…! Apa aku tidak salah dengar SUN…! Lian Shi mulai berkeringat dingin.

__ADS_1


“Tang…!”. Lian Shi berbalik hendak kabur. Namun tanpa ia sadari di belakangnya ada prajurit boneka yang sudah berdiri mengawasi dirinya. Prajurit boneka dapat menyamar sepenuhnya jika mereka menutup jubahnya.


“Ma… Maafkan aku…”. Lian Shi bersujud.


“Lian Shi kemarilah…”. Lian Shi mendatangi Sun Long dengan ketakutan.


“Liu An kamu tunggu dulu di depan pintu. Ayah mau bicara dengan Lian Shi”.


“Baik Ayah”.


“Kakak Lian Shi, Liu An minta maaf”. Sun An tiba-tiba memeluk kaki Lian Shi.


“I… Ia Liu An kakak maafin. Tidak apa-apa… Wajar saja kamukan masih kecil”.


“Terima Kasih Kak…”. Sun An melepaskan pelukannya dan pergi menunggu di depan pintu.


“Maafkan aku Tuan Liu Long. Aku menguping percakapanmu”. Lian Shi bersujud.


“Kalau kamu menguping, kamu pasti mendengar nama Liu An yang sebenarnya”.


“I… Iya Tuan, saya mendengarnya”.


“Namaku Sun Long dan anakku Sun An. Kami memang memiliki nama Sun. Tapi kami juga musuh dari kekaisaran Sun. Aku datang ke kekaisaran Jin untuk mencari sesuatu yang bisa membantuku menghancurkan kekaisaran Sun”.


“Selama kamu diam mengenai identitas kami. Kami akan membantu Tuan Putrimu. Sebaliknya jika kamu membocorkan rahasia kami. Aku akan membunuh kalian semua. Aku tidak membunuhmu karena Sun An ingin menyelamatkan kalian. Jangan paksa aku. Jaga rahasia ini sampai akhir hayatmu”.


“Ba… Baik Tuan Liu Long”.


Sial..!!! Aku menyesal telah menguping mereka. Kalau saja waktu bisa diputar. Tiba-tiba saja aku mendapatkan rahasia besar yang harus aku jaga sampai mati. Tapi selama Liu Long dan Liu An menyelamatkan Jin Xianyi aku akan menutup mulutku rapat-rapat.


“Kalau begitu ayo kita kembali”. Sun Long dan Lian Shi kembali.


“Ma… Maaf… Ma… Maaf”. Sun An sedang latihan meminta maaf di depan pintu.


“Liu An. Kamu tidak boleh latihan meminta maaf. Meminta maaf harus dilakukan melalui hati, bukan akal. Kalau kamu menghafalnya minta maafmu jadi palsu, tidak tulus. Utarakan saja semua isi hatimu. Memang menakutkan dan menyakitkan. Tapi itu adalah bayaran dari kesalahan yang kamu perbuat”.


“Baik Ayah…”.


“Ayo pegangan tangan. Biar kamu lebih tenang”. Sun Long dan Sun An bergandengan tangan.


Tuan Liu Long... Cara mengajar Tuan Liu Long begitu unik. Beliau begitu bijaksana. Mengajarkan bukan memarahi anaknya ketika berbuat kesalahan. Aku jadi ingin memiliki Ayah seperti Tuan Liu Long. Lian Shi terpukau.

__ADS_1


Apa yang aku pikirkan bodoh sekali. Aku dan Sun Long sepertinya seumuran. Bagaimana bisa aku ingin dia jadi Ayahku. Ayah tampan, berotot, cerdas dan bijaksana. Ayah yang sangat sempurna… Lian Shi apa yang kamu katakan?. Wajah Lian Shi memerah.


__ADS_2